Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Malam Perpisahan



Sementara pengantin baru lainnya, menghabiskan waktu mereka dengan terus bermesraan sepanjang hari.


"Kita akan berkuda?" tanya Maudy saat Erik membawanya ke kandang kuda.


"Ya, kita akan berkeliling istana," jawab Erik yang sudah naik ke kuda kesayangannya.


Erik merentangkan satu tangannya supaya Maudy naik dan duduk di depannya.


Saat Maudy sudah duduk di atas kuda, Erik menarik tali kekang kuda dan membawa Maudy berkeliling istana dan menunjukkan tempat-tempat penting di istananya.


"Kau harus mengingat semua tempat dan juga membiasakan diri tinggal di sini," ucap Erik kemudian.


Maudy hanya tertunduk karena seakan Erik mengucapkan kata perpisahan padanya, suaminya sudah mempersiapkan semuanya sebelum dia pergi.


"Jangan pergi!" lirih Maudy yang pertahanannya akan runtuh juga.


Maudy meneteskan air matanya dan Erik memeluknya dari belakang.


"Kau tahu istriku, aku selama ini tidak pernah membuat permohonan saat aku ulang tahun. Tapi tahun ini aku akan membuat permohonan," ucap Erik dengan mengecup puncak kepala istrinya. "Aku akan meminta supaya kau hidup bahagia bersama anak kita!"


Maudy semakin menangis mendengar itu, bagaimana mungkin dia bahagia kalau tidak ada Erik di sampingnya.


"Seandainya kehidupan kedua itu memang ada, aku ingin kau ada di sampingku dan membesarkan anak kita bersama-sama," ucap Maudy terisak.


*****


Malam ini, malam terakhir Maudy bisa melihat suaminya karena tengah malam nanti Erik akan genap berusia tiga puluh tahun.


Erik berpamitan dengan Isabel sebelum menghabiskan malam dengan Maudy.


"Tolong jaga istriku, Bu. Kalaupun Maudy tidak mengandung anakku, biarkan dia tetap tinggal di sini," pinta Erik yang diangguki oleh Isabel.


Isabel hanya bisa menangis melepas kepergian Erik.


Di dalam kamar, hal serupa dilakukan oleh Maudy. Gadis itu menangis tersedu-sedu karena setelah ini tidak akan ada lagi Erik di sampingnya.


"Istriku..." panggil Erik saat masuk kamar.


Maudy segera menyeka air matanya, dia sudah berjanji untuk tidak menangis saat melepas kepergian Erik.


Maudy menerima uluran tangan itu, mereka berjalan menuju tempat ritual. Erik tidak mau kepergiannya ada yang tahu termasuk Maudy.


Saat sampai di pintu tempat ritual, Erik menghentikan langkahnya.


Erik mengusap wajah Maudy dengan mata berkaca-kaca. "Aku mencintaimu, istriku! Mengenalmu adalah hal paling membahagiakan dalam hidupku!"


Hanya kalimat itu yang ingin Erik ucapkan untuk istrinya, dia yakin Maudy adalah wanita yang kuat.


Sementara Maudy hanya bisa menganggukkan kepala karena menahan tangisnya. Dia hanya bisa memeluk Erik untuk terakhir kalinya.


Erik mencium bibir Maudy sejenak sebelum masuk ke tempat ritual.


Saat pintu tertutup, disaat itulah tangisan Maudy pecah.


Maudy menangis dengan terduduk di lantai, tangannya menggedor-gedor pintu tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.


Cukup lama Maudy seperti itu sampai membuat pelayan istana merasa iba.


"Nyonya, ayo kita kembali ke kamar!"


Pelayan itu memakaikan kain di tubuh Maudy supaya tidak kedinginan.


Awalnya Maudy menolak tapi mengingat janjinya pada Erik akhirnya dia menurut dan pergi dari tempat itu.


Atas perintah dari Isabel, pelayan memasukkan obat tidur pada Maudy supaya gadis itu bisa tidur. Karena kesehatan Maudy sangat penting, kalau memang proses pembibitan berhasil, Maudy harus hidup sehat dan teratur.


Walaupun terpengaruh obat tidur tetap saja tidur Maudy begitu gelisah.


"Suamiku..." Maudy terus merintih memanggil suaminya.


Sampai dia merasakan ada tangan kekar yang mengusap keringat di pelipisnya.


Perlahan Maudy membuka mata, samar-samar dia melihat Erik yang berada di atas tubuhnya.


"Apa kau hantu?" tanya Maudy setengah sadar. "Aku rela di nana nini nunu hantu jelmaan suamiku!"