Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Suka yang Besar



"Benarkah? Aku dalam perjalanan, tunggulah aku!" Gwen yang menerima panggilan dari Peter tertawa kemenangan dalam hatinya.


Gwen mematikan panggilan itu kemudian mengambil racikan parfum yang dia buat untuk Trevor.


"Apa itu, Nona?" tanya Maudy dengan menutup hidungnya karena bau parfum yang dipakai Gwen sangat menyengat di indera penciumannya.


"Kau merasa bau, 'kan?" tanya Gwen balik, dia bertanya untuk memastikan jika parfum racikannya itu memang bau.


Maudy mengangguk. "Aku sampai mau muntah menciumnya!"


"Fix, hidung Trevor memang bermasalah," gerutu Gwen. Tapi sedetik kemudian, Gwen menutup wajahnya dengan kedua tangannya mengingat Trevor yang bersikap manis padanya tadi malam. Tidak ada ancaman seperti biasanya. "Kenapa aku jadi memikirkan mafia mesum itu!"


Sesampai di gedung agensi, Gwen keluar dari mobil dengan percaya diri. Saat orang-orang menutup hidung mereka ketika berpapasan dengannya, Gwen kemenangan. Dia yakin Peter akan berperilaku sama padanya.


"Masuk!" seru Peter dari dalam ruangannya saat Gwen mengetuk pintu.


Gwen langsung membuka pintu ruangan Peter, di sana dia bisa melihat Peter yang begitu berantakan dan sepertinya Gwen tahu penyebabnya.


"Ada apa denganmu, Peter?" tanya Gwen sok perhatian.


Peter merentangkan tangannya supaya Gwen mendekat padanya. "Kemarilah, Sayang!"


Dengan senang hati Gwen mendekat dan duduk di paha Peter, dia yakin sebentar lagi Peter akan menyuruhnya menjauh. Tapi sangat aneh, Peter justru memeluk Gwen dan membenamkan wajahnya di dada Gwen.


"Kau tidak mencium bau di tubuhku?" tanya Gwen kemudian.


"Aromamu sangat memabukkan, Sayang." Peter semakin mengeratkan pelukannya.


Gwen memutar bola matanya jengah, ternyata Peter dan Trevor sama saja tidak mempan dengan bau racikan parfum yang dia buat.


"Lepas tanganmu itu dari tubuhku, Mr. Quill. Selagi aku masih memperingatkanmu, menjauhlah!" ucap Gwen mengancam.


"Ada apa Sayang?" tanya Peter yang tidak mengerti.


"Huh, baiklah. Akan aku buat kau mengerti!" Gwen meraih tangan Peter yang berada di pinggang rampingnya kemudian Gwen berdiri memutar tangan Peter. Dalam satu hentakan, Peter langsung terdorong dari kursinya sampai Peter terjatuh ke belakang.


"Arghhh!" Peter berteriak merasakan sakit ditangannya dan ditambah tubuhnya yang terjatuh ke lantai.


Gwen menyilangkan kedua tangannya di dada dan berdecih. "Jangan berani menyentuhku lagi!"


"Aku tidak akan pernah sudi menjadi wanitamu, kau pikir aku tidak tahu kalau saham mu turun. Sebentar lagi kau akan bangkrut dan jatuh miskin, jadi kau mau membawaku dengan deritamu itu? No way, lebih baik aku keluar dari agensi sialan ini!" Gwen memainkan perannya, seolah-olah dia adalah wanita matrealistis.


"Cih, ternyata kau sama saja dengan Carol!" decih Peter yang kesal.


"Setidaknya aku tidak menjual tubuhku padamu, hanya melihatku saja kau sudah tergila-gila apalagi kalau kau sampai menikmati tubuhku," sahut Gwen menyombongkan dirinya. "Lebih baik jangan memandang semua orang dari fisiknya saja, Mr. Quill."


Gwen ingin keluar dari ruangan Peter tapi buru-buru Peter mencekal tangannya.


"Aku tidak ingin rugi!" Peter mendorong Gwen ke dinding. Dia ingin mencium Gwen karena dia sudah menahannya selama ini.


Bug!


Gwen menendang benda pusaka Peter yang membuat lelaki itu mundur, Gwen dapat merasakan ukuran benda itu karena milik Peter yang mengeras sebab bernafsuu padanya.


"Ish, ternyata ukurannya kecil. Aku lebih suka yang besar dan panjang!" desis Gwen. Kemudian dia membatin. "Seperti punya tuan mafia, Aaaa.... apa-apain ini, sadarlah Gwen! Apa kau sudah tidak waras!"