
Pesawat mendarat setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam. Gwen masih tertidur di dada Trevor yang membuat Trevor menggendong gadis itu untuk keluar dari pesawat.
"Kita langsung ke penginapan!" perintah Trevor pada timnya.
Mereka semua langsung menuju penginapan menggunakan dua mobil jemputan.
"Ugh!" Gwen melenguh karena merasa geli di bagian tubuh atasnya. Rupanya Trevor tengah bermain di gunung kembarnya saat perjalanan ke penginapan.
"Trey... Akh!" Gwen meremas rambut Trevor saat lelaki itu semakin memperdalam permainannya. Kemudian Trevor mencium bibir Gwen dengan rakus.
"Gwen, bantu aku!" Trevor mengeluarkan tongkat naga saktinya karena sudah lama tidak menyembur. Trevor membimbing tangan Gwen untuk bermain dengan tongkat itu sambil dia yang kembali mencium bibir Gwen.
Suara lenguhan dan decapan kedua manusia lawan jenis itu terdengar di kursi belakang. Walaupun ada penghalang tetap saja bunyinya terdengar.
Erik dan Maudy yang berada di kursi belakang menjadi salah tingkah. Trevor memang sengaja menempatkan dua orang itu satu mobil dengannya. Trevor ingin memanas-manasi Erik supaya segera melepas masa perjakanya sebelum mati.
"Gwen..." Trevor mengerang dengan menyebutkan nama Gwen karena mendapat pelepasannya.
"Trey, kena bajuku! Bagaimana ini?" protes Gwen.
Suara-suara laknat itu semakin membuat Erik dan Maudy kalang kabut, mereka rasanya ingin keluar dan menenggelamkan diri ke lautan. Maudy sampai tanpa sadar meremas paha Erik.
"Maaf, Tuan Bangsawan." Maudy segera menggeser tubuhnya supaya menjauh.
Erik hanya berdehem saja karena dia merasakan benda tumpulnya juga ikut menegang.
*****
Setelah sampai di penginapan, Maudy buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam penginapan. Gadis itu sudah tidak tahan dengan suhu panas di tubuhnya.
Maudy menuju kolom renang yang ada di penginapan dan menenggelamkan diri di sana.
"Aku tidak mau satu mobil dengan Gwen dan bos lagi," ucap Maudy kesal. Maudy berendam sejenak sampai dia merasa tenang, barulah gadis itu keluar dan ingin ke kamarnya.
Tapi saat kaki Maudy menginjak tangga besi di kolam renang, kakinya terpeleset yang membuat kakinya terkilir dan terjatuh ke kolam lagi.
Erik yang kebetulan lewat buru-buru masuk ke kolam untuk membantu Maudy.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Erik perhatian.
"Aku hampir mati kalau kau tidak membantuku, Tuan Bangsawan," ucap Maudy dengan mata berkaca-kaca.
Erik terkekeh mendengar itu. "Kenapa kau berada di kolam renang, hem? Kau memang aneh!"
"Kau tidak perlu takut mati, aku saja yang tahu kapan aku mati tidak takut!" tambahnya.
Maudy mengadah menatap Erik, tangannya terulur menyentuh pipi lelaki itu. "Apa kau benar akan menanam bibit dengan wanita lain?"
"Bagaimana kalau aku mau bertanggung jawab?"
"Apa maksudmu?" tanya Erik dengan menyentuh tangan Maudy yang ada di pipinya.
"Mungkin ini terlalu cepat tapi aku menyukaimu, Tuan Bangsawan. Saat mendengar kau akan menanam bibit dengan wanita lain, aku merasa sakit!" ungkap Maudy yang menyatakan perasaannya.
"Tidak apa-apa waktu kita hanya singkat tapi bisakah kau menghabiskan sisa-sisa waktumu bersamaku?"
Erik langsung menyatukan kening mereka, dia tidak menyangka gadis itu menyukai dirinya dengan tulus.
"Maudy, mau kah kau jadi istriku? Aku benar-benar tidak mau menanam bibit itu tanpa adanya tali pernikahan karena itu bukan gayaku," ucap Erik yang membuat Maudy tercengang.
"Tuan Bangsawan, kau melamarku?"
Erik tidak menjawab dengan perkataan tapi lelaki itu menjawab dengan ciuman yang dalam.
Tangan Maudy meremas baju Erik yang basah, dia membalas ciuman itu sebisanya sampai mereka bisa menautkan indera pengecap mereka satu sama lain.
Dan hal itu disaksikan oleh Trevor sedari tadi. Trevor merasa gusar karena Erik yang melamar Maudy di kolam renang dengan kondisi basah-basah.
"Sialan! Padahal aku sudah merancang acara lamaranku untuk Gwen setelah misi selesai tapi si bangsawan sok polos itu malah mendahuluiku!" gerutu Trevor dengan meninju ke udara.