
Maudy dan Erik tengah menikmati pergerakan bayi mereka. Erik memeluk Maudy dari belakang dan tangan kedua calon orang tua itu menyentuh perut sang istri.
"Bergerak lagi!" seru Maudy kesenangan.
Erik mencium rambut istrinya, dia sangat bahagia bisa merasakan momen seperti ini.
"Bagaimana kalau kita taruhan?" ajak Maudy kemudian.
"Taruhan?" tanya Erik bingung.
"Sebentar lagi kan jadwal pemeriksaan bayi kita dan kita sudah bisa tahu jenis kelaminnya, jadi aku mau kita taruhan bayi ini laki-laki atau perempuan," jelas Maudy.
"Tentu saja apapun jenis kelaminnya, aku tidak masalah tapi kalau bisa aku ingin laki-laki," ucap Erik dengan terus mengusap perut istrinya
"Kalau begitu aku perempuan." Maudy membalik badannya supaya bisa menatap wajah tampan suaminya. "Yang menang bisa meminta apapun pada yang kalah, okay."
"Tanpa taruhan pun, aku akan mengabulkan semua keinginanmu, istriku!"
"Oh iya? Bagaimana kalau aku minta nana nini nunu sekarang?"
Erik menghembuskan nafasnya kasar. "Kecuali itu, kau tahu alasanku!"
"Pokoknya kalau aku menang taruhan, aku menginginkan itu. Kalau kau tidak mau, kau cukup pasrah saja, suamiku. Aku yang akan habis-habisan melecehkanmu, aku pemain handal sekarang," ungkap Maudy membanggakan diri.
"Sepertinya aku harus membawamu jalan-jalan supaya otakmu tidak berpikiran kotor terus," ucap Erik yang segera memerintahkan ajudannya untuk mempersiapkan mobil limusin.
"Asyik, aku ingin makanan fast food, okay," balas Maudy yang bosan dengan makanan sehat yang dia makan selama ini.
"Hanya untuk hari ini dan jangan beritahu ibu." Erik mengusap rambut istrinya penuh kasih sayang.
Akhirnya pasangan suami istri itu pergi ke salah satu restauran cepat saji.
Saat mereka masuk ke dalam restauran itu, mereka dikejutkan oleh sosok yang tidak asing. Mereka saling bertatapan satu sama lain karena yang mereka lihat sesuatu yang mencengangkan dan tak terduga, Trevor menjadi pelayan di restauran cepat saji itu.
"Pasti bos Trevor sedang menyamar dan melakukan misi, suamiku. Jadi, kita pura-pura tidak tahu saja," ucap Maudy kemudian.
Sementara Trevor sendiri terus mengumpat dalam hatinya, harga dirinya sebagai bos mafia terasa hancur. Apalagi saat melihat Maudy dan Erik datang ke restauran itu, membuat Trevor begitu malu.
"Cepat layani tamu yang baru datang itu, sepertinya mereka bukan orang biasa," perintah manager restauran pada Trevor. Manager itu menunjuk Maudy dan Erik karena penampilan mereka yang tampak berkelas.
"Aku tidak mau melayani mereka," tolak Trevor.
"Kau itu masih magang sudah berani menolak perintah, apa kau mau upahmu dipotong!"
Trevor mengeratkan gigi gerahamnya, rasanya dia ingin merobek mulut manager restauran itu.
Karena tidak punya pilihan, Trevor menghampiri meja Maudy dan Erik berada, dia juga pura-pura tidak kenal dengan mereka.
"Mau pesan apa?" tanya Trevor dengan ketus.
"Aku ingin burger besar tidak usah pakai acar, rotinya dipanggang kering dan sausnya dipinggir kanan dan kiri," ucap Maudy yang secara detail memesan burger yang dia mau. "Dan aku juga ingin burgernya disajikan dengan gaya karnaval!"
"Kau mau mati ya!?" bentak Trevor yang merasa pesanan Maudy mengada-ngada.
"Jangan membentak istriku yang sedang hamil, aku akan membayar berapa pun harganya," ucap Erik yang tidak suka Maudy dibentak-bentak lagi oleh Trevor karena istrinya bukan bawahan Trevor lagi.
"Kau pikir aku miskin!?" geram Trevor tidak terima.
Manager restauran segera mendatangi Trevor yang tidak ramah pada tamu.
"Maaf, Tuan dan Nyonya. Dia pelayan magang baru," ucapnya. Kemudian manager itu menyenggol lengan Trevor. "Cepat minta maaf dan tersenyum!"
"Aku tidak mau!" tolak Trevor lagi.
Manager itu tetap memaksa yang membuat Trevor memaksakan senyumnya sampai deretan giginya kelihatan yang justru membuat tampangnya tampak mengerikan.
"Tolong bawa pergi pelayannya, istri saya sedang hamil, takut anak saya kenapa-kenapa karena melihat jelmaan makhluk halus," ucap Erik yang ngeri.
Trevor memicingkan matanya. "Akan aku pastikan, Gwen tidak akan pernah hamil lagi!" ucapnya dalam hati.