
Di dalam kamar, Zea menangis tersedu-sedu. Gadis itu mengeluarkan segala rasa sakitnya melalui sebuah tangisan. Dia tak menyangka pernikahannya hanya akan bertahan dalam hitungan hari. Hampir satu jam lamanya Zea menangis dan meratapi kisah cintanya yang begitu tragis. Setelah merasa lelah, Zea menyeka air matanya dengan kasar. Gadis itu berdiri dan berjalan menuju lemari bajunya. Zea lalu memasukan satu persatu bajunya ke dalam koper, setelah selesai mengemas bajunya, Zea kembali duduk dan menatap nanar koper tersebut.
"Kenapa hanya aku yang terluka dan menangis? Bukankah sangat tidak adil?" gumam Zea seorang diri. "Kalau aku pergi sekarang, maka hanya aku yang menderita. Bertahanlah sedikit lagi Ze, jangan biarkan mereka tertawa di atas tangisanmu. Jika harus ada air mata lagi, maka itu bukan dari matamu Zeana!" tangan mungil Zea terkepal, sorot mata yang biasanya selalu lembut kini nampak menakutkan. Meski Zea tumbuh menjadi gadis pendiam dan terlihat lemah, namun nyatanya sejak kecil dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Zea adalah gadis yang berambisi, dan kini dia akan menunjukan sisi lain dari dirinya.
.
.
.
Setelah mengantar Felisya ke hotel, Sam kembali ke rumahnya. Namun dia terkejut saat melihat Zea duduk di kursi meja makan dan sedang menyantap sarapan yang di masak oleh Felisya. Sam tak menduga hal ini, dia pikir Zea sudah pulang ke rumah orang tuanya setelah memergokinya berlelukan dengan Felisya.
"Ze, kau masih di sini?" tanya Sam setelah pria itu berada di belakang Zea
"Hem. Apa wanita itu sudah pergi?" sahut Zea tanpa menoleh, gadis itu masih sibuk memakan masakan Felisya.
"Ya, aku mengantarnya ke hotel."
"Oh. Hemm, masakannya enak juga, pantas saja uncle menyukainya," cibir Zea dengan santai. Dia sudah memutuskan untuk tidak menangis lagi.
"Ze, soal tadi..."
"Uncle tidak perlu khawatir. Ze tidak akan meminta cerai dari uncle," Zea meletakan sendoknya, gadis itu lalu berdiri di hadapan Sam sambil menatap wajah suaminya.
Sorot mata itu, Sam belum pernah melihat itu sebelumnya. Sorot mata penuh kebencian dan rasa sakit. Sorot mata yang bahkan kini mampu menghunus ulu hatinya. "Kenapa Ze, kenapa kau masih ingin mempertahankan pernikahan ini?" tanya Sam, pria itu benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran gadis yang berdiri di hadapannya. Setelah melihatnya di cium wanita lain, bukankah seharusnya Zea meninggalkannya.
"Karena mama dan ayah pasti akan sedih uncle. Kita akan bercerai setelah merayakan satu tahun pernikahan kita!"
Sam diam sejenak, apa yang di katakan Zea benar adanya. Indhi pasti sangat kecewa jika mereka bercerai sekarang.
"Apa?"
"Selama setahun ke depan. Uncle di larang berhubungan dengan wanita manapun. Meski uncle tidak mencintai Zea, tapi tolong hargai pernikahan ini!'
"Tapi Ze," Sam sedikit keberatan dengan permintaan Zea, pasalnya dia sudah mengakui jika dia mencintai Felisya, apa yang akan Felisya pikirkan jika tiba-tiba Sam menghindarinya.
"Terserah kalau uncle menolak. Tapi Zea akan menyebar foto kalian dan Zea akan melaporkan kalian atas tuduhan perselingkuhan!"
"Foto?" Sam bertanya dengan alis menaut.
"Lebih tepatnya rekaman CCTV," Zea tersenyun miring seraya mengedikan kedua bahunya. Setelah memutuskan bertahan, Zea memang menyusun rencana untuk memisahkan Sam dan Felisya. Zea bahkan masuk ke dalam ruang kerja Sam dan mengakses rekaman CCTV yang berada di komputer Sam.
"Bu Felisya pasti akan di cemooh orang dan di cap sebagai pelakor," sambung Zea.
"Oke Fine, aku setuju tapi tolong jangan sakiti Felisya, dia tidak tau apapun!"
Jawaban Sam tentu sudah di prediksi oleh Zea, meski demikian dia tetap merasa sedih mendengar jawaban Sam yang sangat mengkhawatirkan Felisya.
"Aku tidak menyangka kau bisa berbuat seperti ini Ze?" ucap Sam, pria itu benar-benar terkejut dengan sisi baru yang Zea tunjukan. 20 tahun mengenal Zea, dia menganggap Zea gadis yang lemah lembut yang bahkan tidak bisa menyakiti seekor nyamuk yang menghisap darahnya. Namun kini yang di tunjukan Zea benar-benar berbeda, gadis itu telah berubah
"Seperti uncle yang berubah tak memperdulikan Zea lagi, Zea juga bisa berubah menjadi Zea yang berbeda. Kita impas kan Samuel Haris Wijaya?" Zea mengucapkan kalimat tersebut dengan kaki dan tangan bergetar, namun gadis itu harus bertahan demi mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya. "Dan satu hal lagi, setiap pagi kita harus sarapan bersama karena mama bilang akan sering berkunjung sebelum pergi ke klinik!"
"Hem," Sam tak ada pilihan lain selain menyetujui persyaratan Zea. Pria itu lalu kembali ke kamarnya dengan gelisah, apa yang harus dia katakan kepada Felisya, haruskan dia mengatakan kebenarannya?
BERSAMBUNG...