Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Kandung Rasa Tiri



Gwen terharu akan sikap Violet dan Noah yang melindunginya, Gwen jadi merasa mempunyai orang tua sekarang. Sedikit mengobati rasa sakit hatinya pada Marquez.


"Kau tenang saja, Gwen. Selama ada aku, kau akan aman," ucap Violet yang masih kesal dengan Trevor.


Tiba-tiba Gwen memeluk Violet dengan meneteskan air matanya, dia merindukan sosok ibu angkat yang membesarkannya tapi sudah tiada karena ulah ayah kandungnya sendiri.


"Terima kasih, Nyonya," ucap Gwen tulus.


"Kenapa memanggilku nyonya, panggil aku mommy." Violet menghapus air mata Gwen. "Jangan bersedih dan berlarut-larut memikirkan keluargamu, anggap kami juga keluargamu walaupun kami keluarga mafia."


"Sebenarnya aku mulai terbiasa, Trevor mengajariku banyak hal," sahut Gwen yang tidak bisa menampik jika Trevor banyak berjasa dalam hidupnya.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Gwen!" Violet menarik tangan Gwen untuk masuk ke dalam ruang pribadinya. Di sana banyak pakaian, tas dan juga perhiasan berharga fantastis koleksi Violet.


Violet mengambil beberapa bajunya dan memberikannya pada Gwen. "Kau tahu, aku dulu mantan model sebelum mengenal Noah. Cobalah baju-baju ini, sepertinya cocok untukmu!"


Gwen mengambil baju itu kemudian memakainya, Violet juga memberi make up pada wajah Gwen, mengecat kuku dan banyak lagi yang mereka lakukan selama beberapa hari di Pulau Biru.


Sementara Trevor sendiri diusir dan tidur di sebuah pondok di pulau itu. Trevor tidak boleh mendekati Gwen sebelum gadis itu atau dirinya benar-benar pulih dari luka yang ada di tubuh mereka.


"Ck, aku merasa menjadi anak terbuang!" decak Trevor sebal. Dia sangat merindukan Gwen sekarang. Tidurnya tidak tenang dan gelisah setiap malam, dia sudah terbiasa tidur bersama dengan Gwen.


Akhirnya Trevor tidak tahan juga, malam ini dia harus berhasil menyelinap ke kamar Gwen. Sungguh aneh, Trevor seperti anak tiri sementara Gwen seperti anak kandung.


Bug!


Trevor memukul penjaga sampai pingsan kemudian dia membidik kamera cctv dan menembaknya.


Setelah berhasil, Trevor memanjat dinding untuk naik ke balkon kamar Gwen.


"Gwen..." panggil Trevor setengah berbisik.


Samar-samar Gwen mendengar suara Trevor, buru-buru Gwen berlari menuju pintu balkon dan membukanya.


Tubuh Gwen terhuyung ke belakang karena Trevor yang langsung memeluknya.


Gwen tergelak, Trevor yang biasanya beringas seperti anak kecil yang manja dan nakal sekarang.


"Apa lukamu sudah sembuh, Trey?" tanya Gwen perhatian. Gwen meraba punggung Trevor yang perbannya sudah terlepas.


"Tubuhku sudah terbiasa dengan luka!" jawab Trevor yang kini memagut bibir Gwen dan mendorong tubuh gadis itu untuk telentang di atas ranjang.


"Trey..." Gwen berusaha menghentikan Trevor. "Aku mendengar tentang Carol!"


"Hm, aku sudah menghabisinya! Dia tidak akan mengganggumu lagi!" Trevor sebenarnya malas membahas hal itu. "Apa kau mau ikut misi di Hongkong, Gwen?" tanya Trevor mengalihkan pembicaraan.


"Aku mendapat misi lagi?" tanya Gwen balik, dia mulai antusias.


"Tidak ada tarian striptis atau congkel mata lagi. Kali ini kita akan menghipnotis target kita!" jelas Trevor yang sudah merencanakan misinya.


"Kau bisa menghipnotis?" tanya Gwen yang semakin penasaran.


"Lebih tepatnya trik dan sugesti, perbandingannya masih 50:50 tapi jika berhasil yang kita dapatkan bisa mencapai berkali-kali lipat dari perampokan bank. Dan metode ini tidak akan bisa terlacak oleh polisi!" terang Trevor untuk meyakinkan Gwen.


"Aku pasti akan ikut!" jawab Gwen tanpa ragu.


Trevor tersenyum miring, tangannya mengelus pipi Gwen. "Kau akan melihat jika aku bukan pengangguran dan kau harus tergila-gila padaku setelah itu karena..."


Perkataan Trevor terjeda karena tiba-tiba pintu kamar Gwen diketuk oleh Violet.


Dengan cepat Trevor meloncat turun dari ranjang dan bersembunyi di kolong ranjang.


"Gwen..." panggil Violet yang menyembul masuk ke kamar. "Aku punya masker wajah yang bagus. Kita harus menggunakannya malam ini!"


Gwen jadi bingung sendiri, pasti Violet akan lama berada di kamarnya. Bagaimana nasib Trevor di bawah sana?


"Seumur-umur baru kali ini bos mafia bersembunyi di kolong ranjang. Hancur harga diriku, jangan sampai anak buahku ada yang tahu!" gerutu Trevor dalam hatinya. Dia harus segera pergi dari Pulau Biru jika ingin harga dirinya terselamatkan.