Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Belum boleh hamil



Hubungan Zea dan Sam semakin dekat, bahkan kini Sam mengajak Zea dan kedua orang tua Zea makan malam di luar. Indhi dan Ega turut berbahagia melihat kedekatan keduanya, sepertinya mereka tak perlu merasa khawatir lagi.


Indhi tak bisa menghentikan senyumnya saat melihat Sam begitu perhatian kepada Zea, pria itu bahkan sedang menyeka sisa saus di ujung bibir istrinya.


"Sudah besar kenapa makan selalu berantakan si?" ujar Sam dan Zea hanya menanggapinya dengan senyum malu-malu.


Ega melirik istrinya, pria itu turut tersenyum. Meski Indhi dan Zea tidak menceritakan tentang perangai Sam, namun Ega mengetahui jika Sam memiliki hubungan bersama wanita lain. Ega memilih diam karena Indhi tak membicarakannya dan memberi kesempatan pada sang menantu, namun bagi Ega ini adalah kesempatan terakhir, jika Sam berani menyakiti Zea lagi maka Ega akan benar-benar memisahkan mereka, membawa Zea pergi sejauh mungkin.


"Bagaimana pekerjaanmu Sam?" tanya Ega setelah mereka selesai makan malam.


"Lancar yah. Bagaimana dengan rumah sakit?" jawab Sam ramah.


"Syukurlah. Rumah sakit juga berjalan dengan baik, hanya saja tidak ada yang mau menggantikan ayah padahal seharusnya ayah sudah pensiun."


"Bagaimana dengan Dave dan Rama?"


"Mereka tidak mau memikul tanggung jawab besar dan hanya ingin menjadi dokter saja," jawab Indhi seraya menghembuskan nafas berat.


"Harapan ayah dan om Aditya hanya Zea sekarang, jika bukan Zea yang menggantikan ayah memimpin rumah sakit, ayah tidak tau apa yang akan terjadi jika rumah sakit di pimpin oleh orang luar," Ega menatap putri kecilnya, memang tak seharusnya dia membebani Zea dengan tanggung jawab besar, namun rumah sakit mereka juga membutuhkan seorang psmimpin baru saat Ega pensiun, dia sudah terlalu tua untuk tetap bekerja.


"Baik yah, itulah kenapa Zea tidak ingin menjadi dokter karena Zea akan menggantikan ayah. Tunggu sebentar lagi yah!" Zea menjawabnya tanpa ragu karena sejak kecil dia memang ingin membantu ayahnya mengurus rumah sakit.


"Untuk itu kau harus menjaga kesehatanmu dan jangan sampai terluka," pesan Ega pada putrinya.


"Ayah tidak perlu khawatir, sekarang ada uncle Sam yang menjaga Zea," Zea melirik suaminya, pria itu tersenyum lalu menggenggam tangan Zea.


"Emm, Ze, apa kalian sudah merencanakan untuk memiliki anak?" tanya Indhi ragu, sebenarnya bukan ranahnya untuk menanyakan hal terssbut, namun mengingat kondisi putrinya yang memiliki darah langka, mau tidak mau Indhi harus ikut campur.


"Sudah. Zea bahkan tidak memakai kontrasepsi apapun mah. Mama sudah ingin menimang cucu ya?" tebak Zea seraya tersenyum. Gadis itu sudah membayangkan seorang bayi hadir di tengah keluarganya, pasti sangat menyenangkan.


"Sebelumnya mama minta maaf Sam, seharusnya mama tidak boleh ikut campur. Lebih baik kalian menunda memiliki momongan, tunggu sampai Rama dan ayah menemukan orang dengan golongan darah yang sama seperti Zea, kau tau maksud mama kan Sam?"


Deg...


"Baik ma, kami akan lebih hati-hati."


"Uncle," Zea menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Zea akan baik-baik saja, kenapa uncle ingin berhati-hati, apa uncle tidak ingin memiliki bayi?" tanyanya dengan air mata yang mulai berlinang.


Sam menyeka air mata istrinya, pria itu menatap Zea dengan lembut. "Aku sangat menginginkannya Ze, tapi yang mama katakan juga benar. Kita hanya menundanya sampai Rama menemukan donor untukmu. Saat melahirkan kau akan mengeluarkan banyak darah, dan aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Lagi pula kau masih kuliah, jika kau hamil.sekaranh bagaimana dengan kuliahmu?" jelas Sam dengan bijak, di usianya kini dia memang sudah pantas menjadi seorang ayah, namun dia tidak boleh egois dan harus memikirkan kondisi Zea.


Zea menangis tersedu-sedu bahkan sampai di mereka tiba di rumah, gadis itu tak henti-hentinya menitikan air mata. Rasanya dia menjadi wanita yang gagal, untuk hamil saja dia harus menunggu orang yang memiliki golongan darah yang sama, padahal impiannya adalah memiliki 3 anak bersama Sam.


Zea meringkuk di atas tempat tidurnya, melihat hal itu membuat Sam merasa sedih. Pria itu lalu menyusul Zea ke atas ranjang lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Jangan menangis lagi Ze," ucapnya sedih.


"Aku ingin hamil uncle," jawab Zea sesegukan.


Sam melepas pelukannya, dengan perlahan Sam menarik tubuh Zea agar mereka saling berhadapan..Sam mengusap air mata di wajah Zea dan menatapnya. "Aku juga, tapi aku juga tidak ingin kehilanganmu. Pikirkan ini Ze, seandainya kau hamil dan kami belum menemukan pendonor untukmu, bayangkan saat melahirkan kau kekurangan darah dan pergi meninggalkanku selamanya. Apa kau ingin aku hidup dengan rasa bersalah, kau ingin aku sendirian?" ya, Sam terpaksa membahas hal itu agar Zea tidak keras kepala lagi.


"Apa uncle takut jika Zea pergi?"


Sam mengangguk pelan. "Tentu saja Ze, aku tidak memiliki siapapun selain kamu, jadi aku mohon mengerti dan bersabar. Jika sudah saatnya, kita pasti akan memiliki bayi yang lucu sepertimu."


"Maafkan Zea uncle, Zea tidak berpikir sejauh itu. Zea akan menuruti perkataan uncle karena Zea tidak ingin uncle sendirian," ucap Zea, gadis itu lalu memeluk suaminya dengan erat. Dia harus menerima kenyataan, dan kemungkinan terburuk mungkin dia tak akan pernah hamil karena menemukan pemilik darah yang sama dengannya sama halnya mencari jarum di tumpukan jerami.


"Gadis baik," Sam lalu memeluk tubuh mungil istirnya, pria itu juga mengecup kepala Zea dengan penuh kasih sayang.


Tunggu!


Kasih sayang? Benarkah demikian? Benarkan Sam mulai menyayangi Zea sebagai seorang istri?


Ya semoga saja perasaan yang Sam rasakan saat ini adalah perasaan sayang suami ke istrinya bukan perasaan seorang uncle ke keponakannya.


BERSAMBUNG...