Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Lupa Jadwal



Sebelumnya, Erik yang sudah berada di tempat ritual langsung membaringkan dirinya di batu besar tempat Gwen dulu.


Erik telentang dengan memejamkan matanya, bersiap mati.


Waktu sudah melewati tengah malam tapi anehnya Erik tidak mati-mati.


"Apa iblis itu lupa jadwal?" gumam Erik.


Merasa tidak terjadi apapun padanya, Erik mendudukkan dirinya.


Tak lama Erik merasa tubuhnya panas dingin, Erik mengangakan mulut dan ada kepulan asap yang keluar dari mulutnya.


"Uhuk-uhuk!" Erik terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah.


"Darah? Aku berdarah?" Erik merasa panik dan juga bingung, seumur hidupnya dia tidak pernah mengeluarkan darah.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini artinya aku tidak jadi mati?"


Erik langsung berlari keluar dari tempat ritual itu, dia ingin mendatangi istrinya pasti saat ini Maudy sedang bersedih.


Tanpa Erik sadari ada setetes air mata yang jatuh tapi buru-buru dia menyekanya.


Saat sampai di kamar, Erik mendapati Maudy yang tidur dengan begitu gelisah.


"Suamiku..." Maudy terus merintih.


Erik mendekat dan mengusap keringat di pelipis istrinya.


Perlahan Maudy membuka mata, samar-samar dia melihat Erik yang berada di atas tubuhnya.


"Apa kau hantu?" tanya Maudy setengah sadar. "Aku rela di nana nini nunu hantu jelmaan suamiku!"


Erik tergelak, Maudy selalu saja membuatnya tertawa.


Tangan Maudy meraba wajah Erik sampai Maudy mengenai darah di mulut Erik yang belum mengering.


"Kau berdarah?" Maudy kaget. Dia langsung mendudukkan dirinya. "Kau suamiku? bukan hantu?"


Erik tidak menjawab tapi langsung memeluk Maudy. "Aku rasa iblisnya lupa jadwal," celetuknya.


"Hah?"


Maudy melepaskan diri dan buru-buru mengambil senjatanya yang dia sembunyikan.


"Siapa kau sebenarnya!?" geram Maudy sambil menodongkan senjatanya ke kepala Erik.


"Ya ampun, sejak kapan kau menyembunyikan senjata seperti itu," ucap Erik tidak percaya.


"Bos Trevor mengajariku untuk selalu siaga," balas Maudy sambil menarik pelatuknya.


Maudy ingin coba menembak Erik supaya dia yakin kalau sekarang dia tengah berhalusinasi.


Satu tembakan melesat mengenai bahu Erik.


Sedetik kemudian keluar darah dari bahu Erik itu yang membuat Maudy syok berat.


"Kau nyata? bukan halusinasiku?" Maudy meraba darah di bahu Erik.


Bukannya merasa kesakitan, Erik justru kesenangan karena dia terluka dan berdarah, itu artinya dia tidak terikat lagi dengan iblis itu.


"Aku berdarah!" Erik mencium bibir Maudy.


"Jadi kau benar suamiku?"


"Ya, aku suamimu, aku bukan hantu!"


Maudy langsung memeluk Erik dengan menangis sejadi-jadinya.


"Kalau ini mimpi, aku berharap tidak pernah bangun!" Maudy mengencangkan pelukannya.


"Aku tidak akan pernah pergi! Kita akan selalu bersama!" Erik memejamkan matanya, dia bersyukur iblis lupa jadwal menjemputnya.


Well, Erik masih berpikiran seperti itu.


*****


Maudy mencoba mengobati luka di bahu Erik karena tembakan darinya. Dan Erik terus menatap istrinya itu.


"Apa yang kau pikirkan sekarang?" tanya Erik kemudian.


"Mengobati luka ini lah, kalau ibu tahu aku menembakmu pasti tanduknya akan keluar," sahut Maudy yang masih fokus pada luka Erik, dia berusaha mengeluarkan pelurunya. Maudy sudah berpengalaman jadi hanya butuh waktu sebentar peluru itu bisa keluar.


"Untung saja aku menembak bahu, bagaimana kalau aku menembak kepala?"


"Mati beneran lah, suami super tampanku!"


Cicit Maudy terus saja berceloteh, Erik hanya terkekeh mendengarnya. Sekarang, dia akan menghabiskan sisa hidupnya pada nona mafia yang polos itu.


*


*


*


*


"


Jadi, sebenarnya perjanjian itu udah batal saat Marquez ditebas kepalanya sama Trevor. Tapi Erik akan bener-bener bebas dari ikatan dengan iblis itu ketika usianya genap tiga puluh tahun.