Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Lamaran ala Boss Mafia



Trevor membuka salah satu tas yang sudah berada di dalam mobilnya. Dia tersenyum puas karena tas itu penuh dengan uang cash, ada puluhan tas berisi uang serupa yang berhasil kelompoknya ambil.


Tiba-tiba terdengar sirene polisi yang membuat Trevor dan yang lainnya masuk ke dalam mobil.


"Sial! Pasti kelompok Jeremy yang melaporkan pada polisi!" rutuk Trevor dengan memukul setir kemudi.


Trevor memerintahkan timnya untuk segera pergi dari tempat itu.


"Akhirnya hal ini terjadi juga!" Maudy justru tampak kesenangan. Dia langsung mengambil alih setir kemudi. "Biar aku saja, Tuan Bangsawan!"


"Kau yakin?" tanya Erik cemas.


"Sangat yakin, kau ingat bagian yang aku sukai, 'kan?"


"Yah, dikejar polisi!"


Erik memutar bola matanya jengah tapi jujur adrenalinnya terpacu sekarang. Apalagi saat Maudy mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan menyalip setiap mobil di depan mereka.


"Sepertinya ada polisi mendekat!" Erik mengamati mobil polisi yang berada di belakang mereka.


Maudy melirik mobil polisi itu dari kaca spion. Rupanya bukan hanya di belakang saja, di depan juga ada.


Untuk itu, Maudy mengeluarkan senjatanya.


"Ambil alih, Tuan Bangsawan!" Maudy menghentikan mobilnya dan berhenti di tengah jalan.


Maudy keluar dari mobil yang membuat Erik langsung mengambil alih setir kemudi kembali.


"Apa yang kau lakukan!?" teriak Erik dari dalam mobil.


Tapi Maudy menuli, dia membidik mobil polisi yang mendekat dan menembaki bannya. Setelah itu Maudy berbalik dan menembaki mobil satunya lagi.


"Astaga!" Erik segera meminta Maudy masuk lagi. Para polisi yang mobilnya oleng segera keluar dari mobil mereka. "Ayo cepat, Maudy!"


Jalanan menjadi macet yang membuat Erik bingungn harus lewat mana.


"Tabrak saja, Tuan Bangsawan!" perintah Maudy tidak sabaran karena mereka di kepung polisi.


"Apa!? Ta--tapi..."


"Jangan banyak berpikir!"


Erik menginjak pedal gas dan mencoba melewati para polisi yang menghadang mereka. Erik memejamkan matanya tapi para polisi itu justru menyingkir karena takut ditabrak oleh Erik.


"Aku berhasil!" teriak Erik saat berhasil kabur.


"Apa aku bilang, menyenangkan bukan?" Maudy kesenangan.


Erik dan Maudy menuju bandara di mana yang lain sudah menunggu mereka, untuk penjahat kelas kakap kabur dari polisi sangatlah mudah, mereka mempunyai seribu satu cara.


"Kalian memang gila!" Erik menyeka keringatnya.


Semua tergelak melihat tuan bangsawan yang kewalahan, ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan untuk Erik.


"Kalian harus cepat membawa uang-uang ini pergi!" perintah Trevor.


"Aku ada urusan dengan Gwen jadi kami akan kembali dipenerbangan selanjutnya!"


Trevor segera membawa Gwen pergi dari sana. Lelaki itu mencoba menghubungi seorang teknisi yang dia sudah bayar mahal untuk melakukan tugas yang dia berikan.


"Kita mau ke mana, Trey?" tanya Gwen penasaran.


"Nanti kau juga akan tahu, setelah ini kau harus tergila-gila padaku, Gwen. Aku sudah melepaskan semua egoku!" sahut Trevor yang matanya fokus ke jalanan. Dia sudah berganti mobil lagi karena mobil sebelumnya dikenali polisi, tentunya dengan mobil curian.


Untuk Trevor yang sebelumnya tidak mau menikah dan menjalin hubungan serius, melamar Gwen adalah keputusan besar yang diambil olehnya. Lelaki itu benar-benar menurunkan egonya hingga titik dasar.


Trevor membawa Gwen ke pusat kota, mereka keluar dari mobil dan membaur dengan turis lain.


Mereka bergandengan tangan dan Trevor meminta Gwen untuk melihat gedung paling tinggi yang ada di sana.


"Kenapa?" tanya Gwen bingung.


"Lihat saja! Sebentar lagi, kau akan tahu!" Trevor memeluk Gwen dari belakang.


Gedung itu sudah dilengkapi oleh layar LED di setiap dinding kacanya, gedung itu tampak berwarna-warni mengeluarkan tampilan dari layar LED tersebut.


Sampai layar itu kemudian menampilkan kalimat yang Trevor telah perintahkan pada teknisi gedung.


Will you marry me?


Mata Gwen membulat melihat kalimat yang tertera, dia tambah tidak percaya saat Trevor memasangkan sebuah cincin di jari manis tangan kanannya.


"Trey..."


"Ini adalah cincin satu-satunya yang ada di dunia karena aku yang menggambar design nya sendiri!"


Gwen melihat cincin berlian di jari manisnya, dia tersenyum haru karena liontin cincin itu berbentuk seperti stroberi.


"Kenapa harus stroberi?" tanya Gwen kemudian.


"Karena bibirmu manis-manis masam seperti stroberi!" jawab Trevor yang mendapat pukulan dari sikut Gwen.


Trevor semakin mengeratkan pelukannya. "Jadi Gwen, apa kau siap untuk aku hamili?"