Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Sama-sama Amatiran



Trevor membawa Gwen ke tempat latihan karena ingin melihat sejauh apa kemampuan Gwen berkembang.


"Aku masih ingat pertama kali kau datang ke markas dengan tubuh lemah dan kurusmu itu," ucap Trevor yang sibuk melilitkan kain ke tangannya.


"Jangan bahas hal itu!" ketus Gwen yang jadi teringat masa-masa di mana dia selalu ditertawakan dan diremehkan.


Trevor tergelak, dia mendekati Gwen dan menarik pinggang gadis itu. "Tapi coba lihat dirimu yang sekarang, kau bukan gadis lemah lagi tapi hanya saja kurang pintar!"


"Ish, kau menghinaku, Tuan Mafia!" Gwen melingkarkan kedua tangannya di leher Trevor. Sekarang menghabiskan waktu berdua dengan lelaki itu adalah hobi barunya. Pertengkaran kecil mereka, Gwen selalu merindukan hal itu.


"Kau salah satu mahakarya besarku, Gwen." Trevor mengusap rambut Gwen yang dikuncir kuda.


"Yah, kau memungutku dan mengajari banyak hal termasuk dalam hal ranjang," sahut Gwen dengan memajukan bibirnya. "Mengenai itu, aku dengar kau juga memungut para anggota inti anak buahmu!"


"Hm, aku membantu mereka keluar dari kesengsaraan walaupun harus masuk dalam dunia hitam!" jawab Trevor.


Gwen tersenyum, dia memeluk Trevor dengan erat. Sepertinya dia tahu kenapa anak buah Trevor begitu setia pada bos mereka. Semakin mengenal Trevor lebih dalam, lelaki itu memang penuh kasih.


"Aku menyukaimu, Tuan Mafia!" ucap Gwen yang tidak mau menutup-nutupi apa yang dia rasakan lagi.


Trevor mendengus kasar, disaat Gwen bersikap aktif padanya justru dia tidak bisa meniduri gadis itu.


"Dengarkan aku, Gwen. Saat tamumu sudah pulang nanti, aku akan mengurungmu seharian di kamar tanpa ampun!" ucap Trevor penuh penekanan.


*****


Disisi lain, Erik membawa Maudy ke kamarnya. Dia harus melakukan penanaman bibit itu sesegera mungkin.


"Mandilah terlebih dahulu!" perintah Erik mencoba menyembunyikan kegugupannya.


Hal sama dirasakan oleh Maudy, dia juga jadi gugup ketika berduaan di kamar dengan pria super tampan itu.


"Baiklah!" Maudy masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Maudy menggosok seluruh badannya dengan sabun yang banyak. "Ternyata melecehkan seorang bangsawan tidak mudah! Aku harus bersih dan wangi!"


"Tapi bagaimana cara melakukannya?" gumam Maudy malu luar biasa. Ini pertama kali baginya, biasanya dia tidak akan agresif begini pada pria tapi karena ketampanan Erik, dia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya.


Setelah selesai, gadis itu segera keluar dari kamar mandi. Maudy mematung di pintu karena melihat Erik yang sudah bersiap dengan hanya memakai jubahnya.


"Sudah selesai?" tanya Erik yang sudah menunggu Maudy. "Ayo cepat kita lakukan!"


Dengan gugup Maudy mendekati Erik, gadis itu bingung harus bagaimana jadi dia hanya duduk di pinggir ranjang.


"Kenapa duduk disitu? Kemarilah!" perintah Erik supaya Maudy duduk di sampingnya.


"I--iya." Maudy merangkak naik ke atas ranjang dengan wajah seperti kepiting rebus, merah sekali.


"Kau sakit?" tegur Erik yang melihat wajah Maudy.


"Aku sakit kalau dekat denganmu, Tuan Bangsawan," jawab Maudy menundukkan kepala.


Erik menahan senyumnya, Maudy kelihatan begitu menggemaskan. Padahal sebelumnya gadis itu sangat agresif.


"Jadi, kita harus mulai dari mana?" tanya Erik yang amatir, dia tidak tahu kalau yang dia tanya juga amatiran.


"Um, aku rasa berciuman bibir dulu!" jawab Maudy yang dalam hatinya menjerit.


Erik berdehem kemudian mencoba meraih tengkuk Maudy supaya bibir mereka bisa saling beradu dan menaut.



Blush!


Kedua anak manusia itu saling bertatapan dengan wajah yang sama-sama merona dan mengeluarkan keringat dingin di pelipis mereka.


Deg! Deg!


Jantung mereka berpacu dengan cepat dan saling bersahutan satu sama lain.


"Baru mau ciuman aja begini? Terus gimana pas nana nini nunu nanti?" gumam Maudy dalam hatinya.