
Noah memicingkan matanya saat Trevor malarangnya membawa Jullian.
"Jadi kau sekarang seorang laki-laki pengecut yang melanggar janjinya sendiri?" sindir Noah.
"Bukan begitu, Jullian pasti butuh air susu ibunya. Lagi pula kau bisa sering berkunjung dan bermain bersama si kembar sekaligus, Dad." Trevor mencoba berbicara baik-baik.
"Seorang lelaki sejati pantang mencabut janji mereka!" tuntut Noah yang masih ingin membawa Jullian bersamanya.
Pembicaraan ayah dan anak itu tampak begitu serius yang membuat suasana begitu tegang.
"Ehem! Kenapa kalian memperebutkan Jullian? Apa tidak ada yang sayang pada Juvel?" tegur Violet ikut bergabung dengan kedua lelaki kesayangannya itu sambil menggendong bayi perempuan yang tertidur pulas.
Noah mendekati istrinya dan menatap cucu perempuannya yang tertidur. "Aku ingin menggendongnya!"
"Pelan-pelan!"
Dan sedetik kemudian Violet berteriak. "Noah, kenapa kau menggendongnya seperti memegang roti! Nanti Juvel jatuh!"
Sementara Jullian saat ini tengah menyusu dengan ibunya. Bayi laki-laki itu sangat rakus.
"Lihatlah, Trey. Jullian persis sepertimu!" ucap Gwen saat melihat suaminya datang dan duduk di sampingnya.
"Ck! Sampai kapan si kembar akan menyusu seperti itu? Mereka mengambil hak milikku, aku yang sudah susah payah membuatnya jadi besar!" keluh Trevor yang tidak rela kedua benda kesukaannya dimiliki orang lain termasuk anak-anaknya.
"Apa kau bisa berhenti berpikiran mesum dan jadi nyamuk kanibal?" gerutu Gwen yang tak habis pikir.
*****
Mansion yang biasanya sepi kini menjadi penuh dengan suara tangisan bayi. Si kembar selalu saja menangis bersamaan yang membuat Trevor kalang kabut seperti sekarang.
Gwen tengah mandi tapi si kembar yang terbangun dari tidurnya menangis bersamaan, untuk saat ini Trevor belum berani menggendong bayi-bayinya yang masih rentan itu.
"Sayang, cepatlah!" seru Trevor di depan pintu kamar mandi.
"Perutku sakit!" sahut Gwen dari dalam yang sedang buang air besar.
Trevor mondar-mandir kemudian dia memberanikan diri untuk menggendong si kembar. Dengan perlahan Trevor meraih Jullian di tangan kanannya dan Juvel di tangan kirinya.
Trevor duduk dengan kaku, dengan kedua bayi yang ada di pelukan tangannya.
"Apa ini sudah benar?" gumamnya.
Si kembar diam dan manatap sang daddy yang wajahnya tampak kaku itu.
Ternyata si kembar tengah menahan sesuatu dan...
Duuuut!!
Mereka kentut bersamaan sambil mengeluarkan apa yang seharusnya, yang mana membuat indera penciuman Trevor mencium sesuatu yang menyengat.
"Sayang... si kembar pup saat aku gendong!" seru Trevor memanggil istrinya kembali.
Trevor ingin memencet tombol darurat untuk memanggil baby sitter tapi tombol darurat itu jaraknya terlalu jauh dari tempatnya sekarang.
Memang jika si kembar berada di kamar pribadi Trevor, tidak ada yang boleh masuk karena itu waktunya we time keluarga.
Si kembar kembali menangis, selain karena tidak nyaman dengan gendongan sang daddy, mereka juga tidak nyaman karena popoknya yang tidak diganti.
"Kenapa kalian suka sekali menangis? nanti daddy kasih uang yang banyak ya, jadi diamlah kalian!" Trevor berusaha menenangkan kedua bayinya.
Gwen yang baru keluar dari kamar mandi buru-buru mengangkat kedua bayinya satu persatu dari gendongan Trevor kemudian membaringkannya di atas ranjang.
"Badan daddy keras ya, gak enak digendongnya ya?" Gwen mencoba berkomunikasi dengan si kembar sambil mengganti popok mereka dengan popok yang baru.
Awalnya Gwen juga masih canggung mengurus bayi tapi pelan-pelan Gwen belajar dari baby sitter yang membantu mengurus si kembar.
Dan hal itu membuat Trevor mengulum senyum melihat Gwen yang begitu lihai mengganti popok bayi mereka.
"Trey, tolong ambilkan diaper cream," pinta Gwen yang ingin mengoleskan diaper cream supaya kulit bayi-bayinya tidak iritasi saat memakai popok.
Trevor berdiri menuju meja yang isinya keperluan si kembar dan ada berbagai jenis produk yang membuatnya bingung.
"Yang mana?" tanya Trevor yang tidak tahu diaper cream itu yang mana. "Ternyata enak saat membuatnya, mengurusnya sangat susah!"
*
*
*
*
Nana nini nunu tak selamanya indah, Trey😅