
Sesampai di mansion, Gwen masih enggan berbicara dengan suaminya. Kalau Trevor tetap akan memisahkan bayi kembar mereka lebih baik Gwen pergi saja.
"Oh God!" Trevor mengusap wajahnya kasar karena melihat Gwen yang mengemasi bajunya.
Trevor mencoba menghentikan Gwen, dia mencekal kedua tangan istrinya supaya berhenti.
"Dengan perut besarmu itu, kau mau kemana?" tanya Trevor yang tidak ditanggapi oleh Gwen.
Kalau Gwen hanya diam justru Trevor jadi bingung sendiri.
"Okay. Aku akan bicara pada daddy!" akhirnya Trevor mengalah juga.
"Janji?" pinta Gwen yang akhirnya bersuara juga. Gadis itu menaikkan jari kelingkingnya yang membuat wajahnya tampak imut.
"Janji!" Trevor menautkan jari kelingkingnya yang membuat Gwen tersenyum dan memeluknya.
"Hah!? Harga satu pelukanmu memang mahal sayang, kali ini aku harus mencabut perjanjianku dengan daddy. Entah apa yang akan dilakukan pak tua gila itu padaku!" ucap Trevor sambil mengecupi rambut istrinya.
Sementara Gwen hanya bisa tersenyum dengan wajah yang dia benamkan di dada suaminya.
*****
Hari terus berlalu, sesuai janjinya Trevor tidak melakukan misi apapun, dia hanya menemani Gwen saat masa-masa kehamilan anak kembar mereka.
Trevor mempersiapkan keperluan bayi kembarnya serba sepasang. Dia memperkerjakan baby sitter yang sudah diseleksi sebelumnya, Trevor harus memastikan para baby sitter bersih bukan dari kubu musuh.
"Trey..." Gwen berjalan dengan susah payah mendatangi suaminya karena usia kandungannya yang tinggal menunggu hari saja.
Trevor yang sedang kewalahan merangkai baby bouncher menoleh ke arah istrinya.
"Sudah bangun?" tanya Trevor karena sebelumnya Gwen memang sedang tidur.
Gwen ikut duduk di samping suaminya perlahan kemudian dia tertawa karena melihat Trevor yang kewalahan memasang baby bouncher.
"Dari semalam belum jadi juga?" tanya Gwen yang membuat Trevor melemparkan bagian dari baby bouncher yang ada di tangannya.
"Aku sepertinya tidak cocok menjadi lelaki rumahan," keluh Trevor dengan menyenderkan kepalanya di sofa yang dia duduki.
Gwen mengusap rambut suaminya yang membuat Trevor menyenderkan kepalanya di paha istrinya. Trevor mengecupi perut Gwen yang besar, setiap hari itu yang dia lakukan dan menjadi hobi barunya apalagi saat si kembar bergerak, Trevor sangat suka.
"Kenapa hari ini si kembar tidak bergerak?" tanya Trevor keheranan. Biasanya saat dia menciumi perut Gwen tak lama pasti kedua bayi di dalam perut istrinya akan bergerak.
"Aku merasa perutku mengencang dari tadi," ungkap Gwen yang merasa tidak nyaman.
Trevor langsung membenarkan posisinya dan memanggil baby sitter untuk bersiap-siap.
Dan benar saja setelah dia berkata seperti itu tiba-tiba Gwen mengeluarkan air ketubannya yang pecah.
"Trey..." Gwen jadi panik tapi tidak untuk Trevor.
Trevor tampak santai, justru dia mengambil kunci mobil untuk membawa istrinya ke rumah sakit.
"Istriku mau melahirkan!" Trevor menghubungi dokter kandungan yang memeriksa Gwen beberapa bulan terakhir ini. Trevor membeli sebuah rumah sakit hanya untuk persiapan kelahiran anak kembarnya.
Lantai VVIP disiapkan, lantai yang memang khusus untuk dipakai Trevor pemilik rumah sakit tersebut.
Saat Gwen tiba, dokter dan perawat sudah bersiap untuk membantu proses persalinan.
"Bos Noah dalam perjalanan kemari," lapor Neil yang juga ada di sana.
Trevor hanya diam tidak menanggapi karena ada hal yang jauh lebih penting untuk dia pikirkan, keselamatan Gwen.
Proses melahirkan dilakukan secara normal, saat jalan lahir sudah terbuka sempurna, Gwen mulai mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengeluarkan bayi kembarnya.
"Trey, sakit!" keluh Gwen menatap Trevor yang berdiri di sampingnya.
"Kalian dengar itu!? Istriku kesakitan!? kenapa bayinya tidak keluar-keluar!?" maki Trevor pada dokter dan perawat yang ada di sana.
"I--iya, Tuan." Dokter segera meminta Gwen untuk berusaha lebih keras lagi karena kepala bayi pertama sudah terlihat.
Sampai tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi pertama. Bayi laki-laki yang keluar pertama kali.
Selang beberapa menit, bayi perempuan menyusul keluar.
Suara tangisan kedua bayi memenuhi kamar bersalin.
Gwen masih mengatur nafasnya dengan keringat yang diseka oleh suaminya.
"Trey, aku tidak apa-apa. Lihatlah kedua bayi kita," ucap Gwen yang tahu jika keterdiaman Trevor sedari tadi karena lelaki itu mencemaskan keadaannya.
Gwen merasakan sapuan dibibirnya, Trevor mencium istrinya sebagai rasa syukur karena Gwen baik-baik saja.
Kemudian Trevor berjalan menuju inkubator di mana kedua bayinya berada. Trevor menatap kedua bayi itu dan timbul perasaan aneh dalam dirinya.
Trevor langsung jatuh cinta pada kedua bayi itu.
"Welcome Jullian dan Juvelian!" ucap Trevor memberi nama kedua bayi berbeda jenis kelamin itu.