Me And The Boss Mafia

Me And The Boss Mafia
The Wedding Day



Hari H pernikahan, Trevor mondar mandir karena acara belum juga dimulai. Dia sudah sangat merindukan Gwen, beberapa hari tidak bertemu dengan gadis itu membuat tidurnya gelisah.


"Tenanglah!" tegur Noah yang melihat putranya tidak tenang sedari tadi.


"Kenapa acaranya begitu lama!? inilah kenapa aku ingin menikah di Pulau Biru saja!" kesal Trevor.


Sampai Neil datang dan memberitahu jika Trevor sudah bisa keluar bersama Erik untuk menunggu pengantin mereka.


Di tempat acara, Isabel menyapa tamu undangan dan mempersilahkan mereka duduk di tempat yang disediakan karena acara akan segera dimulai.


Erik sudah tampak gagah menunggu pengantinnya, semua berjalan sempurna sampai atensi semua undangan beralih pada Trevor yang datang ke pelaminan.


"Apa-apaan ini!?" Isabel memegang dadanya. "Kenapa acara pernikahan seperti acara pemakaman!"


Bagaimana tidak, Trevor datang diiringi oleh puluhan anak buahnya yang bahkan nyaris berjumlah ratusan.


Aura tempat pernikahan menjadi gelap karena mereka semua memakai setelan serba hitam ditambah dengan kaca mata hitam.


"Bisakah jangan bersikap berlebihan?" tegur Erik saat Trevor mendekat padanya.


"Kenapa? Anak buahku hanya ingin melihat bos mereka menikah!" sahut Trevor dengan santainya.


"Lagi pula ada makanan gratis, sayang untuk dilewatkan!"


Erik tidak mau berdebat lagi karena jantungnya berdegup kencang, sebentar lagi pengantinnya akan datang.


Dan benar saja, tak lama Maudy berjalan dengan diiringi oleh Isabel menghampiri mempelai pria.


Taburan bunga mengiringi langkah Maudy, senyumnya terus merekah apalagi Erik yang sangat tampan sudah menunggunya, membuat Maudy ingin meloncatkan diri pada calon suaminya.


Hal sama dirasakan oleh Trevor, lelaki itu sampai ingin berlari menerjang Gwen yang tengah berjalan dengan digandeng oleh Noah dan Violet.


Kalau saja Erik tidak menahannya, mungkin ada adegan memalukan di acara pernikahan itu.


"Tahan sebentar saja, dasar berandal!" ketus Noah yang menyerahkan Gwen pada anaknya laki-lakinya itu.


Trevor memutar bola matanya jengah, dia lebih memilih fokus pada Gwen yang tampak sangat cantik hari ini.


"Aku tidak sabar untuk menelanjangimu di atas ranjang, Gwen!" bisik Trevor yang mendapat tinju dari Gwen.


"Kau menyebalkan, Trey!" Gwen memajukan bibirnya.


Sejenak keadaan menjadi khidmat, kedua pasangan pengantin mengucapkan janji suci mereka.


"Akhirnya kita menikah, Tuan Bangsawan!" ucap Maudy saat ciuman mereka terlepas.


"Mulai sekarang panggil aku, suami!" pinta Erik dengan mengelus pipi wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Maudy menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.


"Suamiku," lirihnya.


Erik tergelak melihat tingkah Maudy. "Kalau seperti ini, kau seperti bukan seorang mafia!"


Sementara Trevor belum mau melepas ciumannya, dia sibuk menjelajahi mulut Gwen yang membuat Violet berdehem dengan kuat supaya anaknya berhenti berciuman.


Plup!


Akhirnya Trevor melepas ciumannya juga, Gwen langsung memukul dada lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Trey, kau membuatku malu!" protesnya.


"Begitulah saat aku tidak bisa menahan diri, aku akan melakukannya di manapun dan tidak peduli walau kau malu sekalipun!" Trevor mengancam seperti biasanya.


Tapi karena Gwen sudah sah menjadi istrinya, dia akan bersikap lemah lembut.


Trevor menarik pinggang Gwen dan mengecup salah satu telapak tangan istrinya itu. "Mulai sekarang, aku akan memanggilmu sayang karena kau istri kesayanganku!"


Blush!


Wajah Gwen langsung merona, dia bingung harus menjawab apa sampai dia mengingat lingerie seksi yang baru dia beli.


"Trey, aku mempunyai hadiah pernikahan untukmu!" Gwen menggigit bibir bawahnya.


Trevor menelan ludahnya, di matanya Gwen sangat nakal seperti ingin menggodanya.


Untuk itu, atensi Trevor beralih dan mengarah pada Neil yang duduk di kursi paling depan. Trevor memicingkan matanya menatap tangan kanannya itu seolah memberi kode.


"Bos, kenapa Neil?" tanya Zack yang duduk di sampingnya.


"Bos memintaku untuk membelikan obat kuat!" sahut Neil yang mengerti kode mata dari bosnya.


"Wah, kau memang keren, Neil!"