
"Aku bisa sendiri," tolak Gwen saat para pelayan istana ingin memandikan dirinya.
Gwen berendam di bath up yang bentuknya bundar dan mewah berbeda dengan bath up yang sering dia pakai di markas atau apartemen Trevor.
Ah, Gwen jadi mengingat Trevor. Dia teringat wajah pucat Trevor saat di rumah sakit.
"Trey..." lirih Gwen memanggil Trevor. Seharusnya dia senang bisa berkumpul dengan keluarganya tapi entah kenapa Gwen justru merasa tidak nyaman dengan mereka.
Selesai mandi, Gwen memakai baju yang disediakan pelayan. Sebenarnya Gwen tidak nyaman memakai baju ala Sultan begitu tapi demi menghargai orang tuanya, Gwen tetap memakainya.
"Apa Nona mau jalan-jalan keliling istana?" tanya salah satu pelayan.
Gwen setuju, dia berjalan ditemani oleh pelayan berkeliling istana yang luas itu. Sampai pelayan menunjukkan Gwen taman yang indah di sana terdapat berbagai jenis bunga langka.
Tapi Gwen tidak tertarik, dia sudah terbiasa hidup keras di markas Trevor.
"Aku tidak tertarik," ucap Gwen menolak.
Tiba-tiba ada suara pria yang menawarkan sesuatu pada Gwen.
"Kalau berkuda bagaimana? Apa kau tertarik?" tanyanya.
Para pelayan yang menemani Gwen langsung tunduk hormat.
"Tuan muda Erik," seru mereka.
Gwen mengerutkan dahinya melihat pria yang disebut tuan muda Erik itu, mata Gwen membulat melihat pria yang sangat tampan bahkan lebih tampan daripada Trevor.
"Hai Gwen, aku kakakmu," ucap Erik memperkenalkan dirinya.
*****
Disisi lain, Aland kembali ke mansionnya dan mengusir Carol dari sana. Lelaki itu merasa tidak membutuhkan Carol lagi.
"Bajingan kau, Aland!" teriak Carol saat kopernya di lempar keluar mansion.
"Kau sudah tidak berguna! Permainanmu juga membosankan!" ketus Aland dengan menutup pintu utama mansion. Dia sudah tidak peduli lagi pada Carol.
Dan itulah sebenarnya misi yang dijalankan oleh Ruby, dia menerima perintah dari Noah supaya menjadi mata-mata di kubu Aland. Ruby terpaksa berpura-pura berkhianat pada Trevor supaya Aland percaya kalau dia setia.
Ruby sudah sumpah setia setelah hidupnya diselamatkan oleh Noah, walaupun dia sakit hati pada Trevor dan tidak menyukai Gwen, dia akan menjalankan semua perintah Noah tanpa protes.
Malam ini, Ruby akan mencoba menggoda Aland. Ruby memakai lingerie seksi yang dia tutupi dengan jubah. Ruby membawa wine mahal ke kamar Aland.
"Bos, aku membawakanmu wine langka. Kita rayakan keberhasilanmu!" ucap Ruby dengan duduk di samping Aland dan menuangkan wine itu pada dua gelas kosong yang ada di atas meja.
Ruby sengaja menyilangkan kedua kakinya supaya paha mulusnya terlihat dan Aland tertarik padanya.
Berhasil, tangan besar Aland mengelus paha Ruby yang membuat gadis itu merinding. Tapi Ruby bersikap senormal mungkin.
"Semua berkat kau Ruby." Aland meraih dagu Ruby kemudian menciumnya.
Ruby memejamkan matanya sambil menangis dalam hatinya karena ciuman itu adalah ciuman pertamanya.
"Kita harus merayakannya bersama," ucap Ruby memberanikan diri membuka jubahnya. Dia tidak mau melakukannya setengah-setengah, dia harus mendapatkan semua informasi yang diperlukan.
Mata nakal Aland langsung jelalatan melihat tubuh Ruby yang terbalut lingerie.
Tanpa mau menunggu lama, Aland menyerang Ruby yang sudah pasrah.
"Ruby, kau masih virgin?" tanya Aland saat akan melakukan penyatuan karena dia begitu kesulitan.
"Iya dan aku ingin memberikannya padamu, Bos," sahut Ruby berusaha tersenyum padahal dalam hatinya menjerit, dia ingin memberikan itu pada Trevor. Tidak apa-apa, Ruby mungkin memberikannya dengan arti kata lain. Menukarnya dengan informasi yang akan dia berikan pada Trevor.
"Jangan panggil aku Bos. Kau bisa memanggil namaku," ucap Aland yang merasa mendapat jackpot.
Air mata Ruby menetes saat sesuatu yang dia jaga telah hilang. Buru-buru Ruby menguasai dirinya, disaat Aland menghujamnya, Ruby melontarkan pertanyaannya pada Aland.
Ruby tidak mau membuat Aland mabuk karena orang mabuk tidak bisa dipercaya. Dia ingin mendengar semua dalam keadaan Aland yang sadar.
"Jika kau tidak menjawab lebih baik kita akhiri saja permainan kita," ucap Ruby dengan terengah-engah.
"Baiklah, kau sudah membuktikan kesetiaanmu padaku. Jadi dengarkan kataku baik-baik!" Aland berbicara sambil terus bergerak di atas tubuh Ruby.