
Gwen masuk ke unit apartemen Peter, di dalam apartemen itu sudah dihias oleh bunga dan lilin yang menjadikan suasana begitu romantis.
Dari gaya Peter sudah terlihat jelas kalau lelaki itu memang seorang perayu sejati.
"Kita makan dulu, Anna," ucap Peter mempersilahkan Gwen untuk duduk.
Kemudian ada koki dan pelayan yang menyajikan makanan.
"Sepertinya kau sudah mempersiapkan semuanya, Peter," ungkap Gwen yang sebenarnya kagum pada Peter kalau saja lelaki itu bukan pemain. Peter begitu manis berbanding terbalik dengan Trevor yang kasar dan arogan.
"Semua memang aku persiapkan untukmu, Anna," balas Peter dengan senyuman manis sekali.
Gwen juga membalas dengan senyuman. Tak berselang lama, alunan musik romantis mengiringi makan malam mereka.
Suasana menjadi begitu romantis sampai Peter berdiri dan mengajak Gwen untuk berdansa.
"Do you wanna dance with me?" tanya Peter sambil berjongkok dan mengulurkan satu tangannya, kakinya bertumpu pada satu kakinya persis seorang pangeran yang ingin mengajak dansa tuan puteri.
Gwen menerima uluran tangan itu dan mereka berdansa dengan romantis di sana.
"Anna..." panggil Peter yang mencuri kesempatan menarik pinggang Gwen sampai gadis itu sangat dekat padanya.
Sebenarnya Gwen merasa tidak nyaman tapi untuk memuluskan rencananya dia mengalungkan kedua tangannya di leher Peter.
"Aku sepertinya tertarik padamu, aku selalu memikirkanmu!" ucap Peter kemudian.
"Oh iya? Bagaimana aku bisa percaya? Kau bahkan baru berpisah dengan Carol," sahut Gwen.
"Aku sudah lama ingin berpisah dengan Carol, aku hanya kasian padanya," dusta Peter. Dia mengelus pipi Gwen dengan lembut. "Percayalah padaku!"
"Kau mau aku percaya padamu?" tanya Gwen memancing.
"Tentu saja, apapun akan aku lakukan supaya bisa memilikimu," balas Peter begitu meyakinkan.
"Apa kau bisa memecat Carol? Kalau kau memecat Carol, aku anggap kau bersungguh-sungguh menyukaiku," tantang Gwen.
Peter terdiam sejenak karena Carol sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan agensi, kalau dia membatalkan berarti Peter harus membayar ganti rugi pada Carol.
"Pasti aku akan memecat Carol," ucap Peter dengan memajukan wajahnya ingin mencium Gwen tapi Gwen menahan bibir Peter dengan tangannya.
"Buktikan, Mr. Quill," Gwen akan jual mahal supaya Peter semakin penasaran padanya.
*****
Gwen keluar dari unit apartemen Peter dengan senyum merekah. Belajar dari Trevor yang selalu menguasai dirinya sekarang dia bisa menguasai Peter.
"Sebentar lagi karirmu akan hancur, Carol," gumam Gwen kesenangan.
Gwen berlarian kecil ingin cepat sampai di mobil, dia ingin mengajak Maudy makan es krim.
Tapi saat membuka pintu mobil, Gwen terkejut karena bukan Maudy yang ada di sana tapi Trevor dengan tatapan tajamnya.
"Masuk atau aku akan menebas kepala pria yang bersamamu tadi!" perintah Trevor yang membuat Gwen menelan ludahnya.
Trevor pasti tidak main-main dan hal itu akan merusak rencana bahkan menambah masalah baru. Akhirnya Gwen masuk dan duduk di samping Trevor.
"Cepat jalankan mobilnya, Neil!" perintah Trevor dengan menutup penghalang mobil supaya Neil tidak bisa melihat penumpang di belakang.
Entah kemana Maudy dan supir yang sebelumnya berada.
"Trey..." belum sempat Gwen menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba gaun yang dia kenakan dirobek oleh Trevor.
"Apa yang kau--" Gwen tidak mampu berbicara lagi karena bibirnya dibungkam oleh Trevor dengan buas.
Dengan amarah menggebu-gebu, Trevor melakukan penyatuan di dalam mobil saat itu juga.
Neil menyalakan musik supaya tidak mendengar suara-suara di belakang sana. Tapi saat lampu merah menyala, Neil terpaksa berhenti sejenak dan mobil bergoyang selama menunggu lampu menjadi berwarna hijau.
Semua mobil tampak tenang hanya mobil Neil saja yang terus bergoyang yang mana membuat para pengguna jalan menatap aneh pada mobil itu.
Neil menurunkan kaca dan berbicara pada pengguna jalan yang terus memperhatikan mobil yang dia kendarai. "Mobil ini limited edition, keluaran terbaru jika berhenti mobilnya akan bergoyang sendiri!"