
Sam melepaskan ciumannya saat menyadari jika Zea menangis, dia menyesal, dia sangat menyesal karena tak bisa menahan amarahnya. Sam lalu menarik tubuh Zea ke dalam pelukannya. "Maaf Ze, jangan pernah membuatku marah lagi!"
Zea menoleh sehingga keduanya saling menatap. "Kenapa aku tidak boleh membuat uncle marah? kenapa aku tidak boleh mengatakan cerai, bukankah uncle yang mengharapkan perceraian itu?" cecar Zea dengan tatapan nyalang, sungguh dia tidak tau apa yang ada di pikiran Sam, pria itu seolah menarik ulur hatinya, antara mau atau tidak mau, Zea tidak tau isi hati Sam yang sebenarnya.
"Apa uncle mencintaiku?"
Glek...
Sam menelan ludahnya dengan kasar, lidahnya mendadak kelu, akhir-akhir ini dia selalu kehabisan kata-kata saat berdebat dengan istrinya.
"Tak perlu di jawab. Aku tau jawabannya. Sekarang tolong antar Zea pulang!"
Sam hanya bisa menuruti permintaan Zea sebelum gadis itu nekat keluar dari mobilnya dan pulang sendirian. Kemarahan membuat mereka melupakan niat awal mereka untuk makan malam.
Setibanya di rumah, Zea bergegas ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Entah apa yang dia rasakan saat ini, ingin rasanya dia menyerah dan melupakan perasaan cinta yang membuatnya terlihat begitu bodoh.
Ya, kali ini Zea akan menyerah. Cintanya sudah sangat menyakitinya, anak panah yang dia lesatkan nyatanya berbalik arah dan menghujam jantungnya. Zea lalu mengeluarkan kopernya dan mengemas baju serta beberapa perlengkapan kuliahnya. Dia mungkin belum bisa pulang ke rumah kedua orang tuanya, namun dia harus segera keluar dari rumah Sam.
Zea memantapkan hati dan langkahnya, gadis itu menuruni tangga sambil menarik kopernya secara sengaja..Zea ingin Sam mendengarnya, Zea ingin Sam melihatnya pergi dari rumahnya, Zea ingin Sam menahannya agar tidak pergi, sunggung gadis yang naif.
Sesuai kemauan Zea, pria itu sudah menghadangnya di bawah tangga, rupanya tadi Sam tidak langsung ke kamarnya.
"Pergi," jawab Zea acuh.
Zea melewati Sam begitu saja, namun pria itu menahan koper Zea, tak bisa di bohongi, Zea berharap Sam akan memohon padanya agar tetap tinggal.
"Kau mau menemui pria itu?"
Zea memutar tubuhnya, dia tak menyangka Sam akan memandangnya serendah itu. "Bukan urusanmu!" tegas Zea penuh penekanan.
"Tentu saja ini menjadi urusanku karena kau istriku, kau milikku!" Sam mengucapkannya tanpa sadar, pria itu sudah tak bisa mengendalikan hati dan otaknya. Anggap saja dia egois karena belum bisa melupakan Felisya namun mengakui Zea sebagai miliknya.
"Apa kau mencintaiku?" pertanyaan itu tetap terulang meski Zea tau apa jawabannya. Sebenarnya apa yang gadis bodoh itu harapkan pada pria yang tidak menginginkannya. Zea tersenyum bodoh saat Sam tidak menjawab pertanyaannya. Sebelum semakin tersakiti, Zea harus benar-banar pergi. Langkah kakinya terasa begitu berat, dia sudah berada di ambang pintu namun tangannya seolah menolak untuk membuka pintu tersebut.
Zea merutuki kebodohannya, berkali-kali Sam menyakitinya namun dia masih inggin berada di sampingnya. Sam memaksa tangannya untuk bergerak dan membuka pintu. Namun lagi-lagi Sam mencekal tangannya, menariknya dengan keras hingga tubuh Zea berbalik dan menabrak dada bidangnua.
"Akan ku pastikan kau menjadi milikku," tegas Sam tanpa ragu, tanpa persetujuan istrinya, pria itu mencium bibir mungil Zea, namun kali ini Sam melakukannya dengan lembut. Zea mencoba memberontak, namun dia tak punya tenaga lagi untuk melawannya, akhirnya Zea hanya diam dan pasrah saat Sam melumaat bibirnya.
"Jadikan aku milikmu Zeana!"
BERSAMBUNG....