
Gwen memakan burger dan pizza hasil kerja keras suaminya hari ini, rasanya berbeda karena Trevor membelinya bukan hasil dari uang curian.
"Apa seenak itu?" tegur Trevor yang melihat istrinya kesenangan.
Gwen hanya menganggukkan kepalanya karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Harga diriku hancur hari ini dan kau harus membayarnya," ucap Trevor penuh penekanan. Dia masih sangat kesal karena harus menjadi pelayan restauran cepat saji, entah apa lagi selanjutnya. "Masih dalam perut saja sudah merepotkan!"
"Jadi kau tidak sayang pada anak-anakmu?" tanya Gwen dengan mata berkaca-kaca.
Gwen langsung berlari ke kamar karena merasa Trevor tidak menginginkan anak-anaknya.
"Ck! Wanita hamil sangat sensitif!" decak Trevor sebal.
Trevor menyusul Gwen ke kamar dan berlutut di hadapan istrinya itu karena Gwen yang duduk di tepi ranjang.
"Kau tahu, kau manusia pertama yang bisa membuatku berlutut seperti ini. Dan kau masih bilang kalau aku tidak menyayangi anak-anakku?" Trevor berusaha mengerti dengan sikap Gwen yang sekarang. "Kalau aku tidak sayang, tidak mungkin aku mau menurunkan harga diriku jadi pelayan restauran cepat saji!"
"Kau bisa bayangkan, bagaimana ratusan anak buahku menertawakan itu semua?"
Gwen menyeka air matanya, dia mulai luluh, hormon kehamilan memang membuatnya suka berfikiran negatif.
"Selama kita berhubungan dan menikah, kau tidak pernah bilang I love you padaku, Trey. Cepat katakan, aku ingin mendengarnya," tuntut Gwen supaya dia percaya dengan cinta suaminya.
"Sayang, aku tidak bisa mengatakan hal kekanakan seperti itu," tolak Trevor yang merasa geli dengan pernyataan cinta seperti itu. Dia lebih suka menunjukkan cintanya dengan caranya sendiri.
Trevor membuka bajunya dan menampilkan tubuhnya yang semakin berotot. Trevor membungkuk dan mencium perut istrinya.
"Trey..." Gwen mengangkat kepala suaminya supaya bisa menatap wajah Trevor. Tangan Gwen meraba wajah tampan itu. "Jangan lakukan misi apapun dan pergi, aku ingin kau ada di sampingku sampai aku melahirkan nanti," pintanya.
Trevor tersenyum smirk, dia membaui tubuh Gwen dan merambat ke telinga istrinya. "Aku tidak akan kemana-mana jika kau terus menjepitku!"
"Tapi pelan-pelan dan jangan lakukan setiap hari," pinta Gwen dengan meraba tubuh suaminya.
"Kau membuat tatto baru, Trey?" tanya Gwen saat melihat ada gambar baru pada tubuh Trevor.
"Hm, aku membuatnya saat menjalankan misi terakhir kali," jawabnya.
Trevor yang mulai terangsang dengan sentuhan Gwen melakukan penyatuan lagi. Tapi kali ini Trevor sangat hati-hati, dia tidak ingin Gwen meminta aneh-aneh lagi jika marah padanya.
*****
Hari pemeriksaan kandungan tiba, Gwen meminta Trevor mengantarnya ke istana Erik karena dia akan memeriksakan kandungan di rumah sakit pribadi keluarga Marquez.
"Bukankah mommy Vio yang akan menemanimu?" tanya Trevor yang tidak ingin bertemu Erik dan Maudy.
"Mommy Vio katanya tidak bisa ke kota karena daddy Noah yang masih marah padamu perihal Silvia. Mommy takut daddy akan menghajarmu," sahut Gwen dengan geleng kepala melihat tingkah mertuanya.
"Kau tidak akan memperlakukan anak kita seperti daddy Noah memperlakukanmu kan, Trey?" tanya Gwen jadi takut akan nasib anak-anaknya.
"Walaupun daddy Noah begitu sebenarnya dia sayang padaku. Kami para mafia menunjukkan kasih sayang dengan cara berbeda," sahut Trevor yang tidak mau Gwen salah paham.
Trevor meraih satu tangan Gwen dan mengecup punggung tangannya. "Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu!"
"Sesuatu apa?" tanya Gwen.
"Anak yang pertama lahir nanti akan diambil oleh daddy Noah," ucap Trevor yang membuat Gwen membulatkan matanya.
"Trey... kau mau memisahkan anak kita?" tanya Gwen yang tidak percaya.
"Aku sudah membuat perjanjian itu jadi tolong menurut saja, okay." Trevor berusaha membujuk.
Gwen membuang wajahnya karena kecewa.