Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Harus Kreatif



Hawaii


Selama beberapa hari ini Neil, Dozer dan Zack menghabiskan waktu mereka di Hawaii. Tidak ada misi, mereka menyerahkan tugas pada anggota yang masih berada di markas.


"Sepertinya semua keadaan stabil dan bos masih berada di Pulau Biru," ungkap Neil yang saat ini tengah duduk di bar yang ada di Pantai.


Di sana banyak para turis sedang melancong untuk liburan. Zack beberapa hari ini sudah bergonta-ganti pasangan kencan sekarang dia sedang mencari targetnya jadi dia tidak menghiraukan apa kata Neil.


"Kau memang mata keranjang!" ketus Neil yang merasa tidak dianggap. Dia berlalu pergi dengan memukul kepala rekannya itu.


"Aw, Neil! Coba kau cari teman wanita sana!" protes Zack sambil memegangi kepalanya.


"Aku tidak tertarik!" sahut Neil melambaikan tangannya. Dia lebih suka menjalani misi penting.


Sementara di sisi lain, Dozer menghabiskan beberapa hari ini untuk bisa berdua dengan Ruby. Ruby ke Hawaii dan akan memulai hidup barunya di sana tapi Dozer melarangnya apalagi dia sudah tahu apa yang dilakukan Ruby demi mendapatkan informasi dari Aland.


"Kau tidak berhak melarangku!" Ruby masih berusaha menolak ajakan Dozer yang ingin hidup berdua bersama.


Dozer tidak menyerah. Dia terus berusaha membujuk gadis itu. "Lihat aku sebagai laki-laki Ruby, lupakan bos Trevor dan terimalah aku!"


"Walaupun kau bukan pria pertama?" tanya Ruby memastikan, dia tidak ingin menjalin hubungan emosional dengan seorang pria.


Dozer mendekat dan meraih dagu Ruby. "Aku tidak mempermasalahkan hal itu!"


"Yang terpenting aku mempunyai kesempatan. Aku sudah mengagumimu dari dulu, Ruby. Tapi kau selalu memandang bos Trevor saja." Dozer mengungkapkan isi hatinya.


Ruby sangat tahu apa yang dirasakan Dozer, menyukai seseorang tapi bertepuk sebelah tangan.


"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan," ucap Ruby memberi keputusan. Semoga Dozer bisa membuatnya move on dari Trevor.


Dozer kesenangan, dia ingin mencium Ruby saat itu juga. Tapi belum juga menyentuh bibir Ruby, ponsel Dozer tiba-tiba berdering.


"Oh God! Jadi ini yang dirasakan bos Trevor jika dia diganggu," gerutu Dozer sambil merogoh ponselnya yang ternyata ada panggilan dari Maudy.


"Ada apa Maudy?" tanya Dozer kemudian.


"Tuan Erik dan nyonya Isabel mencari Gwen!" lapor Maudy.


*****


Sebuah helicopter mendarat di Pulau Biru, Trevor yang sudah tidak tahan dengan sikap kedua orang tuanya akan membawa pergi Gwen hari itu juga.


Trevor merasa seperti mengejar-ngejar anak gadis dari orang tuanya sendiri.


"Ayo Gwen!" ajak Trevor pada Gwen yang sibuk berkemas karena Violet memberinya banyak baju dan barang-barang mewah.


Violet melotot tajam pada anaknya itu tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak, semua keputusan ada pada Gwen.


"Kalau Trey macam-macam padamu, lapor saja padaku!" Violet memberi peringatan.


Gwen terkekeh, dia memeluk Violet sebelum pergi. "Thanks, Mom. Sering-seringlah ke kota supaya kita bisa menghabiskan waktu berdua!"


Trevor memandangi Gwen dan Violet yang tampak akrab sementara dia dimusuhi.


"Ingat kata-kataku sebelumnya!" Noah memberi peringatan pada putranya.


"Aku akan langsung melamarnya!" ketus Trevor yang sudah memikirkan jalan yang akan dia ambil. "Dan Gwen tidak boleh menolak lamaranku!"


Noah mengerutkan dahinya dalam, dia mulai curiga metode yang akan dipakai Trevor untuk melamar Gwen.


"Jangan katakan, kau akan melamar Gwen di atas ranjang!" tebak Noah.


"Bagaimana kau bisa tahu, Dad?" tanya Trevor yang merasa Noah bisa membaca pikirannya.


"Karena itu caraku melamar Vio! Setidaknya kau harus lebih kreatif sedikit, jangan meniruku!" Noah tidak terima.