
Di sebuah ballroom sebuah hotel bintang lima, Zea terlihat begitu anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna putih gading, wanita itu begitu bersinar layaknya pengantin baru dengan seikat bunga Baby Breath di tangannya. Sebuah bunga berwarna putih bentuk imut yang melambangkan ketulusan, cinta dan kebahagiaannya. Pria yang berdiri di samping Zea tak kalah menawan, Sam begitu gagah mengenakan setelan jaz berwarna hitam.
Setelah enam tahun menikah, mereka sepakat menggelar resepsi pernikahan mengingat dulu mereka hanya menikah secara sederhana. Diam-diam Sam mengetahui jika Zea pernah bermimpi ingin mengenakan gaun saat menikah, meski sedikit terlambat Sam ingin mengabulkan keinginan istrinya.
Meski tak banyak tamu yang datang, namun acara begitu meriah karena kehadiran dua bocah kecil yang sangat menggemaskan. Mereka berdandan layaknya pengantin pria, namun sayangnya tak memiliki mempelai wanita.
Seperti pesta pernikahan pada umumnya, Sam dan Zea menerima ucapan selamat dari tamu undangan, mereka juga berdansa dengan sangat mesra, untuk sesaat mereka seperti pasangan muda yang belum memiliki anak.
Di kursi khusus tamu undangan, Rama duduk bersama kedua orang tua serta kedua keponakannya. Rama ikut bahagia melihat kembarannya menemukan kebahagiaannya. Sepertinya kini saatnya dia untuk memikirkan hidupnya dan bisa mempercayakan Zea kepada Sam seutuhnya.
"Kamu kapan akan seperti mereka Ram?" bisik Indhi tiba-tiba, Rama menoleh dan hanya tersenyum kepada ibunya. "Kamu sudah menjadi Dokter Spesialis sekarang, apa lagi yang kamu cari Ram," sambung Indhi seraya mengusap punggung tangan putranya.
"Ma, Rama masih ingin mengejar cita-cita Rama. Mama tau kan Rama ingin memiliki gelar Profesor," jawab Rama dengan lembut.
"Setelah menikah kan bisa Ram!" tegas Indhi.
Rama menggeleng pelan, pria itu benar-benar belum siap menikah meski kini usianya sudah 26 tahun. "Rama pasti akan menikah ma, mama dan ayah tenang saja!"
"Uncle tidak usah menikah, lihat momy dan dady mereka sering sekali berdebat. Kepala Nick sampai sakit mendengarnya," celetuk Nick layaknya orang dewasa, bocah lima tahun itu bersedakap selagi menatap Rama.
Rama dan Indhi terkekeh, Indhi lalu mengusap kepala cucunya dengan lembut. "Momy dan dady bukan berdebat sayang, mereka sedang berdiskusi," terang Indhi dengan sangat hati-hati.
"No, oma. Berdiskusi itu menggunakan suara yang pelan, momy sering berteriak kalau dady berencana berhenti bekerja dan kembali menjadi dosen!"
Indhi dan Rama saling melempar pandang, mereka tidak menyangka Nick begitu peka terhadap kedua orang tuanya. "Gaya bicara momy memang begitu sayang, momy bukan meneriaki dady, tapi momy harus bicara lebih keras agar dady mendengar ucapan momy," kini Rama yang menjelaskan pada keponakannya itu.
Indhi hanya bisa tersenyum mendengar ocehan cucu pertamanya, untung saja Rama membawa buku kedokteran sehingga Nick menghentikan ocehannya dan mulai sibuk dengan buku kedokteran milik unclenya. Sementara itu, Nicho sedang sibuk menyantap makanannya, dia tak menggubris ocehan kembarannya yang selalu membuatnya pusing.
Pesta hampir selesai, beberapa anggota keluarga dan rekan mulai mengantri untuk berfoto bersama pengantin, senyum tak pernah pudar di wajah Zea, dia begitu bahagia karena semua impiannya tercapai sudah. Di cintai Sam dan memiliki dua anak yang sangat menggemaskan.
Kini, Zea dan Sam akan berfoto bersama kedua orang tuanya, Rama, Clara dan Daniel beserta orang tua Clara, tak lupa juga kedua orang tua Dave, hanya saja Dave tidak bisa datang karena dia sudah berangkat ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya.
Setelah acara selesai, Indhi dan Ega sengaja mengajak Nick dan Nicho pulang dan membiarkan Zea dan Sam memiliki waktu berdua. Selama ini mereka sibuk dengan kedua anak serta pekerjaan Sam sehingga mereka kurang memiliki waktu berdua.
Sam menggendong Zea ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar hotel yang sudah mereka pesan sebelumnya. Mereka benar-benar terlihat seperti sepasang pengantin baru yang saling mencintai.
"Apa kita akan melakukan malam pertama?" tanya Zea seraya menatap wajah suaminya.
Sam mendudukan Zea di tepi tempat tidur, pria itu lalu berlutut di lantai sambil menggenggam tangan Zea. "Maafkan aku karena membiarkanmu sendirian saat malam pertama kita. Aku akan menebusnya malam ini sayang, anggap saja ini adalah malam pertama kita!" ucap Sam dengan mata berkaca-kaca.
Zea menangkup wajah suaminya dengan senyum yang begitu hangat. "Jangan meminta maaf terus, kau tidak salah karena pernikahan kita dulu begitu mendadak. Kau tidak perlu menebus apapun karena aku sangat bahagia sekarang. Di cintaimu olehmu adalah mimpiku dan aku sudah menggapainya. Cukup cintai aku untuk waktu yang sangat lama!"
"Terima kasih sayang! Aku mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu! Tolong cintai aku selama uncle Sam!"
...••TAMAT••...