Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Keputusan Berat



Gwen berada di rumah sakit menunggu Juvel yang tengah diperiksa dokter. Sebenarnya hal ini bukan untuk pertama kalinya, dulu saat masih bayi dan belajar berjalan, si kembar sering terjatuh.


Saat yang jatuh Juvel yang merasa kesakitan adalah Jullian dan sebaliknya jika Jullian yang jatuh, Juvel yang merasa sakit.


Trevor sudah membujuk Gwen untuk memisahkan si kembar tapi Gwen tetap kekeh tidak mau. Tapi sekarang saat si kembar sudah mulai besar, ikatan batin itu terasa semakin kuat dan berbahaya.


"Trey, cepatlah pulang!" batin Gwen yang ingin berbagi dengan suaminya.


Sementara Jullian merasa cemas akan kondisi Juvel, dia jadi merasa bersalah dengan adiknya. Beruntung engsel yang bergeser tidak parah, jadi Juvel tidak perlu memasang pen di tulangnya. Tangan Juvel hanya perlu diperban sampai nanti sembuh dengan sendirinya.


[Ini dari pengalaman anak author yang engselnya pernah geser ya]


"Kau tidak apa-apa?" tanya Jullian perhatian.


Juvel mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Jullian, ini semua karena saudara laki-lakinya itu.


Tanpa Juvel duga, Jullian memeluk dirinya yang membuat perawat yang melihat itu merasa kelucuan dengan tingkah kedua anak kembar itu.


Begitu pun dengan Gwen yang melihatnya, kadang mereka nakal kadang juga so sweet.


"Ayo kita pulang!" ajak Gwen pada kedua anaknya. Kali ini Gwen membawa si kembar pulang ke mansion.


*****


Di mansion, seorang lelaki tengah duduk santai menanti kedatangan istri dan kedua anaknya. Akhirnya setelah melakukan misinya, Trevor bisa bertemu dengan orang-orang yang dia cintai.


Trevor baru saja membersihkan diri supaya tampak segar saat menyambut Gwen dan si kembar.


"Daddy..." teriak si kembar saat melihat Trevor berada di mansion.


Jullian berlari dan memeluk sang daddy yang sudah beberapa bulan ini tidak dilihatnya.


Trevor mencium anak laki-lakinya tapi atensinya teralihkan saat melihat Juvel yang tangannya diperban.


"What happen?" Trevor menurunkan Jullian dari gendongannya dan beralih menggendong Juvel. "Katakan pada daddy!"


Jullian yang ketakutan berlari menuju kamarnya yang membuat Trevor curiga.


"Apa ini ulah Jullian?" tanya Trevor pada putrinya.


"Jullian sangat menyebalkan, Dad. Tapi daddy jangan menghukumnya, okay," bujuk Juvel yang kasihan dengan Jullian jika dihukum.


Trevor tidak menanggapi tapi dia menatap Gwen yang berlalu masuk ke kamar.


"Daddy tidak akan menghukum Jullian sekarang istirahatlah ke kamar, daddy ingin berbicara dengan mommy." Trevor menggendong Juvel menuju kamarnya kemudian meminta putrinya untuk istirahat.


Setelah itu, Trevor mendatangi Gwen di kamar. Rupanya Gwen tengah menangis, Gwen begitu emosional hari ini. Dia ingin melampiaskan semuanya dengan tangisan.


"Sayang..." Trevor ikut naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya. "Maafkan aku!"


"Aku harus menjadi tahanan di penjara Rusia beberapa bulan ini, aku sedang mencari sekutu untuk memperkuat klan mafia kita. Dan orang itu berada di tahanan Rusia karena dia ingin menyendiri, bukankah itu gila?"


Gwen memukul dada suaminya. "Anak-anak kita jauh lebih penting dari pada itu semua, Trey! Kau tidak akan tahu apa yang mereka lakukan hari ini!" keluhnya.


"Tanpa kau jelaskan, aku sudah tahu apa yang terjadi. Jadi, kita harus meminimalisir keadaan, sapa tahu dengan mereka berjauhan akan mengurangi keanehan itu!" ucap Trevor kemudian.


Gwen kali ini tidak mau keras kepala lagi, Gwen berbesar hati memisahkan Jullian dan Juvel.


"Baiklah, kita antar Jullian ke Pulau Biru!"