
Malam hari di kediaman keluarga Marquez, para pelayan tengah sibuk menyiapkan menu makan malam.
Isabel memberi perintah makan malam hari ini haruslah spesial, setelah mengetahui hasil tes dari Gwen, sikap Isabel berubah drastis. Isabel jadi perhatian pada Gwen.
"Cepat panggil Erik dan Gwen!" perintah Isabel dengan wajah bahagia.
Tak lama Erik dan Gwen datang dan duduk di meja makan bersama Isabel kemudian Marquez juga ikut bergabung dengan duduk kursinya.
"Malam ini kita merayakan kedatangan Gwen," ucap Marquez melirik Gwen yang duduk berdampingan dengan Erik. "Apa kau senang kembali pulang, Gwen?"
Gwen hanya menganggukkan kepalanya, dia begitu canggung berada di sana.
"Makanlah yang banyak supaya kau sehat, Gwen," ucap Isabel dengan menuangkan sayuran dan juga daging pilihan yang khusus dimasak untuk Gwen.
"Aku tidak merasa sakit jadi aku memang merasa sehat," sarkas Gwen yang lagi-lagi merasa keanehan, mereka seolah-olah menganggap Gwen berpenyakitan.
Gwen kebingungan memakai sendok yang mana karena ada berbagai jenis sendok dengan berbagai ukuran di meja makan, Gwen memilih sendok yang bentuknya ramping tapi Erik langsung menepisnya.
"Itu sendok untuk sup," ucap Erik memberitahu. Kemudian lelaki itu mengambilkan sendok yang bentuknya lebar. "Gunakan ini!"
Gwen memejamkan matanya karena tidak nyaman dengan keluarga aslinya. Dia sudah terbiasa hidup bebas bersama Trevor.
Saat mereka semua masih menyantap makan malam, tiba-tiba para pengawal lari dengan tergopoh mendatangi Marquez.
"Tuan..."
"Ada apa? Apa kalian tidak tahu kami sedang makan malam!?" Marquez tampak gusar, dia tidak suka saat makan ada pengganggu.
"Tapi ini penting, di luar ada gangster yang menyerang kita!"
"Apa!?"
Marquez langsung berdiri dan melihat keadaan luar dari salah satu kastil. Dia bisa melihat para penjaga istananya tengah dibantai dan Marquez tahu siapa pelakunya.
"Cepat panggil Aland!" perintah Marquez.
Marquez bergegas mengganti baju dan memakai pelindung di tubuhnya.
Sementara Isabel membawa Gwen untuk kembali ke kamarnya. Dia sangat yakin penyerangan di luar ada sangkut pautnya dengan Gwen.
"Sepertinya aku tahu siapa itu, aku akan berusaha berbicara padanya," ucap Gwen menolak dan melepaskan diri dari Isabel. Dia yakin di luar sana adalah ulah Trevor, ternyata lelaki itu benar-benar tidak akan melepasnya.
"Kau dalam bahaya, Gwen!" pekik Isabel yang ingin menarik Gwen lagi tapi Erik segera menahannya.
"Erik!" protes Isabel pada putranya.
Erik menoleh ke arah Gwen. "Cepat pergi, Gwen!"
Merasa ada kesempatan, Gwen segera berlari keluar tapi langkahnya dihentikan oleh beberapa penjaga. Bersamaan dengan itu, Gwen mendengar teriakan Trevor yang memanggil namanya.
"Gwen! Gwen!"
Trevor terus berteriak dengan menebas kepala para penjaga istana keluarga Marquez. Trevor menggunakan dua pedang samurai Dark Blood dan terus menebas puluhan kepala sampai di luar istana menjadi lautan mayat tanpa kepala.
Itulah Trevor lebih suka menggunakan pedang dari pada pistol karena di belakangnya para anak buahnya pasti melindunginya.
"Berhenti, Trey!"
Suara Gwen menghentikan aksi brutal Trevor, setelah menghajar para penjaga yang menahannya, Gwen berlari untuk menemui Trevor.
Di luar sedang hujan gerimis, Gwen syok melihat banyaknya mayat tanpa kepala tapi dia lebih kaget melihat Trevor dengan wajah penuh darah dengan kedua tangannya yang memegang pedang.
Melihat Gwen datang, Trevor melempar kedua pedangnya kemudian Trevor merentangkan kedua tangannya, dia berharap Gwen datang padanya dan memeluknya.
Air hujan yang jatuh menyapu darah yang menempel pada wajah Trevor, membuat wajah tampannya terlihat jelas sekarang.
"Aku memenggal puluhan kepala hanya untuk satu pelukan darimu," ucap Trevor yang masih merentangkan kedua tangannya. "Datanglah padaku, Gwen. Percayalah padaku!"
"Kau tidak akan bisa lepas dariku karena kau milikku, sekali masuk tidak akan ada jalan keluar lagi. Kau bukan teman ranjangku tapi kau teman hidupku, Gwen."