
"Ruby!" panggil Maudy saat melihat rekannya itu ada di markas utama.
Ruby melambaikan tangannya. "Hai!"
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sudah bebas?" tanya Maudy keheranan.
"Aku ada sedikit urusan," jawab Ruby bersamaan dengan Dozer yang datang padanya.
Dozer meraih tangan Ruby dan mengajaknya ke toko antik di mana dia biasanya bekerja dan membuat tatto. "Ayo, Babe."
"Aku pergi dulu, Maudy. Semoga kau juga bisa bebas," ucap Ruby sebelum pergi.
Maudy memandangi punggung Dozer dan Ruby yang menjauh, semua juga tahu kalau sudah bergabung dengan kelompok mafia Trevor harus mengabdi seumur hidup kecuali Trevor membebaskan anggota itu seperti yang Trevor lakukan pada Ruby.
"Makanya kau carilah jodoh supaya bisa bebas," tegur Zack yang datang tiba-tiba.
Atensi Maudy beralih pada Zack dan Neil yang mendekat padanya.
"Jodoh? Aku tidak pernah memikirkan hal itu!" sahut Maudy yang selama ini hanya ingin mengabdi pada Trevor. Trevor sudah banyak membantunya, Trevor memungut Maudy ketika gadis itu kelaparan dan kedinginan di pinggir jalan. Maudy hanya gadis tunawisma yang tidak punya orang tua dan tempat tinggal sebelum dipungut oleh Trevor.
Trevor mengajarinya mencopet dan mencuri untuk bertahan hidup sampai akhirnya Maudy ikut bergabung ke organisasi mafia Trevor.
"Sebaiknya memang begitu, kau ikut dalam misi Hongkong jadi persiapkan dirimu!" timpal Neil kemudian.
"Apa? bukankah aku tidak ikut dalam misi itu? kenapa tiba-tiba membawaku?" tanya Maudy kebingungan.
"Mungkin kau mendapat misi lain!"
Maudy yang bingung ingin menanyakan langsung pada Trevor, gadis itu ingin mendatangi Trevor di ruangan pribadinya tapi dia justru berpapasan dengan Erik.
"Mati aku! Ada tuan bangsawan!" Maudy membalik badannya, dia ingin menghindari makhluk tampan yang sudah dia cium sembarangan itu.
Erik tentu tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Mau kemana kau? Aku mencarimu sedari tadi!" ucap Erik yang mempercepat langkahnya untuk mengejar Maudy.
"Mau apa mencariku?" Maudy yang ketakutan juga mempercepat langkahnya menjauh.
Akhirnya terjadi aksi saling mengejar di sana dan itu membuat Trevor dan Gwen menghela nafas mereka bersama, mereka tentu melihat itu.
"Kenapa harus Maudy?" tanya Gwen yang masih tidak percaya jika Erik memilih mantan managernya itu. Gwen sudah mendengar rencana penanaman bibit dari Trevor.
"Seharusnya yang kau khawatirkan bukan itu Gwen," sahut Trevor.
"Sebelum itu, seharusnya kau memikirkan apa Erik bisa melakukan penanaman bibit itu pada seorang wanita?"
"Maksudmu Erik tidak tahu caranya? Trey, kau tidak akan mengajari hal itu, bukan?"
*****
"Kena kau!" Erik mencekal tangan Maudy yang berhasil dia kejar.
"Lepaskan aku!" Maudy ingin memberontak dan mengeluarkan ilmu bela dirinya tapi Erik dengan cepat mengunci pergerakan Maudy dan merapatkan gadis itu ke dinding.
Maudy memejamkan matanya, dia tidak ingin melihat wajah tampan yang membuat dia berdebar dan tidak bisa menahan diri itu.
"Kenapa mencariku? Cepat katakan!" ucap Maudy yang masih memejamkan matanya.
"Aku ingin meminta tanggung jawab!" sahut Erik gusar karena sikap Maudy.
"Tanggung jawab apa?"
"Kau lupa ya? Kau sudah berani menciumku!"
"Oh itu, maafkan aku. Itu sebenarnya salahmu karena terlalu tampan!"
"Aku tidak ingin mendengar kata maaf, aku ingin kau bertanggung jawab yang benar!"
"Benarnya bagaimana?"
"Kau harus bersedia menjadi wadah bibitku!"
Maudy langsung membuka matanya mendengar itu dan wajah tampan Erik yang dia lihat di depannya sekarang.
"Maksudnya aku akan mengandung bibit bangsawan?" tanya Maudy memastikan.
"Ya, begitulah. Kau tidak boleh menolak!" tegas Erik karena waktunya semakin menipis.
"Jadi kita harus melakukan nana nini nunu dulu, 'kan?" tanya Maudy lagi.
"Ya, bukankah kau sudah melecehkanku berarti kau sudah pandai melakukannya!"
"Sebenarnya aku masih amatiran, Tuan Bangsawan. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin, kapan lagi bisa melecehkan seorang bangsawan, 'kan!" Maudy justru kesenangan dan akan bertanggung jawab penuh atas perbuatannya.