
Tangan kurus Gwen meraih tangan Trevor, Gwen menautkan jemarinya seperti minta perlindungan.
"Aku ingin bersama Trey," ucap Gwen yang sebenarnya masih takut atas kejadian yang sebelumnya dia alami. Bagaimana mau jadi penerus, menginjakkan kaki di bangunan istana itu pun Gwen tidak mau lagi.
"Aku anak yang lahir tanpa tali pernikahan dan ibu kandungku bukan dari darah biru. Jadi, aku rasa tidak pantas kalau aku jadi penerus keluarga," tambah Gwen dengan meneteskan air matanya.
Trevor yang mendengar itu, mengeratkan tautan tangannya dengan Gwen. Kelinci kecilnya itu begitu rapuh tapi dia berusaha menutupinya, Trevor mulai sadar. Dia harus segera menikahi Gwen.
"Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Kalau pun Gwen memilih jadi penerus keluarga kalian, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Gwen akan mati jika berjauhan denganku karena dia sudah menyukai dan tergila-gila padaku!" Trevor begitu percaya diri seperti biasa, dia berdiri dari tempat duduknya untuk membawa Gwen pergi dari sana.
"Aku sudah menduganya," sahut Erik yang sebenarnya tidak mau lagi mengganggu Gwen, dia melakukan ini demi Isabel yang masih tidak rela garis keturunan mereka berakhir. Isabel bahkan mau mengakui Gwen sebagai keturunan yang sah.
"Relakan semuanya, Bu. Mungkin ini harga yang harus dibayar atas apa yang ayah dan Ibu lakukan." Erik yang kecewa tapi berusaha bersikap baik pada ibunya. "Ayo kita pulang, kita habiskan waktu berdua!"
Gwen yang tahu jika Erik dan Isabel sebenarnya juga korban merasa tidak enak hati, dia ingin bersama Erik disisa-sisa waktunya tapi Trevor pasti tidak akan mengizinkan.
"Apa perjanjian itu bisa dibatalkan, Trey?" tanya Gwen sebelum mereka pergi.
"Gwen, aku seorang mafia bukan penyembah setan. Jadi, aku tidak tahu!" sahut Trevor tidak habis pikir.
"Apa aku boleh menghabiskan waktu bersama Erik?" tanya Gwen lagi takut-takut.
"Kau sudah tahu jawabanku, Gwen. Jadi, jangan bertanya lagi. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini!" Trevor menarik tangan Gwen supaya gadis itu mengikuti langkahnya.
Erik memandangi Trevor dan Gwen yang menjauh dengan tatapan sulit diartikan. Dari kecil Erik berada di lingkup bangsawan dan terkekang dengan segala aturan, di hati kecilnya dia ingin bebas sebelum dia mati.
"Kau ingin menyusul mereka?" tanya Isabel yang sepertinya tahu isi kepala Erik. "Cepat susul mereka sana!"
"Tidak apa-apa. Lakukan yang ingin kau lakukan!" Isabel berusaha bijak dan membebaskan Erik.
Erik langsung berlari untuk mengejar Trevor dan Gwen yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Gwen..." panggil Erik saat mesin mobil sudah menyala.
Trevor menurunkan kaca mobil untuk berbicara pada Erik. "Ada apa lagi?"
"Aku ingin ikut bersama kalian, setidaknya di sisa-sisa hidupku, aku ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan," jelas Erik.
Trevor menyunggingkan senyumnya. "Kau datang pada orang yang tepat!"
Akhirnya Trevor memperbolehkan Erik untuk bergabung bersamanya dan Gwen. Trevor membawa Erik ke markas utama.
"Trey..." Gwen merasa cemas. Dia takut Trevor akan menghajar Erik di ring tinju.
"Apa yang kau pikirkan, Gwen?" tanya Trevor, pasti Gwen berpikiran buruk duluan padanya.
"Aku akan membawa kakakmu untuk bergabung di misi Hongkong," terang Trevor yang membuat Erik mengerutkan dahinya.
"Misi Hongkong?" tanya Erik yang tidak mengerti.
"Misi untuk merampok harta orang-orang kaya yang bermain judi di Hongkong. Setiap tahun orang-orang kaya dari berbagai negara akan berkumpul di Hongkong dan bermain judi di sana, kita tidak boleh melewatkan hal itu." Trevor berusaha menjelaskan misi yang akan dia jalani.
Erik berdehem. "Jadi kau akan mengajari seorang bangsawan merampok?"