
Trevor melepas kancing piyama Gwen karena ingin melihat bekas memar yang dia buat. Rasa bersalah itu kembali muncul karena biasanya kulit yang mulus dan putih itu tampak mengenaskan sekarang.
Trevor mendekap Gwen ke pelukannya sambil menciumi puncak kepala gadis itu. Dia berjanji tidak akan menyakiti Gwen lagi walaupun sekarang Trevor marah karena berita Gwen dan Peter yang semakin memanas.
Sementara Gwen sendiri merasa kalau malam ini Trevor bersikap lembut padanya padahal dia sudah takut duluan kalau Trevor akan marah seperti yang sudah-sudah.
"Trey..." panggil Gwen yang masih berada dipelukan raga kekar itu.
"Hm," Trevor mengeratkan pelukannya. Dia suka saat Gwen memanggil namanya.
"Bukankah aku punya hutang padamu?" tanya Gwen kemudian.
Trevor mengingat-ngingat hutang apa itu sampai dia teringat momen mereka di kapal pesiar yang gagal.
"Kau mau berdansa denganku, Gwen?" tanya Trevor memastikan.
"Asal jangan kasar lagi padaku," jawab Gwen yang mulai luluh.
"Akan aku usahakan asal berjanjilah jangan menyakiti dirimu sendiri atau berniat ingin bunuh diri lagi," ucap Trevor menuntut.
"Bagaimana kalau kita berdansa di balkon?" usul Gwen dengan melepaskan diri dari Trevor dan berlari menuju balkon. Gwen memeriksa apakah malam ini bulan purnama, dia ingin berdansa di bawah bulan purnama seperti dongeng yang dia baca.
"Apa yang kau cari?" tegur Trevor yang menyusul Gwen di balkon dan memeluk gadis itu dari belakang.
"Sepertinya malam ini tidak ada bulan dan bintang," ucap Gwen.
"Kenapa cari bulan dan bintang kalau ada kau di sini." Trevor membalik tubuh Gwen supaya mereka bisa bertatapan. Trevor membelai wajah Gwen. "Kau sudah seperti bulan dan bintang bagiku!"
Trevor memicingkan matanya, dia sebenarnya juga tidak tahu dapat dari mana kata-kata itu. Tiba-tiba keluar saja dari mulutnya.
"Bisakah kau redam amarahmu untuk kali ini? Aku hanya tidak biasa mendengar kau bicara manis seperti itu," ucap Gwen dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Trevor. "Pegang pinggangku, aku akan mengajarimu berdansa!"
"Kau bisa berdansa?" tanya Trevor mulai curiga Gwen sering berdansa dengan pria lain.
"Dulu saat sekolah, aku sempat ikut teater jadi aku berlatih dansa dengan teman-temanku sebelum akhirnya mereka menjauhiku," jawab Gwen tertunduk mengingat masa lalunya. "Karena wajahku yang cacat!"
Trevor memegang pinggang Gwen dan mulai bergerak, dia ingin lebih banyak mendengar cerita Gwen sebelum bertemu dengannya.
"Setiap malam sebelum tidur, aku selalu menatap langit dari jendela kamarku di loteng. Aku selalu berdoa suatu hari ada seorang pangeran akan menyelamatkanku seperti cerita Rapunzel," ucap Gwen dengan menatap Trevor. "Tapi ternyata aku diselamatkan oleh seorang bos mafia, sungguh diluar ekspektasiku!"
"Apalagi sekarang aku hanya sebagai teman ranjangnya yang harus siap melayani jika bos mafia itu berhasrat padaku!"
Gwen langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangannya, dia sepertinya salah bicara dan takut Trevor akan marah padanya. Gwen memundurkan badannya untuk melakukan perlindungan diri.
Melihat respon Gwen yang seperti itu membuat Trevor jadi miris pasti gadis itu sangat takut padanya.
Trevor menarik tangan Gwen supaya tidak menjauhinya.
"Trey, maafkan aku. Aku asal bicara. Kau adalah penyelamatku, kau yang..." kalimat Gwen menggantung karena Trevor menciumnya dengan lembut. Bukan ciuman yang penuh gairah seperti sebelumnya.
"Gwen, aku tidak akan menidurimu lagi sebelum kau membuka hatimu untukku. Jadi, belajarlah menyukaiku dan tergila-gila lah padaku!" ucap Trevor setelah melepas ciumannya, perkataan yang penuh dengan tuntutan.