Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Wadah Bibit



"Trey..." Gwen mencoba membangunkan Trevor tapi bukannya bangun, lelaki itu justru menarik Gwen ke pelukannya dan membawanya bergelung di atas ranjang lagi.


"Aku suka aromamu, Gwen." Trevor menciumi tubuh Gwen seperti biasanya.


"Padahal aku bau asap dapur, indera penciumanmu memang bermasalah!" Gwen menggelengkan kepalanya.


"Kau memasak lagi?" tanya Trevor memastikan.


"Hm, aku suka melakukannya. Sekarang bangun dan mandilah!" Gwen mengecup bibir Trevor sekilas karena dia ingin turun dari ranjang dan kembali ke dapur utama.


Trevor yang tidak terima mengubah posisinya menjadi menindih Gwen. "Jangan lakukan dengan setengah-setengah!"


Trevor kemudian mencium Gwen cukup lama sampai bibir Gwen bengkak baru dia melepasnya.


"Kau memang menyebalkan, Trey." Gwen memukul dada Trevor dengan nafas tersengal.


"Makanya jangan menggodaku. Apa tamunya sudah pergi?" tanya Trevor kemudian.


"Paling tidak seminggu, jadi tamunya tidak akan pergi dengan cepat!" ketus Gwen karena Trevor hanya memikirkan masalah ranjang. "Aku harus kembali ke dapur, Trey."


"Apa Erik ada di sana?" tanya Trevor yang masih kesal karena kalah bertarung dari Erik.


"Tentu saja, kenapa?" tanya Gwen balik.


Kemudian Trevor menceritakan tentang pertarungannya dengan Erik pada Gwen.


"Trey, bisakah kita membantunya jangan setengah-setengah?" pinta Gwen supaya Trevor memikirkan cara supaya Erik terbebas dari perjanjian itu.


*****


Siang hari, Neil, Dozer dan Zack kembali ke markas utama. Mereka segera mencari Trevor karena mereka akan merancang misi mereka di Hongkong.


Mereka tidak akan terlalu membawa banyak tim, hanya tim inti saja. Mereka tidak mau kelihatan mencolok dan dicurigai oleh polisi.


"Apa kita perlu menyamar?" tanya Zack kemudian.


Saat ini mereka sedang berada di ruangan pribadi Trevor.


"Kita hanya perlu berpenampilan seperti billionaire untuk membaur," jawab Trevor dengan menyesap rokoknya.


Tak lama Erik ikut bergabung bersama mereka.


"Erik akan menjadi poin penting! Dia akan berperan besar saat di Macau nanti!" tambah Trevor.


"Kita akan merampok di Hongkong dan menggandakan uangnya di Macau!" jelas Neil sambil memberikan kotak rokok pada Erik.


"Aku tidak merokok!" tolak Erik sopan.


Dozer tergelak. "Apa yang kau lakukan, Neil? Pria bangsawan itu hidupnya suci!" sindirnya.


Mendengar itu, Trevor jadi teringat kata-kata Gwen tadi pagi.


"Kalian pergilah dan siapkan semuanya untuk keberangkatan kita!" perintah Trevor yang ingin bicara berdua saja dengan Erik.


Setelah kepergian anak buah intinya. Trevor mengambil sebotol wine dan menuangkan isinya pada dua gelas kosong.


"Jangan bilang kau tidak bisa minum," ucap Trevor memberikan satu gelas pada Erik.


Erik menerima gelas itu dan meminumnya sedikit. "Bagaimana rasanya hidup di dunia gelap?"


"Aku sudah terbiasa sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat kekerasan dan darah. Jadi, hidupku tidak menarik sebelum ada Gwen!" jawab Trevor jujur.


"Setidaknya kau akan menjaga Gwen bukan? Berjanjilah padaku!" pinta Erik yang ingin bertindak sebagai seorang kakak.


"Mengenai itu, aku akan melamar Gwen dan menikahinya!" sahut Trevor menjadi emosional sekarang. Dia meneguk semua wine di gelasnya.


"Semoga kalian berbahagia," ucap Erik tulus. Setidaknya sebelum dia mati, adiknya berada di tangan yang tepat.


Trevor terdiam sejenak memikirkan solusi untuk masalah Erik. "Bagaimana kalau kau melepas masa perjakamu?"


"Buh!" Erik yang minum langsung menyemburkan minuman dari mulutnya. "A-apa?"


"Persembahan itu gagal karena Gwen sudah tidak suci lagi, bukan? Bagaimana kalau kau yang tidak suci?"


"Kalau pun kau mati setidaknya kau sudah menanam bibitmu untuk penerusmu nanti!"


Erik memikirkan perkataan Trevor, sepertinya ada benarnya juga. Tapi siapa yang mau jadi wadah bibitnya?


"Ibumu pasti punya banyak calon perempuan darah biru, bukan?" tanya Trevor lagi.


Erik menggeleng. "Aku tidak mau dengan mereka! Sepertinya aku punya calon wadah bibitku!"


"Siapa?"


"Gadis yang berani mencuri ciuman dariku, aku harus minta tanggung jawab padanya!"