Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Penyerahan Diri



Acara berlanjut ke acara resepsi yang membuat Trevor semakin jengah karena acara akan bertambah lama, Trevor ingin berduaan dengan Gwen memadu kasih.


"Sudah siap, Tuan," ucap perancang busana yang membantu Trevor berganti baju ala bangsawan.


"Berapa harga baju ini?" tanya Trevor tiba-tiba.


"I--iya Tuan?"


"Aku lebih suka tidak memakai baju!"


Trevor keluar dari ruangan ganti itu, dia ingin diam-diam menemui istri kesayangannya.


"Sial, sudah menikah pun, aku tetap kesulitan berduaan dengan Gwen," gerutunya.


Di ruangan lain, Gwen tengah berganti baju dan dirias lagi. Tidak perlu waktu lama, Gwen sudah tampak cantik seperti putri di negeri dongeng.


Sebenarnya Gwen juga tidak nyaman, dia sudah terbiasa menjadi mafia sekarang.


"Kami tinggal dulu, Nona."


Perias pengantin pamit undur diri karena mereka ingin membantu Maudy.


Sekarang hanya tertinggal Gwen seorang diri, dia sedang menunggu kedatangan Isabel tapi bukannya Isabel yang datang malah Trevor masuk dan segera mengunci pintu.


"Trey..."


Gwen ingin protes tapi buru-buru Trevor memeluknya.


"Bukankah pestanya membosankan, sayang," ungkap Trevor yang mencoba bersabar sedari tadi.


Gwen terkekeh geli karena belum terbiasa mendengar Trevor yang memanggilnya sayang.


"Apa kita kabur saja?"


"Aku ingin menghargai Erik lagipula hal ini hanya terjadi sekali seumur hidup, 'kan?"


Trevor tersenyum manis mendengar itu karena artinya Gwen hanya mau menikah sekali seumur hidup dengannya, dengan kata lain gadis itu tidak akan pernah meninggalkan dirinya.


"Kemari, sayang." Trevor mengubah posisi Gwen untuk duduk di pahanya.


Keduanya saling menatap satu sama lain, tatapan penuh cinta sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Sekarang perjalanan hidupku akan aku habiskan bersamamu, istriku." Trevor kemudian mencium bibir Gwen.



Maudy sudah siap dijemput Isabel untuk bergabung di pesta, Maudy yang tidak nyaman dengan baju dan sepatu yang dia kenakan menurut saja.


Gadis itu ingin pestanya cepat selesai, Maudy ingin rebahan di kasur, pasti rasanya menyenangkan.


Erik yang melihat istrinya datang, mengulurkan satu tangannya. "You look so beautiful!"


"Sepertinya kalau begini terus, aku yang akan mati duluan, suamiku!" Maudy menyambut uluran tangan Erik dan meletakkannya di dadanya. "Kau merasakan debaran jantungku?"


"Ternyata menyukai pria tampan membuatku berpenyakitan!"


Erik tergelak karena Maudy selalu saja menghibur dirinya dengan tingkahnya itu. "Aku pasti akan merindukanmu yang seperti ini!"


Acara resepsi berlangsung hingga malam tiba yang membuat Maudy sangat kelelahan. Maudy yang tidak tahan, diam-diam keluar dari pesta. Gadis itu melepas high heels yang dia pakai karena kakinya sudah lecet.


"Aku tidak tahan lagi," gumam Maudy segera berlari menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Maudy merendamkan kakinya di air dingin dalam bath up kamar mandi.


"Akhirnya!" seru Maudy yang merasa keenakan. "Lebih baik aku sekalian mandi dan..."


Maudy berteriak dalam hatinya karena dia akan memakai lingerie seksi.


"Astaga, akhirnya aku akan bisa nana nini nunu dengan seorang bangsawan yang super tampan! Malam ini, harus berhasil!"


Maudy bertekad dan mempercepat ritual pembersihan diri, Maudy memakai lingerie seksi yang dia beli bersama Gwen, kemudian memakai parfum yang wangi.


Setelah selesai, Maudy memakai jubah tidur dan menunggu suaminya datang.


Cukup lama Maudy menunggu sampai akhirnya pintu kamar terbuka dan Erik menyembul masuk.


Glek!


Maudy menelan ludahnya, dia jadi salah tingkah.


"Su--suamiku, kau sudah datang," ucapnya yang berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya.


Erik mengulum senyumnya melihat penampilan Maudy. "Sepertinya kau sudah siap untuk melecehkanku, Nona Mafia. Aku akan menyerahkan tubuhku malam ini untukmu!"