
Pagi-pagi Dave dan Clara berniat menemui Zea karena Zea bilang dia dan Sam menginap di rumah orang tuanya. Muda-mudi itu berencana ikut sarapan di rumah Zea karena rindu masakan Ega. Namun karena ban mobil Dave kempes, mereka terlambat. Saat mereka sampai di rumah orang tua Zea, mereka melihat Zea dan Sam meninggalkan rumah orang tua Zea.
"Kita ikutin aja yuk, kita ajak Zea jalan mumpung libur," usul Clara dan Dave menyetujuinya. Mereka mengikuti Zea sampai di depan rumah Sam. Saat mereka akan turun, mereka melihat Zea kembali keluar dan masuk ke dalam mobil milik keluarganya.
"La, Zea mau kemana? Kok kayanya buru-buru?" tanya Clara penasaran.
"Kita ikutin aja," sahut Dave.
"Oke. Cepat Dave."
Keduanya kembali mengikuti Zea tanpa menyadari jika Zea tengah mengikuti suaminya. Dave menghentikan mobilnya jauh di belakang mobil Zea, namun kedua anak muda itu bisa melihat dengan jelas jika Sam menemui Felisya di rumahnya.
"Badjingan," umpat Dave seraya memukul setirnya.
"Waow, aku tidak menyangka uncle Sam sebrengsek itu," Clara turut mengatai Sam. "Ini akan menjadi sesuatu yang menarik," Clara meraih ponselnya dan mengambil foto tepas saat Sam dan Felisya berpelukan.
Dave melirik sahabatnya. "Apa yang kau lakukan Ra?"
"Menyimpan barang bukti Dave," jawab Clara seraya tersenyum miring..
"Kau benar-benar calon pengacara yang handal ya," puji Dave, pria itu mengacungkan jari jempolnya ke arah Clara.
"Tentu saja. Aku akan menjadi pengacara hebat seperti momy," sahut gadis itu menyombongkan diri. Di saat yang bersamaan dia melihat mobil Zea pergi.
"Kita kejar Zea," ucap Dave seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Tidak Dave, kita akan mendapatkan barang bukti yang lain. Kesempatan baik ini tidak boleh kita sia-siakan. Kita ikuti uncle Sam saja, agar kita tau seberapa jauh mereka berhubungan!" Clara menahan Dave, dia benar-benar muak dengan pria seperti uncle Sam, pria munafik yang tidak menyadari posisinya.
"Tapi Zea bagaimana?" Dave mengkhawatirkan Zea, dia tau pasti Zea sangat sedih karena melihat secara langsung suaminya memeluk wanita lain.
"Zea akan baik-baik saja Dave. Dia bersama supir dan pengawalnya. Kau tidak perlu cemas."
Dave akhirnya setuju dengan rencana Clara, kedua orang itu menunggu pergerakan Sam dan Felisya. Hingga beberapa jam kemudian Sam dan Felisya keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Felisya terlihat begitu menempel pada Sam, dia benar-benar wanita jahat bukan?
"Ikuti mereka Dave!" titah Clara dan Dave mengangguk. Mereka kembali mengikuti pasangan selingkuh itu. Dave memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Sam. Mereka memantau Sam dan Felisya dari dalam mobil karena pasangan haram itu sedang berada di sebuah kafe.
Clara kembali mengambil foto saat Sam dengan mesranya menggenggam tangan Felisya. "Ck, uncle sungguh pemain yang hebat," Clara berdecak kesal sementara Dave tengah menahan amarahnya, wajahnya bahkan sampai memerah dan kedua telapak tangannya mengepal.
Tak sampai di sana, Clara dan Dave mengikuti pasangan haram itu ke pusat perbelanjaan. Tampaknya Sam membelikan Felisya beberapa baju dan tas mewah. Momen tersebut tentu tak lepas dari bidikan kamera ponsel Clara, gadis itu benar-benar mengumpulkan bukti yang sangat banyak.
"Ra ayo kita pulang sebelum kesabaranku benar-benar habis dan aku akan menyayat tubuh Sam di sini!"
Clara menoleh ke arah Dave, dan benar saja, pemuda itu terlihat sangat murka. Urat lehernya bahkan sampai menonjol karena menahan amarah.
"Ide bagus Dave, kau bisa menjadikannya kadaver untuk bahan praktekmu," Clara sengaja menyalakan api, dia ingin tau sejauh mana Dave bisa menahan amarahnya. Sejak mereka kecil, Dave kerap marah pada anak-anak yang mengganggu Zea, bahkan Dave tak segan memukul anak-anak tersebut. Dan kali ini Clara ingin melihat apakah Dave masih seperti dulu.
Di luar dugaan, bukannya memukul Sam dan menjadikannya bahan praktikum, Dave memilih pergi karena dia tidak tahan lagi melihat Sam. Dave takut akan benar-benar menjadikan Sam kadaver.
(Kadaver: Jenazah yang di awetkan dan biasa di gunakan untuk keperluan pendidikan dalam pembelajaran anatomi)---( kalau kalian suka tentang novel yang di bumbui tema kedokteran kalian bisa baca novel othor sebelumnya yaitu lara cintaku dan marry me brother)
"Dave, tunggu aku!" teriak Clara, gadis itu berlari menyusul Dave yang sudah jauh di depannya. Sebelum masuk ke dalam mobil Dave, Clara mengirim foto-foto tersebut pada Indhi. "Habislah kau uncle," gumamnya dengan senyum sinis.
.
.
.
Indhi melemparkan ponselnya ke meja, Sam meraih ponsel itu dan begitu terkejut melihat fotonya bersama Felisya.
"Dari mana..."
"Tidak perlu tau mama dapat dari mana. Mama hanya ingin penjelasanmu. Siapa wanita itu? Apa benar dia selingkuhanmu?" Indhi memotong ucapan Sam dengan cepat.
"Ma, aku..."
"Mama kecewa padamu Sam. Momy Elisa juga pasti sangat kecewa. Momy pasti sedih melihatmu menyakiti Zea!" ucap Indhi, wajahnumya yang selalu terlihat tenang kini berubah penuh kemarahan. Tak ada senyuman lagi di wajah teduh itu. Bahkan sorot matanya di penuhi rasa kecewa.
"Maaf ma, Sam tidak bermaksud menyakiti Zea. Tapi Sam tidak bisa membohongi perasaan Sam," jawab Sam jujur. Melihat ekspresi wajah Indhi memang membuatnya takut, tapi dia tidak bisa berkilah lagi, dia harus mengakui segalanya sekarang.
"Tidak bermaksud menyakiti Zea?" ulang Indhi sambil tersenyum hambar. "Seharusnya sejak awal kau tidak menikahinya, seharusnya kau menolak!" ucap indhi dengan suara keras.
"Sam tidak ingin mengecewakan momy," sahut Sam pasrah.
"Lalu kau mengecewakan Zea dan aku?"
"Ma, tidak begitu. Aku pikir aku bisa membuka hati untuk Zea tapi aku tidak bisa!"
"Karena kau tidak membiarkan Zea membuka hatimu! Kau membiarkan wanita lain menutup hatimu untuk Zea. Kau tau, aku menikahi ayah Zea meski awalnya aku tidak mencintainya. Hubungan kami lebih rumit, tapi aku berjanji pada diriku sendiri akan mencintai suamiku Sam. Dan lihat sekarang, aku bahkan tidak bisa hidup tanpanya!" Indhi menjeda kalimatnya, wanita itu mengatur nafasnya sebelum kembali meluapkan amarahnya. "Tapi kau, kau tidak berusaha untuk menerima apalagi mencintai Zea. Kau pikir selama ini kami bodoh dan tidak mengetahui kegiatanmu di luar? Restoran hanya alasan saja kan? Tapi Zea selalu membelamu, gadis bodoh itu rela membohongi kami demi menjaga nama baik mu Sam!"
Sam kalah telak, dia tak bisa mengelak atau membela diri lagi. Dia benar-benar kehilangan kata-kata. Semua yang Indhi katakan adalah benar. Sejak awal Sam memang tidak pernah membiarkan Zea masuk ke dalam hatinya.
"Lalu Sam harus bagaimana?" tanya Sam dengan kepala menunduk. Dia tak memiliki muka untuk menatap wajah mertuanya.
"Kembalikan Zea. Ceraikan dia dan kau bebas menjalani hidupmu! Pergilah sejauh mungkin agar kami tidak perlu melihatmu lagi!"
BERSAMBUNG...