Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Mencari pendonor



Zea sudah berada di ruang perawatan, semua orang menunggu di luar ruangan dengan cemas. Sam duduk terkulai di lantai seraya menunduk, sejak tadi air matanya tak berhenti keluar. Dia sangat mengkhawatirkan Zea, apalagi saat tau jika kini istrinya tengah mengandung. Sam menyalahkan dirinya sendiri, dia sudah gagal menjadi seorang suami, sudah berapa banyak luka yang dia torehkan di hati Zea, bahkan kini Zea terluka gara-gara dirinya.


Setengah jam kemudian, dokter keluar dari ruang perawatan, Sam segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut di ikuti Indhi dan Ega.


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Sam panik.


"Kita harus mencari donor secepatnya," jawab dokter tersebut dengan lesu.


Indhi menangis histeris, apa yang dia takutkan selama ini akhirnya terjadi. Putri kecilnya harus mendapat donor secepatnya sementara mereka tidak tai di belahan dunia mana manusia yang memiliki golongan darah yang sama seperti Zea.


Indhi menatap Sam penuh kemarahan. Entah apa yang di pikirkan wanita paruh baya itu, tiba-tiba saja Indhi menampar wajah Sam dengan keras. "Semua ini gara-gara kamu, Zea terluka gara-gara kamu. Aku menyesal menikahkan kalian, seharusnya aku tidak memberi kesempatan kedua untukmu. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap Indhi seraya terisak, hati ibu mana yang tak terluka melihat anaknya berulang kali di sakiti, apalagi kini Indhi melihat sendiri Sam di peluk wanita lain dan wanita itu mendorong putrinya tepat di depan matanya.


Ega tak menahan Indhi sama sekali, dia membiarkan istrinya meluapkan amarah pada menantunya, jika saja Ega tidak mengingat Zea sangat mencintai Sam, pria tua itu pasti sudah memukulnya sejak tadi.


"Semua ini memang salah Sam," aku Sam penuh penyesalan.


"Sudah-sudah, jangan menyalahkan satu sama lain. Lebih baik kita cepat mencari pendonor secepatnya," lerai Dita seraya menahan tubuh Indhi, dia lalu menoleh ke belakang di mana suaminya berada. "Dad, apa Dave masih di kantor polisi?" tanya Dita dan Dokter Aditya mengangguk. "Dady bantu kak Ega mencari donor darah, biar aku dan Arum menemani Indhi di sini!"


Ega dan Dokter Aditya lalu pergi mencari donor darah meski mereka tau tak akan mudah mencarinya, apalagi mereka sudah melakukan pencarian sejak Zea lahir dan di Indonesia sendiri mereka belum menemukan kasus darah langka selain Zea.


Dita dan Arum memeluk Indhi, memberikan kekuatan untuk sahabat mereka. Mereka juga berdoa di dalam hati agar Zea bisa di selamatkan.


Saat dokter akan kembali masuk ke dalam ruang perawatan, Sam baru mengingat tentang bayi mereka. Saking paniknya dia sampai lupa jika Zea tengah mengandung. "Bayi, bagaimana kondisi bayi kami dok?"


"Kami sedang berusaha menolongnya!"


Sam meraup wajahnya dengan kasar, jika terjadi sesuatu terhadap istri dan bayinya sungguh dia tak sanggup untuk memaafkan dirinya sendiri.


"Ma, titip Zea. Sam pergi sebenatar," ucap Sam dengan wajah linglung, pria itu lalu melangkahkan kaki meninggalkan rumah sakit. Merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Sam, Arum memutuskan untuk mengejar Sam.


"Dit, jaga Indhi. Sepertinya Sam akan ke kantor polisi. Aku takut dia kehilangan kendali."


"Hati-hati Rum!


Sesuai dugaan Arum, Sam benar-benar pergi ke kantor polisi tempat di mana Felisya di tahan. Dave dan Clara terkejut melihat kedatangan Sam dan Arum.


Dave yang tak bisa menahan amarahnya mencengkeram kerah Sam dan menatapnya penuh kemarahan. "Puas sekarang? Kau pasti sangat senang kan jika terjadi sesuatu yang buruk pada Zea, kau akan bebas menemui wanita jaaaalaaang itu!!"


Arum dan Clara mencoba melepaskan tangan Dave. "Lepaskan Dave. Amarah tidak akan menyelesaikan masalah nak," ujar Arum menasehati Dave.


"Lepas Dave. Yang momy ku katakan benar, kemarahanmu tidak akan membuat situsi membaik," sahut Clara, perlahan dia mulai menarik tangan Dave dari kerah baju Sam.


"Dimana wanita itu?" tanya Sam dengan tatapan penuh amarah, bahkan untuk menyebutkan namanya saja dia sudan tidak sudi.


"Ada di dalam ruangan itu Uncle," Clara menunjuk sebuah ruangan, dengan cepat Sam menuju ruangan itu dan menerobos masuk. Tanpa memperdulikan kedua polisi yang sedang memeriksa Felisya, tiba-tiba saja Sam menampar wajah Felisya dengan sangat keras. Dia tak peduli jika dia harus di penjara, dia ingin membalas perbuatan Felisya.


Kedua polisi itu lalu menahan kedua tangan Sam karena Sam mulai tak bisa mengendalikan dirinya.


"Anda bisa di tahan karena melakukan kekerasan!"


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin membalas wanita itu!'


Felisya menatap Sam sambil memegangi pipinya yang memanas, dia tak percaya Sam memukulnya, padahal selama ini Sam sangat mencintainya.


"Dengarkan kau, jika terjadi sesutu pada istri dan bayiku, aku berjanji tidak akan pernah melepaskanmu!"


"Bayi?" ulang Felisya dengan wajah terkejut, dia tak tau jika Zea tengah mengandung.


"Ya, dia tengah mengandung anakku!"


Kedua polisi tersebut terpaksa menarik paksa Sam dari ruang penyidikan karena Sam tak bisa menahan diri dan mencoba menyerang Felisya lagi..


"Arggghh," Sam mengerang seraya menendang kursi yang ada di luar ruangan. Sam kembali duduk di lantai sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia sangat frustrasi, dia kehilangan kendali.


"Maafkan aku Ze, maafkan aku yang bodoh ini!"


BERSAMBUNG...