
"Ada apa, Trey?" tanya Gwen keheranan karena Trevor masuk ke dalam kamar dengan wajah masam.
Trevor membaringkan dirinya di atas ranjang dan meminta Gwen untuk mendekat padanya. Kemudian Trevor menciumi leher Gwen dan mencumbunya.
"Trey..." Gwen menggeliat, lelaki itu tidak pernah bosan untuk menyentuhnya.
"Aku membenci kakakmu, Gwen!" ungkap Trevor kemudian.
"Kenapa lagi?" tanya Gwen yang tidak tahu apa-apa.
"Dia terlalu perfect!" ketus Trevor yang merasa insecure. Dia tidak tahu kalau Erik bisa memperlakukan wanita secara hormat padahal wanita itu adalah anggota mafia. Sementara dirinya?
"Maafkan aku, Gwen." Trevor mengeratkan pelukannya pada kelinci kecilnya yang malang. Dia jadi merasa bersalah karena tidak mau menikahi Gwen sebelumnya.
"Akhir-akhir ini kau jadi emosional, Tuan Mafia. Seharusnya aku yang begitu karena aku tengah datang bulan!" Gwen terkekeh geli melihat Trevor yang sikapnya jadi labil.
"Gwen, kau mau mati ya!?"
"Nah, ini baru Trevor yang aku kenal. Jadilah dirimu sendiri! Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
"Hm, aku akan mengajarimu sesuatu!"
Gwen langsung bersiap-siap mengganti bajunya dengan pakaian tebal karena di luar cuacanya sangat dingin, kebetulan sudah menjelang malam hari.
"Kita mau ke mana?" tanya Gwen saat Trevor membawanya berjalan di street food yang ramai.
"Aku akan mengajarimu mencopet jadi kelak saat kau dalam keadaan terdesak sampai kau tidak punya uang, kau bisa bertahan hidup dengan mencuri!" jelas Trevor.
Trevor akan menunjukkan caranya pada Gwen, lelaki itu tampak membaur kemudian Trevor mencari target dan berjalan mendekat pada target. Trevor menabrak target dan meminta maaf tapi tangannya dengan cepat mengambil dompet dan jam tangan targetnya.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Gwen kagum saat Trevor memberikan dompet dan jam tangan itu pada Gwen.
"Semua butuh teknik kecepatan! Dan juga aku sedikit menghipnotis dan memberinya sugesti saat aku menepuk pundaknya!" jelas Trevor membanggakan diri.
"Kau bisa menghipnotis? Jangan sampai kau menghipnotisku!" Gwen jadi takut-takut.
"Bukan hipnotis seperti yang kau pikirkan Gwen. Aku hanya memberi sugesti supaya target menjadi linglung!"
"Tapi--"
"Kau pasti bisa, Gwen!"
Gwen membaur dengan ragu-ragu, walaupun takut-takut malam itu Gwen berhasil mengambil dompet seseorang.
"Bagus, besok kau sudah siap melakukan misi!"
Trevor sangat bangga bisa mengajari Gwen menjadi seorang pencopet dan pencuri. Mereka menggunakan hasil curian mereka untuk makan malam di salah satu restoran mewah yang berada di Hongkong.
Setelah selesai makan malam, Trevor dan Gwen kembali ke penginapan. Saat sampai mereka disambut oleh Erik dan Maudy.
"Aku ingin meminta izin padamu," ucap Erik pada Trevor.
"Izin apa?" tanya Trevor yang sebenarnya malas meladeni Erik.
"Aku minta izin untuk membawa Maudy ke istanaku. Jadi, tolong bebaskan dia. Karena aku ingin menjadikannya seorang istri, aku ingin mengubur masa lalunya yang seorang anggota mafia. Aku ingin memberi kehidupan baru untuk Maudy!" ucap Erik yang membuat Trevor menjadi insecure lagi.
Trevor seperti terkena tamparan keras padahal sebelumnya dia sangat senang karena sudah mengajari Gwen mencopet dan mencuri.
"Apa kau yakin Maudy?" tanya Trevor kemudian. Dia menatap Maudy yang bergenggaman tangan dengan Erik.
"I--iya, Bos." Maudy menundukkan kepalanya takut.
"Baiklah, aku membebaskanmu!" ucap Trevor memberi keputusan.
Erik dan Maudy saling bertatapan dan melemparkan senyum.
"Kau bukan mafia lagi, Maudy," ucap Erik dengan mengecup telapak tangan Maudy. Erik memperlakukan Maudy seperti sebongkah berlian.
"Cih!" Trevor berdecih lalu menarik tangan Gwen supaya menjauhi pasangan itu.
Gwen patuh tanpa banyak protes, perlakuan Trevor sangat berbanding terbalik dengan Erik.
"Sekarang kau tahu kan, kenapa aku membenci kakakmu. Untung dia akan mati jadi aku tidak akan kalah saing lagi!" Trevor terus menggerutu sepanjang perjalanan menuju kamar.