Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Mencari Wadah Baru



Erik semakin memajukan wajahnya dan itu membuat Maudy langsung memejamkan matanya. Selang beberapa detik, Maudy merasakan benda kenyal menempel di bibirnya.


Maudy menjerit dalam hatinya. "Aaaa.... aku dicium tuan bangsawan yang super tampan!"


Berbeda dengan Maudy justru Erik merasa keanehan karena Maudy tidak memberi respon apapun, setelah bibir menempel terus apa lagi?


Erik mengira jika Maudy sudah pernah melakukan hubungan badan mengingat latar belakangnya yang seorang anggota mafia. Tapi sepertinya Erik salah sangka.


"Apa ini untuk pertama kalinya bagimu?" tanya Erik dengan menjauhkan bibirnya dari bibir ranum Maudy.


Mendengar pertanyaan itu, Maudy membuka matanya dan menjawab. "I--iya."


"Pantas saja!" gumam Erik dalam hatinya. Dia langsung mengusap wajahnya kasar. Sepertinya dia harus menjelaskan secara detail pada Maudy.


"Kau sudah tahu masalah umurku bukan?" tanya Erik kemudian.


Maudy menganggukkan kepalanya.


"Kita akan melakukan penanaman bibit tanpa menikah tapi aku pastikan jika bibit itu tumbuh, hidupmu akan aman dan berkecukupan tanpa harus menjadi mafia. Kau hanya perlu membesarkan anak kita, penerus keluargaku!" jelas Erik yang membuat Maudy langsung memundurkan badannya.


Tentu saja Maudy tahu semua itu tapi jika Erik yang menjelaskan secara langsung kenapa begitu menyakitkan?


Maudy tidak akan mempunyai status, kalau Erik mati dan pergi, siapa yang akan menjamin hidupnya?


Maudy jadi meragu. Gadis itu meneteskan air matanya tanpa sadar.


"Maafkan aku, Tuan Bangsawan. Aku tidak bisa bertanggung jawab!" Maudy langsung beranjak turun dari ranjang dan keluar dari kamar Erik.


Erik masih berbaring dengan lengan yang dia gunakan untuk menutup matanya.


"Aku harus bagaimana sekarang?" ucapnya pilu.


*****


Misi Hongkong di mulai, sebuah pesawat pribadi yang sudah disewa menunggu Trevor dan timnya.


Saat mereka semua sampai di bandara, Trevor menggandeng Gwen untuk masuk ke dalam pesawat.


"Trey, kenapa Erik dan Maudy justru sekarang jadi berjauhan? Bukankah mereka seharusnya semakin dekat?" tanya Gwen yang melihat hubungan Erik dan Maudy tidak baik. Keduanya saling menghindar saat bertemu.


"Maudy menolak menjadi wadah bibit Erik," jelas Trevor yang sudah mendengar beritanya.


"Terpaksa kita harus mencari wadah bibit baru untuk keturunan Erik," jawab Trevor dengan memasangkan seatbelt pada tubuh Gwen.


Rupanya hal itu didengar samar-samar oleh Maudy. Maudy yang duduk sendirian mencuri pandang pada Erik yang duduk di depan.


"Tuan bangsawan akan mencari wadah bibit baru? Jadi, dia akan nana nini nunu dengan wanita lain?" gumam Maudy dengan memegangi dadanya. Maudy merasakan perasaan aneh.


Erik berusaha bersikap normal walaupun dia tidak bisa berhenti memikirkan Maudy tapi dia juga harus mencari wadah bibit baru. Erik harus mengubur perasaannya.


Sebelum pesawat lepas landas, Erik mencoba menghubungi Isabel, dia meminta ibunya untuk memilihkan wanita yang cocok untuk mengandung anaknya.


"Setelah kepulanganku dari Hongkong," jawab Erik saat Isabel menanyakan kapan akan menemui wanita pilihannya.


Selama ini Erik memang menghindari berhubungan dengan wanita karena hidupnya yang tidak akan lama jadi dia memutuskan untuk sendirian sebelum ajalnya tiba.


Erik melirik ke arah Gwen dan Trevor yang tampak semakin mesra. Setidaknya gadis yang sebelumnya menjadi anak persembahan untuk menggantikan dirinya itu mempunyai masa depan.


"Semoga kau selalu bahagia, Gwen," batin Erik.


*


*


*


*


*


Catatan Author :


Awalnya aku mau bikin cerita ini serius guys tapi rupanya aku gak bisa ngilangin ciri khas dagelanku😢 Makanya ceritanya jadi aneh dan cacat logika😭


Aku yakin readers semua sudah dewasa dan tahu mana yang baik dan mana yang buruk, jadi aku harap kalian yang baca cerita ini jadikan sebagai hiburan aja ya.


Aku usahain cerita ini tamat sebelum puasa. Thanks buat readers yang udah baca cerita ini sampai di bab ini, semoga masih betah baca sampe tamat.


Luv ā¤šŸ˜˜