
Trevor membalik badannya supaya bisa menatap Gwen, tanpa aba-aba Gwen langsung memeluk Trevor, gadis itu tidak peduli jika di wajah dan badan Trevor masih berlumuran darah yang dia tahu hanya lelaki itu tempat berlindung paling aman. Jujur saja Gwen masih ketakutan atas apa yang dia alami malam ini.
Trevor membalas pelukan Gwen dengan mengecupi puncak kepala gadis itu, akhirnya dia bisa memeluk Gwen juga.
"Untuk mendapatkan satu pelukan ini, entah berapa nyawa yang sudah hilang jadi jangan pernah pergi dariku, Gwen." Trevor terus membaui rambut Gwen. "Jadi, kau harus menyukaiku sampai ingin mati jika tidak melihat wajahku sedetik saja, ini adalah perintah mutlak untukmu, mengerti!?"
Gwen semakin mengencangkan pelukannya, itulah Trevor dan entah kenapa Gwen memang menyukai Trevor yang seperti itu.
Dari kejauhan Violet hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin mengganggu momen anaknya. Violet bergabung bersama Dozer dan yang lainnya.
"Kita harus segera pulang, kalian bisa ikut kami ke Pulau Biru dan jangan lupa panggil dokter Marry!" perintah Violet berlalu pergi karena ingin mencari Noah.
*****
Beberapa helicopter mendarat di Pulau Biru, setelah melakukan pembantaian di istana Marquez. Semua anggota Black Mamba meninggalkan istana itu dan kembali ke markas utama. Kecuali anggota inti yang menuju ke Pulau Biru, tempat paling aman untuk bersembunyi.
Dokter Marry sudah duluan datang bersama rekan-rekannya, mereka bersiap mengobati Noah, Trevor dan Gwen yang terluka.
"Bertambah lagi luka di tubuhmu, Noah," gerutu Violet sambil memapah suaminya untuk masuk ke dalam rumah utama.
"Sorry Baby. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi. Sebaiknya aku mengembangkan teknologi yang bisa membuat luka sembuh dengan cepat," sahut Noah yang memikirkan ide baru dengan otak jeniusnya.
"Aku tidak ingin kau menjadi botak, okay." Violet menolak mentah-mentah ide Noah.
Sementara di belakang mereka ada Trevor yang menggendong Gwen ala bridal. Gwen sangat malu, jadi gadis itu membenamkan wajahnya di dada Trevor. Dia tidak menyangka orang tua Trevor turut serta dan sekarang membawanya ke pulau pribadi mereka.
"Cepat obati, Gwen!" perintah Trevor pada rekan dokter Marry saat sampai di rumah utama. Gwen berada di salah satu kamar untuk diobati lukanya di sana.
Trevor memisahkan diri karena tidak ingin Gwen melihat lukanya yang membuat gadis itu nantinya akan merasa bersalah.
"Tidak akan sakit, Tuan. Jadi, tahanlah sebentar," ucap dokter Marry saat menyuntikkan obat bius pada luka Trevor karena dia akan menjahitnya.
Trevor hanya diam dan memejamkan matanya. Dia sekarang dalam posisi tengkurap, dia ingin istirahat sejenak tapi Trevor mengingat sesuatu.
"Apa pengaruh suntikan kontrasepsi itu masih lama?" tanya Trevor kemudian.
"Suntikan kontrasepsi Gwen? suntikan itu hanya berlaku selama satu bulan saja setelah itu Gwen harus menerima suntikan lagi," jelas dokter Marry yang fokusnya pada luka Trevor.
"Jangan lakukan lagi, aku akan menghamili Gwen!" Trevor berkata dengan gamblang yang membuat atensi dokter Marry langsung beralih menatap wajah tampan itu. Dia merasa tidak percaya.
"A--apa aku tidak salah dengar, Tuan?" tanya dokter Marry tergagap.
"Aku tidak ingin Gwen pergi lagi jadi aku harus mengikatnya dengan anak," jelas Trevor.
Trevor langsung terdiam, dia belum memikirkan sejauh itu.
Beberapa menit berlalu akhirnya luka Trevor sudah berhasil dijahit begitu juga luka Noah dan Gwen. Dokter Marry dan rekan-rekannya segera pamit undur diri, walaupun mereka dibayar dengan upah yang besar tapi mereka tetap tidak nyaman berada di sarang mafia.
"Kalian istirahatlah, aku ingin menghabiskan waktuku bersama, Gwen," ucap Trevor pada para anak buahnya dengan maksud dia tidak ingin diganggu.
Neil, Dozer dan Zack menganggukkan kepala mereka. Kemudian mereka segera memilih kamar dan membersihkan diri mereka.
"Bagaimana kalau kita ke markas yang ada di Kasino?" usul Zack sebelum masuk ke kamarnya. "Di sana banyak wanita cantik dan seksi!"
"Aku tidak ingin apapun selain berbaring di kasur!" tanggap Neil yang tidak setuju.
"Aku juga," timpal Dozer, dia justru ingin segera menghubungi Ruby.
"Ish, kalian tidak menyenangkan!" gerutu Zack yang merasa diabaikan.
*****
Trevor mendatangi di mana kamar Gwen berada, gadis itu selesai membersihkan dirinya, Gwen tampak segar walaupun ada perban yang menghiasi lehernya.
Gwen memakai gaun tidur berwarna putih pemberian Violet.
Saat pintu kamarnya terbuka dan Trevor menyembul masuk, gadis itu segera menenggelamkan dirinya dalam selimut. Entah kenapa Gwen jadi malu luar biasa.
Trevor terkekeh atas sikap Gwen, dia yang memang bertelanjang dada merangkak naik ke atas ranjang yang membuat jantung Gwen semakin berdebar.
"Semoga dia tidak membuka selimutku," ucap Gwen berdoa dalam hatinya. Tapi rupanya doa Gwen tidak terkabul di detik itu juga Trevor membuka selimutnya dan membuang selimut itu ke lantai.
"Trey..." Gwen menelan ludahnya kasar, wajahnya merona membuat Gwen semakin cantik malam itu.
"Kenapa kau bersembunyi Gwen?" tanya Trevor kemudian.
"A--aku... malu..." Gwen memalingkan wajahnya. "Rasanya aku tidak pantas mendapatkan semua ini, aku hanya anak yang tidak diinginkan dan tidak berharga," ucap Gwen pilu mengingat dirinya yang dilahirkan hanya untuk menjadi tumbal.
Trevor menarik Gwen kepelukannya, dia tidak percaya Gwen akan berpikiran serendah itu.
"Kau tahu, harga untuk satu pelukanmu sangat mahal. Jadi, jangan pernah berfikir kau tidak berharga. Bagiku, kau sangat tidak ternilai harganya," ucap Trevor yang meraih dagu Gwen kemudian mencium bibir gadis itu.
Gwen merasa tersentuh dengan ungkapan Trevor padanya, Gwen membalas ciuman lelaki itu dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher kokoh Trevor, didetik Gwen memejamkan matanya didetik itulah Gwen menyerahkan hidupnya pada Trevor.