Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Patah hati



Dave segera menghampus air mata yang lolos tanpa seizinnya, namun sayang nya semua orang yang ada di sana sudah melihat Dave menitikan air mata. Zea yang sedang di suapi oleh suaminya pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Dave.


"Kau kenapa Dave?" tanya Zea dengan wajah khawatir. "Apa kau sakit?" tanya lagi.


Dave menggeleng dengan cepat. "Mataku kelilipan Ze," jawab Dave bohong.


"Kelilipan?" ulang Zea tak percaya.


Tiba-tiba Clara merangkul pundak Dave sambil tertawa. "Makannya jangan suka main bedak, jadi kelilipan kan," ucap Clara seraya mengedipkan sebelah matanya saat Dave menatapnya penuh tanda tanya.


"Bedak apa Ra?" sekidik Zea.


"Jadi aku lagi make up tadi, kata nya Dave mau nyobain eh malah kena mata. Iya kan Dave?" Clara menekan pundak Dave agar pria itu mengiyakan ceritanya.


"I-iya Ze," jawab Dave pada akhirnya.


"Ada-ada aja. Ya udah ikut sarapan sekalian yuk," Zea menarik tangan Dave namun Dave dengan cepat menepis tangan Zea.


"Maaf Ze, aku ada kelas pagi. Aku sama Clara juga udah sarapan tadi," tolak Dave dengan cepat. "Aunty, uncle, kita pamit dulua ya!"


Ega dan Indhi hanya bisa tersenyum karena mereka sebenarnya tau alasan kenapa Dave menangis. Sejak kecil Dave memang sangat perhatian pada Zea, awalnya mereka mengira hanya perhatian dari seorang saudara, namun ketika mereka beranjak dewasa, perhatian yang Dave tunjukan adalah perhatian seorang pria kepada wanita, Dave selalu menatap Zea penuh cinta, sayang nya Zea selalu terang-terangan jika dia menyukai Sam sehingga Dave tak pernah memiliki kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.


Setelah kepergian kedua sahabatnya, Zea kembali melanjutkan sarapannya bersama sang suami. Dia sangat ingin pergi ke kampus, namun karena insiden beberapa bulan yang lalu terpaksa Zea mengajukan cuti selama dua semester ke depan.


"Uncle tidak ke kampus?" tanya Zea setelah menyelesaikan sarapannya, keduanya kini berada di halaman depan untuk berjemur. Matahari pagi sangat bagus untuk ibu hamil.


"Tidak, aku cuti sampai besok," jawab Sam seraya seraya menatap istrinya. "Ze," panggil Sam dengan lembut, gadis itu menoleh sehingga netra keduanya bertemu.


"Kenapa uncle?" tanya Zea tanpa mengalihkan pandangannya, rasanya sangat senang melihat wajah tampan suaminya di bawah siraman sinar matahari.


"Soal Dave, kau tau kan kalau dia..."


"Aku tau," potong Zea sebelum Sam menyelesaikan kalimatnya.


"Lalu kenapa kau seolah tidak tau tentang perasaan Dave?"


"Aku hanya tidak ingin persahabatan kami hancur. Lebih baik aku pura-pura tidak peka, sama seperti Dave yang pura-pura tidak tau jika Clara menyukainya," jelas Zea dengan senyum yang terlihat hampa.


"Hm, sudahlah, jangan pikirkan lagi. Lebih baik kau fokus pada bayi kita," ucap Sam seraya mengusap perut istrinya. Dia lalu manarik tubuh Zea agar bersandar di pundaknya. Rasanya sangat nyaman ketika duduk bersama orang yang kita sayangi.


"Uncle," panggil Zea dengan manja.


"Hem."


"Hmm, bagaimana kabar bu Feli?" tanya Zea ragu, dia sebenarnya tidak ingin membahasnya, namun Zea penasaran apa yang terjadi setelah kecelakaan wakti itu.


"Dia sudah di penjara, sebulan lagi sidang putusan akan di gelar. Aku harap dia mendapatkan hukuman yang setimpal," jawab Sam dengan lantang, saat ini hati nya benar-benar tak merasakan apapun saat dia membicarakan Felisya, perasaannya benar-benar sudah mati, hanya tersisa sedikit empati mengingat mereka sudah kenal sejak lama.


"Aku sangat bersyukur uncle tidak terjebak dengan wanita licik itu!"


Zea menangkup wajah Sam dan sedikit mengangkatnya, gadis itu tersenyum seraya menatap wajah sang suami. "Aku sudah melupakan semuanya, aku harap uncle juga melupakan masa lalu. Sekarang kita sudah bahagia, tugas uncle sekarang adalah tetap bersamaku selamanya. Terima kasih karena uncle sudah berusaha keras memperjuangkan Zea dan bayi kita, tolong cintai aku selamanya uncle Sam!"


Sam begitu terharu, bodohnya dia telah menyia-nyiakan wanita sebaik Zea yang mencintainya dengan tulus. Bodohnya dia yang tertipu oleh wanita seperti Felisya, setelah wanita itu masuk penjara semua kebusukan wanita itu terungkap dan membuat Sam semakin membenci Felisya.


"Terima kasih sayang. Aku berjanji akan selalu di samping mu dan mencintaimu selamanya," Sam memeluk tubuh istrinya dengan mesra, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membahagiakan Zea dan akan terus mencintainy.


Sementara di tempat lain, Clara menepikan mobilnya karena Dave terlihat sangat murung. Clara memang sengaja memaksa Dave berangkat bersamanya karena dia khawatir Dave tidak fokus berkendara dan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Clara memiringkan tubuhnya sehingga dia bisa melihat wajah sedih Dave. "Mau sampai kapan wajahmu di tekuk begitu Dave?" tanya Clara.


Dave menoleh sekilas, namun saat dia tau Clara sedang menatapnya, pemuda itu segera membuang wajahnya, menatap ke luar jendela. "Aku merasa aku adalah orang yang jahat Ra. Bukankah seharusnya aku bahagia melihat Zea bahagia? Tapi kenapa aku marah dan kecewa melihat kebahagiaan Zea, aku sangat jahat Ra!" ungkap Dave tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kalau kau begitu menyukainya kenapa dari dulu kau tidak mengatakan yang sebenarnya?"


Dave menghembuskan nafas dengan kasar. "Aku terlalu pengecut Ra!" akunya, selama ini dia pikir melihat Zea bahagia maka dia akan bahagia juga, tapi nyatanya Dave salah, setelah Zea menikah keinginannya untuk bersama Zea justru semakin besar.


"Kalau begitu lupakan dia!"


Dave menoleh ke arah Clara. "Tidak semudah itu Ra, aku sangat mencintainya, bagaimana mungkin kau melupakannya semudah itu?" tegas Dave dengan mata berkaca-kaca.


"Perlahan Dave, lakukan secara perlahan!"


Karena Dave hanya diam, Clara kembali melajukan mobilnya. Selama perjalanan menuju kampus keduanya hanya diam. Clara mengantar Dave sampai di depan Fakultas Kedokteran.


"Thanks Ra," ucap Dave sebelum pemuda itu keluar dari mobil.


Clara hanya mengangguk, dia lalu melajukan mobilnya menuju gedung Fakultas Hukum. Hari ini bukan hanya Dave yang patah hati, Clara pun merasakan demikian saat Dave terang-terangan mengakui jika dia sangat mencintai Zea.


"Kenapa hubungan kita rumit sekali," batin Clara, dia merasa frustasi, kuliah saja sudah membuatnya pusing, di tambah masalah percintaan yang tak mulus membuat kepalanya berdenyut. Saking tidak fokusnya menyetir, Clara sampai tidak menyadari jika ada sepeda motor yang tiba-tiba melintas di depan mobilnya, Clara sontak menginjak rem namun tabrakan tak bisa di hindari, Clara menabrak motor tersebut.


Clara keluar dari mobilnya dengan marah karena jelas-jelas pemotor itu memotong jalan seenaknya saja.


"Anda sudah gila? Apa anda tidak tau caranya mengemudi sepeda motor dengan benar?" teriak Clara seraya berkacak pinggang. Si pemotor terlihat cuek, dia berusaha mendirikan motornya. Setelah motornya berhasil berdiri, pemotor itu menghampiri Clara lalu membuka helmnya.


"Oh my God, dia sangat tampan" pekik Clara di dalam hati.


"I'm sorry. Are you okay?" tanya pemotor itu yang sontak menyadarkan Clara dari kekagumannya.


"Ya saya baik-baik saja. Bagaimana dengan anda?" tanya Clara pada pria yang memiliki wajah tampan, tinggi menjulang, dan alis tebal seperti ulat bulu.


"Sedikit lecet maybe," jawab nya sambil tersenyum.


"Lain kali hati-hati bawa motornya!" Clara lalu mengeluarkan kartu nama dan memberikan kepada pemotor itu. "Hubungi saya untuk biaya pengobatan dan perbaikan motor!" ucap Clara, sebelum pria itu menjawab Clara lebih dulu masuk ke dalam mobilnya karena dia sudah telat.


"Clara," eja pria itu saat membaca kartu nama yang di berikan oleh Clara. "Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?"


BERSAMBUNG..