
Gwen membusungkan badannya saat Trevor bermain di bawah sana. Rasanya tubuhnya seperti meledak, sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Tanpa sadar tangan Gwen meremas rambut Trevor, dia sampai lupa rasa sakit yang ada di telapak tangannya.
"Kau sudah basah," ucap Trevor menyeringai.
Wajah Gwen semakin merona, tubuhnya benar-benar berkhianat padanya sekarang.
Trevor kembali menindihnya, kali ini tangan besar itu mengelus rambut kemudian Trevor menunduk untuk mencium bibir stroberi yang membuatnya mabuk kepayang.
"Balas ciumanku, Gwen. Jangan membuatku seperti pemerkosa," pinta Trevor ketika bibirnya sangat dekat dengan bibir Gwen.
Gwen justru menggigit bibir bawahnya, tenggorokannya seperti tercekat tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Trevor benar-benar menguasai dirinya sekarang.
"Gwen..." Trevor terus menggoda Gwen dengan bibir yang dia terus mainkan di wajah gadis itu. Trevor terus mengusap bibirnya ke pipi, kening, mata dan hidung Gwen.
Sampai akhirnya tiba di bibir Gwen, seperti biasa Trevor akan memaksa Gwen untuk membuka mulutnya. Entah setan dari mana kini Gwen juga ikut terbawa suasana, gadis itu membalas ciuman Trevor yang membuat lelaki itu semakin bersemangat.
Melihat Gwen yang sudah menyerah, Trevor segera memposisikan diri untuk menyuntik Gwen. Sebelum itu, Trevor membuka pengaman yang sudah dia siapkan. Dia tidak mau ambil resiko, Trevor tidak mau Gwen hamil.
Saat Trevor membuka pengaman itu dengan mulutnya, jantung Gwen semakin berdebar apalagi saat Trevor menggesek miliknya, Gwen hanya bisa meremas seprai.
"Trey..." Gwen meneteskan air matanya saat Trevor berusaha memasukkan miliknya, rasanya sangat menyakitkan.
Trevor berhenti sejenak supaya Gwen tenang, dia mencium bibir Gwen dan kembali masuk dengan perlahan.
Tangan Gwen refleks mencakar punggung Trevor saat sesuatu yang besar telah masuk sepenuhnya. Sakit, hanya itu yang Gwen rasakan.
"Kau sekarang sudah sah menjadi teman ranjangku, Gwen," bisik Trevor sebelum menggerakkan tubuhnya.
Penyatuan yang sebelumnya menyakitkan itu, perlahan-lahan menjadi penyatuan yang nikmat. Bahkan Gwen beberapa kali mendesaah merasakan permainan Trevor yang handal.
*****
Trevor terus menatap Gwen yang tertidur pulas karena kelelahan, pelipis gadis itu masih basah dengan keringat serta nafasnya masih berat walaupun Gwen sudah tertidur.
"You so tight, Gwen," gumam Trevor dengan mengusap bokong Gwen kemudian dia menciumi tubuh yang masih polos itu. Rasanya dia tidak pernah puas, bahkan sekarang dia ingin menyatu lagi dengan tubuh langsing itu.
Tapi Trevor akan membiarkan Gwen untuk beristirahat. Akhirnya dia bisa merasakan gadis perawan, ternyata rasanya sangat nikmat. Baru kali ini dia begitu puas saat bercinta padahal Gwen sangat pasif.
"Tidak masalah, aku akan mengajarinya perlahan-lahan!" ucap Trevor percaya diri.
Trevor ingin membersihkan dirinya tapi pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia sudah memberi peringatan pada semua anak buahnya supaya tidak ada yang mengganggunya tapi justru ada yang berani mengetuk pintunya.
Sebenarnya Dozer juga tidak mau mengganggu waktu bosnya tapi dia harus melapor karena ini bersangkutan dengan Gwen.
Ceklek!
Dozer menelan ludahnya saat pintu terbuka, dia takut Trevor mengamuk tapi sepertinya dia datang tepat waktu karena Trevor tampak baik-baik saja tapi masih tampak menakutkan walaupun hanya diam.
"Apa mengganggu, Bos?" tanya Dozer basa-basi.
Trevor melotot tajam, dia menunggu kalimat yang keluar dari mulut Dozer, dia ingin sesuatu yang penting bukannya sebuah pertanyaan.
"Ma--maaf, Bos. Aku dan Zack meminta izin untuk pergi ke markas The Alligator," ucap Dozer kemudian.
"Aku dan Neil baru saja dari sana, mau apa kau kesana lagi?" tanya Trevor dengan mengerutkan dahinya.
"Ada sedikit petunjuk mengenai Gwen dan aku ingin memastikan!" jawab Dozer yang membuat Trevor langsung mencengkram kerah bajunya.
"Apapun itu laporkan padaku dan jangan beritahu Gwen!" ucap Trevor penuh ancaman.