
Jullian dan Juvel minum susu dari botol dari asi yang sudah diperah sebelumnya. Jullian bersama Gwen dan Juvel bersama Trevor.
Mereka berusaha menidurkan bayi mereka yang sedari tadi tidak mau tidur dan menangis.
"Coba usap rambutnya," bisik Gwen supaya Trevor mengikuti apa yang dia lakukan pada Jullian.
Trevor mengusap rambut Juvel perlahan dan benar saja lama kelamaan bayi perempuan itu memejamkan matanya.
Setelah kedua bayi kembar mereka tertidur, dengan perlahan Gwen dan Trevor turun dari ranjang king size mereka.
Trevor segera menggendong sang istri menuju kamar mandi. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?"
"Boleh," sahut Gwen malu-malu.
Sudah dua bulan lamanya Trevor tidak menyentuh istrinya, lelaki itu sudah tidak bisa menahan diri lagi begitu juga dengan Gwen yang merindukan sentuhan suaminya.
Selain pasca melahirkan, si kembar yang rewel dan suka menangis mengganggu waktu Gwen dan Trevor untuk bermesraan.
Saat melihat Gwen kelelahan, Trevor juga tidak tega mengganggu istrinya karena dia tahu mengurus si kembar sangat melelahkan apalagi Gwen yang juga menyusui mereka.
"Aku merindukanmu," ucap Trevor dengan berbisik dan menggigit telinga istrinya.
Hanya seperti itu saja, tubuh Gwen sudah bergetar. Dia mengusap wajah suaminya.
"Aku juga merindukanmu!" Gwen berinisiatif mencium suaminya duluan.
Terjadi pergulatan indera pengecap di kamar mandi itu, di mana tubuh Gwen duduk di wastafel sementara Trevor berdiri di depan istrinya.
"Trey, mungkin punyaku tidak akan senyaman dulu karena sudah mengeluarkan si kembar," ucap Gwen yang jadi rendah diri.
"Kau bicara apa sayang, hanya rasamu yang paling nyaman saat menjepitku!" Trevor berusaha membujuk istrinya kalau tidak apa-apa, justru dengan melahirkan si kembar, Trevor semakin tergila-gila pada Gwen.
Keduanya tertawa bersama saat mereka akan berciuman lagi, suara tangisan si kembar terdengar yang membuat mereka mengurungkan niatnya.
"Ck! Seharusnya mereka bersama nanny mereka," decak Trevor kesal.
Saat Gwen dan Trevor keluar dari kamar mandi, rupanya Jullian yang terbangun duluan memukul Juvel yang masih tidur karena jarak mereka yang dekat.
"Jullian, jangan memukul adikmu!" Gwen segera menggendong bayi laki-lakinya dan menimang Jullian.
Sementara Trevor berusaha menenangkan Juvel, walaupun awalnya kaku sekarang dia sudah terbiasa.
"Ayo main sama daddy!" ajak Trevor dengan mengambil bungkus tas milik Gwen dan memasukkan Juvel di sana.
Kemudian Trevor membawa Juvel ke kamar mandi dan mengisi air di bath up.
[Ilustrasi apa yang dilakukan Trevor ke Juvel]
Trevor menggoyangkan bungkus tas yang membuat Juvel tertawa karena menikmati dinginnya air.
Gwen mengambil pembungkus tas dan memasukkan Jullian di dalam sana.
Saat Gwen menggoyangkan pembungkus tas di dalam air, Jullian juga tertawa.
Suara tawa si kembar memenuhi kamar mandi, Gwen dan Trevor sangat menikmati momen mereka menjadi orang tua baru.
Sampai tak terasa, si kembar sudah berumur tiga tahun. Mereka tumbuh menjadi anak-anak nakal karena kurangnya bersosialisasi.
Hidup mereka hanya di mansion, kadang ikut Trevor ke markas dan kadang berkunjung ke Pulau Biru.
"Tolong jadi anak pintar hari ini, okay," pinta Gwen pada kedua anaknya karena mereka akan berkunjung ke kediaman Erik.
Ada pesta jamuan dan mereka diundang tapi mereka hanya datang bertiga karena Trevor sudah tidak pulang selama beberapa bulan ini. Pasti menjalankan misi rahasia.
"Okay, Mom." Si kembar menjawab dengan kompak.
Saat sampai di kediaman Erik, putri kecil Erik yang bernama Fiona menyambut kedatangan si kembar.
"Juvel! Jullian!" seru Fiona, Fiona gadis kecil periang sama seperti ibunya.
"Hallo, Fiona." Si kembar bersikap sebaik mungkin.
Fiona membawa si kembar ke meja yang penuh dengan cokelat.
"Makanlah, aku meminta mommy menyiapkan banyak cokelat untuk kalian," ucap Fiona.
Jullian yang jahil mengeluarkan sesuatu yang dia sembunyikan sedari tadi.
"Aku dan Juvel juga menyiapkan sesuatu untukmu!" ucap Jullian.
"Benarkah? apa itu?" Fiona tampak antusias.
"Buka tanganmu, Fiona!" pinta Juvel.
Fiona membuka tangannya dan Jullian memberikan seekor katak yang sudah dibedah sebelumnya ke tangan Fiona.
"Aaaa... " Fiona berteriak karena kaget, dia ingin berlari tapi kakinya tersandung yang membuat tubuh kecilnya menabrak meja. Semua cokelat yang ada tumpah ke tubuhnya.
"Mommy... Daddy..." Fiona menangis memanggil Erik dan Maudy.
Erik yang mendengar tangisan Fiona segera mendatangi putrinya. Dia kaget melihat tubuh Fiona yang bermandikan cokelat.
Dan si kembar tertawa kesenangan karena berhasil mengerjai Fiona.
"Dasar anak-anak mafia!" umpat Erik dalam hatinya. "Tunggu! Bukankah istriku juga mafia? Berarti Fiona setengah mafia?"
"Aku harus menjadikan Fiona bangsawan seutuhnya!"