
"Hahaha!"
Terdengar gelak tawa Neil, Dozer dan Zack yang menertawakan kelompok Jeremy yang mundur karena tidak bisa melawan Erik yang kebal senjata.
"Pasti setelah ini akan tersebar rumor besar tentang organisasi mafia kita," celetuk Zack yang membayangkan klan mafia Trevor akan semakin kuat dan ditakuti.
"Aku juga berpikir seperti itu, aku akan terus memantau perkembangannya," sahut Dozer dengan menepuk pundak Zack.
"Sudah dipastikan besok kita tidak ada gangguan lagi!" timpal Neil yang merasa yakin misi mereka akan berhasil seratus persen.
Trevor hanya mendengarkan celotehan para anak buahnya, dia sibuk memutar-mutar cincin yang ada di tangannya. Trevor tidak sabar melamar Gwen.
Saat ini mereka dalam perjalanan menuju Macau, tempat misi terakhir mereka.
*****
Gwen terbangun dari tidur panjangnya, dia melirik ke arah samping dan mendapati Trevor yang masih tertidur pulas.
Gwen pelan-pelan turun dari atas ranjang. Gadis itu berdiri di jendela kamar hotel yang telah disewa dan melihat pemandangan kota Macau.
Rasanya dia tidak percaya bisa ada di sini, dulu Gwen berpikir jika dia akan terkurung selamanya di kediaman keluarga Carol.
"Apa yang kau pikirkan, hem?"
Tiba-tiba Gwen merasakan Trevor yang memeluknya dari belakang.
"Kau memang sangat peka, Trey," ucap Gwen dengan memegang tangan Trevor yang melingkar di perutnya.
Trevor tidak menjawab karena sibuk menciumi tengkuk Gwen. "Kita harus bersiap-siap, hari ini misi terakhir kita!"
"Setelah itu kita akan berkencan!"
Gwen mengulum senyumnya, dia sebenarnya juga tidak sabar berkencan dengan Trevor.
Keduanya segera bersiap, mereka akan ikut bergabung bersama orang-orang kaya yang akan melakukan judi besar-besaran di sebuah pertandingan pacuan kuda.
"Pacuan kuda?" tanya Gwen memastikan.
"Ya, kita harus membawa mobil sendiri ke sana!" jawab Trevor.
Saat ini keduanya berada di dalam lift, Trevor mencoba menghubungi Neil.
"Bagaimana Neil?" tanya Trevor.
"Sudah siap, Bos." Neil sudah menunggu di bawah.
Erik yang masih kesal atas kejadian semalam, memicingkan matanya saat melihat Trevor.
"Kau tidak akan menggunakan aku sebagai tameng lagi, 'kan?" tanya Erik sebal.
"Kau hanya akan jadi pemanis hari ini," jawab Trevor santai.
Mereka kemudian segera masuk ke mobil dengan berpasangan. Mereka semua menuju lokasi dan membaur seperti di pesta.
Neil dan Zack membawa dua koper uang supaya meyakinkan jika mereka juga ikut berjudi.
Sementara Dozer mengamati keadaan, dia meretas cctv dan juga memastikan keamanan tempat itu supaya bisa mereka lewati dengan mudah nantinya.
"Semua sudah siap, Bos!" Dozer melapor, dia menyuntikkan obat tidur pada para penjaga di pintu keluar.
Trevor yang duduk bersama orang-orang kaya yang tengah sibuk melihat pertandingan, menyunggingkan senyumnya.
"Saat Gwen berteriak nanti, kita harus bergerak dengan cepat!" bisik Trevor pada Erik yang duduk di sampingnya.
Erik hanya menganggukkan kepalanya. Semua orang yang berada di ruangan khusus itu tampak tegang karena jalannya permainan.
"Gwen, sekarang!" perintah Trevor dibalik chip.
Gwen menggerutu dalam hatinya. Dia berdiri di tengah-tengah kerumunan orang-orang kaya banyak uang itu.
"Kau pasti bisa!" Gwen menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
Kemudian Gwen berdehem dan bersiap berteriak menyebutkan kodenya.
"KAMKUAT!!!!!"
Gwen berteriak sekuat tenaga bersamaan dengan musik yang terdengar di tempat itu.
Semua orang-orang yang ada di sana tiba-tiba seperti di remote tanpa sadar. Mereka melepas baju mereka dan menari mengikuti alunan musik.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Erik yang bingung.
Trevor terkekeh. "Aku memberi mereka sugesti jika mendengar kata KAMKUAT maka mereka akan membuka baju dan menari seperti orang gila!"
"Kau menghipnotis mereka? Jadi, itu tujuan kita datang ke pesta tadi malam?" tanya Erik lagi memastikan.
"Mungkin seperti itu, aku hanya butuh menjabat tangan dan memberikan mereka sugesti!" jawab Trevor yang berdiri dari tempatnya. "Ayo cepat ambil semua uang mereka!"