
Zea terlihat sangat anggun dalam balutan gaun tanpa lengan berwarna broken white, malam ini gadis itu juga memakai riasan yang semakin mempercantik wajahnya. Zea menatap pantulan dirinya di cermin, gadis itu tersenyum seraya mengusap perutnya. "Sebentar lagi semua orang akan tau kalau kau tumbuh di rahim momy, dady pasti sangat senang mendengarnya nak," gumam Zea dengan mata berkaca-kaca, dia sudah tidak sabar ingin mengumumkan kehamilannya nanti di acara ulang tahunnya.
Zea keluar dari kamar karena satu jam lagi acara ulang tahunnya akan di mulai, gadis itu menghampiri suaminya yang sudah menunggunya sejak tadi. Mendengar langkah kaki Zea mendekat, Sam menoleh ke belakang. Pria itu di buat terpesona dengan penampilan istrinya malam ini. Gaun tanpa lengan yang Zea kenakan memamerkan kulit seputih susu miliknya. Sam menatap Zea dari ujung kaki hingga ujung kepala, dia tidak menyangka Zea terlihat seperti orang yang berbeda, sangat cantik.
"Kenapa uncle? Apa gaun ini tidak cocok?" tanya Zea seraya mengamati penampilannya.
"Kau tidak kedinginan?" Entah apa yang Sam pikirkan, bukannya memuji istrinya, pria itu malah khawatir pria lain terpesona dengan penampilan Zea, lihatlah bahu indah itu, Sam tidak rela orang lain ikut menikmati bahu indah Zea.
"Tidak, ayo kita berangkat uncle!"
"Tapi aku takut kau masuk angin Ze," dalih Sam yang masih berusaha agar Zea mengganti gaunnya.
"Tidak uncle, Zea tidak akan masuk anggin. Acaranya kan di dalam ruangan!"
"Bagaimana kalau di gigit nyamuk?"
Zea terkekeh, sepertinya dia mulai tau kenapa Sam terlalu banyak protes dengan gaunnya. Zea maju beberapa langkah hingga mengikis jarak di antara mereka, gadis itu lalu berbisik di telinga suaminya. "Tenang saja uncle, mereka hanya melihat bahuku saja bukan yang lainnya!"
Sam gelagapan, rupanya Zea membaca isi pikirannya. "Aku hanya tidak suka orang lain melihatnya," ucapnya pelan namun masih terdengar di telinga Zea.
"Zea sudah menyiapkan blazer uncle," Zea mengangkat tangannya dan menunjukan blazer yang sejak tadi sudah dia siapkan mengantisipasi jika udara terasa dingin.
Akhirnya Sam mengalah dan membiarkan Zea memakai gaun itu, keduanya lalu bergegas ke restoran milik Sam. Setengah jam kemudian mereka tiba di restoran, di sana sudah ada kedua orang tua Zea, Clara dan kedua orang tuanya serta Dave yang juga datang bersama orang tuanya. Semua orang terpaku melihat penampilan Zea, malam ini Zea menjelma menjadi putri salju yang sangat cantik dan memesona.
"Oh my god, you are so beautiful Ze," puji Clara dengan tulus, selama mereka berteman memang sangat jarang melihat Zea memakai riasan dan mengenakan gaun terbuka. Clara benar-benar di buat pangling.
"Thank you," jawab Zea dengan senyum malu-malu.
"Kau sangat cantik malam ini Ze," Dave menatap Zea dengan lekat, ingin rasanya Dave memeluk Zea namun dia sadar akan posisinya, selama ini Zea hanya menganggapnya sebagai seorang teman, tidak lebih.
"Kau juga tampan Dave," balas Zea di iringi pujian untuk orang yang selalu ada untuknya, sahabat terbaiknya, Dave.
Zea lalu menghampiri kedua orang tuanya, gadis itu lalu memeluk mereka secara bergantian.
"Kapan kau jadi secantik ini nak?" ucap Indhi seraya menangkup wajah putrinya.
"Mama lupa kalau Zea cantik sejak lahir," sahut Zea dengan senyum manja.
"Kau memang putri ayah yang paling cantik," kini giliran Ega yang memuji putrinya.
"Lalu aku tidak cantik?" protes Indhi seraya melirik suaminya.
"Kau juga sangat cantik sayang, tapi Zea lebih cantik." Ega terkekeh karena berhasil menggoda istrinya dan berakhir dengan sebuah cubitan di perutnya.
Zea tersenyum bahagia melihat kerukunan kedua orang tuanya, gadis itu lalu beralih menyapa kedua orang tua Clara dan orang tua Dave. Mereka memang sangat dekat karena mereka turut andil dalam merawat Zea ketika gadis itu masih kecil.
Acara sebentar lagi di mulai, namun Zea tak melihat Sam. Gadis itu mencari ke kamar mandi dan tak menemukan Sam di sana. Beberapa karyawan Sam yang membantu acara ulang tahun Zea juga tidak melihat keberadaan Sam.
"Kenapa Ze?" tanya Indhi yang menyadari kegelisahan putrinya.
"Mama lihat uncle tidak?" Indhi menggeleng, dia lalu menatap sekeliling namun tak menemukan menantunya.
"Coba telefon Ze, siapa tau Sam keluar mencari angin!"
"Sudah ma, tapi tidak di angkat. Zea coba cari keluar ya!"
"Mama ikut!"
Sementara di samping restoran, Sam menemui Felisya yang sejak tadi terus saja menerornya. Felisya mengancam akan merusak acara ulang tahun Zea jika Sam menolak untuk menemuinya. Terpaksa Sam mengikuti keinginan Felisya karena tidak ingin acara spesial Zea berantakan.
"Apa yang ingin kau bicarakan Fel?" tanya Sam seraya menengok ke kiri dan ke kanan, dia khawatir Zea akan melihatnya bersama Felisya dan salah paham.
Felisya meraih tangan Sam dan menggenggam nya, namun Sam segera melepaskan tangannya karena merasa tak nyaman saat Feli menyentuhnya. Feli menatap tangan Sam yang terlepas dari genggamannya dengan wajah sedih.
"Sam, apa sudah tidak ada kesempatan untukku lagi?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Sam menggeleng lemah. "Maaf Fel," jawab Sam, terlintas sebuah sesal karena menyakiti Felisya, namun Sam juga sudah tidak bisa melepaskan Zea, karena dia mulai merasa nyaman dengan gadis kecil itu.
"Kenapa Sam, kenapa cepat sekali kau berubah dan meninggalkanku? Aku sangat mencintaimu Sam, sangat," ucap Felisya, air mata mulai berjatuhan di wajahnya.
Sam menunduk sejenak, dahulu saat Feli menangis dia akan sigap menghapus air matanya, namun kini Sam sudah tak bisa melakukannya, tangan nya seolah enggan untuk menyentuh wanita lain. Sam juga sudah tidak merasakan debaran yang kerap dia rasakan saat berasama Feli, mungkinkah Sam sudah melupakan perasaannya untuk Felisya?
"Apa karena kau sudah mencintai Zea?" tanya Felisya lagi karena Sam hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
Sam kembali diam, mengingat semua kebersamaannya bersama Zea. Gadis itu selalu menunggunya meski dulu dia sangat kejam dan bersikap semena-mena, Zea selalu melindungi nama baiknya di depan mertuanya. Seriring waktu berjalan, Sam mulai nyaman berada di dekat Zea, Sam kesal saat melihat Zea bersama pria lain, Sam kesepian saat Zea tak menemaninya makan, Sam juga tak semangat ke kampus saat Zea tak berangkat bersamanya.
Sam tersenyum, dia baru menyadari betapa bodohnya dia yang tak menyadari perasaannya sendiri. Seharusnya Sam menyadarinya saat dia berani menyentuh Zea, saat dia bersedia memasakan sarapan untuk Zea, atau saat dia cemburu melihat Zea bersama Daniel.
"Kau benar Fel, aku mencintainya. Dan bodohnya aku tidak menyadarinya."
Jawaban Sam tentu saja membuat Feli marah, kedua tangannya mengepal erat. Feli berusaha menahan amarahnya. Dia harus menjadi Feli yang anggun dan lembut. "Baiklah Sam. Aku akan menyerah. Sebelum aku pergi, bolehkan aku memelukmu?"
Tanpa menunggu persetujuan Sam, wanita itu memeluk tubuh Sam dengan erat. Seringai licik terbit di wajahnya saat dia melihat Zea berdiri tak jauh dari mereka. Senyum Felisya semakin berkembang saat dia melihat Indhi berada di belakang Zea.
"Samuel!"
BERSAMBUNG...