
Tidak ada hal istimewa bagi Zea dan Sam, mereka menikah namun tak terlihat seperti pasangan yang sudah menikah. Namun ada yang sedikit berbeda malam ini, setelah makan malam, Sam menghampiri Zea ke kamarnya. Gadis itu sedikit terkejut karena tiba-tiba Sam masuk dan duduk di tepi ranjangnya.
Cukup lama Sam diam, entah apa yang akan di katakan oleh pria itu. Sam terlihat tegang dengan kedua tangan saling meremas.
"Kau punya waktu?" tanya Sam sambil menunduk, dia bahkan tak berani menatap wajah Zea.
"Ya. Kenapa uncle? Apa uncle butuh sesutu?" jawab Zea dengan segera. Zea khawatir terjadi sesuatu pada Sam karena tak biasanya pria itu mengajaknya bicara terlebih dahulu.
"Mau pergi ke bioskop?"
Deg...
Zea mengerjapkan matanya berkali-kali, dia juga mencubit lengannya sendiri karena dia takut yang di dengarnya itu hanyalah mimpi. Namun Zea merasakan cubitannya sendiri, dia sedang tidak bermimpi. "Bisa uncle ulangi? Uncle mengajak ku kemana?" tanya Zea dengan perasaan tak percaya.
"Bioskop. Besok kita libur jadi ma....
"Uncle tidak sedang mengerjai Zea kan?" potong Zea sebelum Sam menyelesaikan kalimatnya.
Sam menggeleng pelan, meski tak lebar namun Sam tersenyum dan membuat Zea kewalahan menghadapi deru jantungnya. Dia sama sekali tak percaya Sam tersenyum kepadanya. Ah Zea sampai menangis.
"Kenapa kau menangis? Kalau kau tidak mau tidak papa, tapi jangan menangis," ujar Sam kebingungan.
"Aku sangat bahagia uncle. Aku menangis bahagia karena uncle akhirnya tersenyum lagi padaku," sahut Zea dengan terisak.
"Aku akan sering tersenyum untukmu. Maaf karena selama ini uncle terlalu kejam padamu Ze," ucap Sam lembut, entah apa yang mendorongnya tiba-tiba saja Sam merengkuh tubuh Zea dan memeluknya, dia membiarkan Zea menangis di pelukannya. Tekadnya sudah bulat, dia akan berusaha menerima Zea dan memberinya cinta.
"Mau ke bioskop?" tanya Sam setelah Zea tenang. Pria itu melepas pelukannya, dia juga mengusap air mata Zea. Sungguh Sam sudah kembali, uncle Sam nya telah kembali.
"Mau."
"Ganti bajumu, pakai baju hangat karena di luar dingin," titah Sam sambil menepuk kepala Zea.
"Hem."
.
.
Pasangan suami istri itu sudah berada di pusat perbelanjaan. Karena malam minggu, mall sangat ramai. Keduanya menuju bioskop yang berada di lantai tiga. Sam menunggu Zea untuk duduk dan menunggu, sementara pria itu mengantri untuk membeli tiket.
Zea tak henti hentinya tersenyum, dia menatap punggung suaminya yang sedang mengantri tiket film. Zea berharap Sam akan seterusnya bersikap manis padanya.
Beberapa saat kemudian Sam menghampiri Zea dan duduk di sebelahnya. "Filmnya di putar satu jam lagi. mau jalan-jalan dulu?" tawar Sam dan Zea segera mengangguk, dia tak ingin menyiakan kesempatan.
Keduanya lalu berjalan beriringan mengelilingi pusat perbelanjaan. Kedua manusia itu terlihat canggung dan menjaga jarak.
Sam mengambil langkah awal, pria itu berjalam mensejajari langkah Zea, meski sempat ragu dan memikirkannya berulang kali akhirnya Sam memiliki keberanian untuk menggenggam tangan Zea dan menggandeng tangan istrinya.
Lagi-lagi Zea di buat kaget, namun gadis itu sangat bahagia. Jantungnya berdebar lagi karena Sam menggandeng tangannya
Sam kembali melangkahkan kakinya,. Tidak sekarang, dia akan membelikan pakaian yang lebih berkesan untuk Zea suatu hari nanti. Setelah berkeliling, keduanya lalu kembali ke bioskop karena sebentar lagi film akan di mulai. Tak seperti pasangan lainnya, mereka sama sekali tak terlihat mesra. Bahkan sampai film berakhir mereka seperti dua orang asing yang secara kebetulan duduk berdampingan.
Hampir tengah malam saat mereka tiba di rumah. Keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing. Namun saat akan memejamkan matanya, pintu kamar Zea di ketuk dan detik berikutnya Sam sudah berada di samping ranjangnya.
"Ada apa uncle? Apa uncle butuh sesuatu?" Zea beranjak bangun dan menghampiri suaminya.
"Boleh aku tidur di sini?" ucap Sam dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun.
"Eh," Zea terperanjat mendengar ucapan Sam. Apa Zea tidak salah dengar, Sam mengajaknya tidur bersama?
"Tidak boleh ya," ujar Sam masih dengan wajah tanpa ekspresi.
"Boleh uncle, sangat boleh."
Tanpa mengatakan apapun lagi Sam naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Sementara itu Zea masih terpaku di tempatnya, gadis itu menatap suaminya penuh tanya.
"Kau tidak tidur?" Sam mengangkat kepalanya saat berbicara dengan Zea.
"Aku tidur," jawab Zea gugup, gadis itu lalu menyusul suaminya ke atas tempat tidur. Dia lalu berbaring dan memunggungi suaminya.
Hening, tidak ada suara apapun kecuali suara detak jantung dari kedua manusi yang saling memunggungi. Sam gelisah, dia lalu berbalik menghadap Zea dan menatap punggung istrinya.
"Ze," panggil Sam pelan.
"Ya," sahut Zea. "Ada apa uncle?"
"Apa kau akan terus memunggungiku?"
"Eh," Zea menelan ludahnya dengan kasar, gadis itu lalu memberanikan diri untuk berbalik sehingga mereka kini saling berhadapan. "Sudah malam uncle, tidurlah!" ucap Zea menerintah.
"Hem. Nice dream Ze."
"Sweet dream uncle," sambung Zea, dengan sedikit keberanian yang dia miliki, Zea mengecup bibir Sam sekilas. Pria itu awalnya terkejut, namun saat Zea melepaskan kecupannya, Sam justru menahan tengkuk Zea dan mencium bibir istrinya.
Bibir manis Zea membuat Sam tak ingin melepaskan tautannya. Pria itu semakin nakal saat lidahnya berhasil menerobos masuk dan menyapu rongga mulut Zea.
"Eumh,"Zea melenguh saat gadis itu kehabisan nafas. Sam lalu melepaskan ciumannya dan menyatukan kening mereka.
"Bibirmu sangat manis," ujar Sam yang berhasil membuat wajah Zea merona.
"Aku mau tidur!" Zea memejamkan matanya, dia mencoba mengatur detak jantungnya yang tak beraturan.
"Hem. Tidurlah!" Sam mengecup lembut kening Zea, keduanya lalu memejamkan mata meski sama-sama tak bisa tidur.
BERSAMBUNG...