Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
Satu Petunjuk



Tubuh Gwen terus saja bergoyang, sudah puluhan gaya Trevor ajarkan padanya. Tapi lelaki itu tidak pernah puas, Trevor terus menghujamnya lagi dan lagi.


Peluh sudah membanjiri tubuh Gwen begitu pula seprai di ranjang yang ikut basah akibat kegiatan intim mereka yang belum juga selesai.


Penglihatan Gwen mulai mengabur, begitu pula kepalanya mulai berkunang-kunang. Dia takut jika terus berlanjut maka Gwen akan pingsan.


Untuk itu, Gwen memasang wajah mengiba pada Trevor supaya lelaki itu berhenti.


Sangat aneh, Trevor yang biasanya tidak mau berbelas kasih sekarang jadi merasa tidak tega saat melihat wajah Gwen.


Trevor mempercepat hentakannya dan beberapa detik kemudian dia menggeram karena tongkat naga saktinya menyembur untuk kesekian kalinya.


"Akhirnya..." Gwen membatin dan berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal tapi belum juga kembali normal, Trevor menciumi bibirnya lagi.


"Tidak biasanya aku mau mencium pasangan tidurku jadi kau sangat beruntung, Gwen," ucap Trevor setelah mencumbu gadisnya.


Gwen tidak mampu membalas karena pada kenyataannya dia merasa tidak beruntung menjadi teman ranjang boss mafia itu. Dia justru merasa sakit hati.


"Lepas, Trey!" pinta Gwen yang ingin benda panjang itu keluar dari tubuh bawahnya.


Dengan perlahan Trevor melepasnya yang membuat Gwen menggigit bibir bawahnya.


"Jangan begitu, Gwen. Aku bisa menidurimu lagi," ucap Trevor yang merasa apa yang semua dilakukan Gwen begitu menggodanya.


Mendengar itu, Gwen buru-buru menjauhkan dirinya. Gadis itu meraih selimut dan menutupi tubuh polosnya.


"Badanku sakit semua, Trey. Berhentilah atau aku akan memotong tongkatmu yang terus berdiri itu!" Gwen mulai mengancam.


Trevor terkekeh, dia beranjak turun dari ranjang dan mengambil jubahnya.


"Beristirahatlah, nanti malam aku akan membangunkanmu!" ucap Trevor kemudian.


Gwen tidak menanggapi lagi karena rasa lelahnya, dia kembali ambruk dan tertidur.


*****


"Aku tidak suka bau di sini!" komentar Zack saat melewati ruangan yang berbau amis.


"Ck, itu ruangan yang digunakan untuk menyekap tawanan. Aku dengar mereka tidak menggunakan obat apapun saat mengeluarkan organ dalam," balas Dozer menjelaskan.


"Aku lebih suka mencuri atau merampok seperti bos Trevor," tambah Zack yang menjadikan Trevor adalah panutannya.


Sampai akhirnya mereka sampai di ruangan pimpinan The Alligator, Max.


"Apa yang membawa kalian kemari?" tanya Max to the point saat melihat Dozer dan Zack yang datang.


Dozer dan Zack duduk bersebelahan, sementara Max duduk di depan mereka.


"Aku ingin menanyakan sesuatu," jawab Dozer dengan mengeluarkan ponselnya.


Dozer memperlihatkan foto bekas luka Gwen pada Max. "Aku pernah melihat bekas luka seperti ini di markasmu!"


"Kau jadi mata-mata di markasku?" Max justru menjadi geram sendiri.


"Itu dulu saat kau belum menjalin kerja sama bersama bos Trevor, okay." Dozer berusaha menenangkan lelaki psikopat itu.


Max menurunkan egonya, dia mengambil ponsel Dozer dan memeriksanya secara seksama. Matanya membulat karena dia juga mencari sosok yang mempunyai bekas luka itu.


"Cepat katakan, dimana orang yang memiliki bekas luka ini!" ucap Max tidak sabaran, perubahan wajah yang sebelumnya marah itu menjadi jelas terlihat.


Dozer yakin jika Max tahu sesuatu tapi tentu dia tidak bodoh, dia tidak akan memberitahu apapun pada Max.


"Jadi kau tahu bekas luka siapa itu?" tanya Dozer.


Max mengangguk. "Yang mempunyai bekas luka itu adalah putri Marquez yang hilang!"


Sesuai dugaan Dozer sebelumnya, Gwen memang bukan orang biasa tapi putri seorang bangsawan.