Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Peredam Suara



Trevor dan Gwen masih bermain dengan indera pengecap mereka. Ciuman itu semakin dalam dan menuntut, tangan besar Trevor mulai meraba buah dada Gwen dan meremasnya yang membuat gadis itu menggeliat.


Trevor melepas ciumannya kemudian menatap Gwen, dia meraih tangan gadis itu dan menciumnya.


"Aku tahu kondisi kita masih penuh luka tapi aku menginginkanmu, Gwen," ucap Trevor dengan maksud meminta izin untuk bercinta.


Gwen memalingkan wajahnya karena malu, jantungnya semakin berdebar dia bingung harus menjawab apa tapi karena Gwen sudah berjanji untuk mengabdi pada lelaki itu akhirnya Gwen menganggukkan kepalanya.


"Aku bisa bermain cepat dan kita bisa istirahat setelahnya," ucap Trevor lagi dengan mengangkat tubuh Gwen untuk duduk di atas perutnya sementara Trevor sendiri juga duduk dan berhadapan dengan gadisnya.


Keduanya saling bertatapan dengan debaran jantung yang semakin berpacu cepat.


"Ya ampun, dia mau mengajariku gaya apa lagi?" Gwen bergumam dalam hatinya saat Trevor melucuti bajunya, kalau biasanya Trevor main robek baju tapi sekarang lelaki itu sangat lembut yang membuat Gwen jadi terbawa suasana.


Trevor kembali mencium Gwen yang membuat gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Trevor. Disaat itu, Trevor bersiap membidik sasarannya yang membuat Gwen langsung melepas ciumannya dan membusungkan dada. Trevor tidak melepas kesempatan itu, dia langsung menyambar kedua bukit yang menantang di depannya.


"Ugh! Trey..." Gwen mengejang padahal Trevor belum bergerak sama sekali.


Sampai Gwen merasakan kedua tangan Trevor berada dipinggangnya seolah memberi kode untuk bergerak.


"Kau yang memimpin Gwen, aku akan menyerahkan tubuhku ini padamu!" Trevor berbicara dengan sangat percaya diri yang membuat Gwen kebingungan sendiri.


"A--aku harus bergerak bagaimana?" tanya Gwen memastikan supaya dia tidak salah bergerak.


"Astaga, hanya perlu naik turun seperti yang biasa aku lakukan," ucap Trevor begitu sabar kali ini mengajari muridnya yang sudah beberapa kali bercinta tapi masih bingung caranya.


Akhirnya Trevor sedikit membantu dengan menaik turunkan pinggul Gwen yang membuat gadis itu mengangakan mulut dan mengeluarkan suara desahaan yang membuat Trevor bangga, anak didiknya mulai pintar karena setelah itu Gwen bergerak sendiri memuaskan dirinya.


Dan di kamar lain, Noah dan Violet juga melakukan hal yang sama. Setelah berhasil melakukan misi pasti gairah begitu menggebu-gebu.


*****


Para pelayan yang ada di rumah utama sudah selesai memasak. Neil, Dozer dan Zack keluar duluan dari kamar mereka karena kelaparan.


"Aku akan memanggil bos Noah," timpal Dozer yang mengikuti langkah kaki Neil.


Keduanya menuju ke lantai dua di mana kamar bos mereka berada tapi saat mereka sampai, mereka hanya bisa menelan ludah karena mendengar suara-suara percintaan dari dua kamar yang berbeda.


"Bukankah mereka terluka?" tanya Dozer memastikan jika suara yang dia dengar nyata.


"Yah begitulah, ayah dan anak sama saja!" Neil memutar badannya untuk kembali ke lantai bawah kalau dia mengganggu aktivitas intim itu pasti besok dia akan tinggal nama.


"Neil, kenapa rumah ini tidak ada peredam suaranya?" Dozer menyusul Neil dan menanyakan hal itu.


Zack yang di lantai bawah dan sudah menyantap makanan tertawa terbahak-bahak, menertawakan rekannya.


"Makanya aku mengajak kalian ke markas Kasino," ucapnya sambil memegangi perutnya. "Dan aku yakin pasti akan berlangsung berhari-hari!"


"Mau taruhan?"


Neil dan Dozer memutar bola mata mereka malas, mereka enggan menanggapi permintaan Zack. Karena mood mereka mendadak hancur setelah mendengar suara-suara percintaan.


"Aku paling kagum dengan pelayan di rumah ini," ucap Zack lagi. "Aku yakin setiap harinya suara-suara itu menjadi makanan mereka sehari-hari!"


Lalu Zack melirik salah satu pelayan yang membawakan orange juice pesanannya. "Benar kan kataku?"


Pelayan itu hanya diam dan tersenyum membuat Zack keheranan.


"Yang aku tahu bos Noah memang sengaja mempekerjakan para pelayan tuna rungu," timpal Neil.


"Kenapa aku baru tahu?" Zack merasa ketinggalan informasi, pantas saja para pelayan di rumah itu tidak banyak bicara.


"Sekarang aku tidak penasaran lagi kenapa rumah ini tidak ada peredam suaranya," komentar Dozer yang ingin secepatnya pergi dari Pulau Biru.