Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Kedekatan Daniel dan Clara



Zea lalu keluar dari ruangan Clara, dia berjalan dengan di iringi kedua pengawalnya. Saat tiba di lobby rumah sakit Zea tak sengaja menabrak seseorang karena dia berjalan sambil mengirim pesan pada suaminya.


"Maafkan saya, saya tidak sengaja," ucap Zea sambil menundukan kepalanya.


"Tidak masalah, saya juga kurang berhati-hati," jawab seorang pria yang di tabraknya.


Zea mengangkat kepalanya untuk mengucapkan terima kasih, namun dia justru membisu saat menyadari siapa sosok pria yang di tabraknya.


"Tuan Victor."


"Nyonya Zea."


Kedua pengawal Zea langsung mendekat, namun Zea menghentikan mereka hanya dengan memberikan kode.


"Anda baik-baik saja kan nyonya?' tanya Victor kemudian.


"Saya baik-baik saja tuan Victor. Sekali lagi maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja!" Zea kembali mengutarakan permintaan maafnya.


"Syukurlah kalau anda baik-baik saja."


"Hm, kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Zea, dia benar-benar tidak suka dengan cara Victor menatapnya.


"Hati-hati nyonya!"


Zea hanya mengangguk sekilas, wanita hamil itu lalu beranjak pergi meninggalkan Victor. Setibanya di mobil Zea tiba-tiba merasa gelisah, entah mengapa dia selalu risau setiap kali bertemu dengan Victor.


Pukul delapan malam Sam baru pulang, kedatangannya di sambut mesra oleh sang istri. Zea bersikap layaknya istri pada umumnya, membawakan tas kerja sang suami dan menyiapkan teh manis hangat sementara Sam sedang mandi.


Zea duduk sambil membaca buku tentang parenting, tak lama kemudian Sam keluar dari kamar mandi dan duduk di sebelah istrinya. Pria itu lalu melakukan ritual yang selalu dua lakukan setelah pulang kerja, memeluk dan mencium kening istrinya.


"Uncle pasti lelah?" ucap Zea seraya mengusap punggung sang suami.


"Hem. Tapi lelah ku hilang begitu aku memelukmu," jawab Sam seraya merapatkan pelukannya.


Setelah puas memeluk Zea kini Sam berpindah pada perut sangg istri, dia mencium perut buncit itu dengan senyum bahagia.."Hay, maafin dady karena hari ini dady pulang kemalaman, kau dan momy pasti kesepian ya!"


"It's okay dad, momy mengajakku bermain hari ini," Zea menjawabnya dengan suara yang sengaja di buat-buat dan terdengar sangat menggemaskan.


"Really? kau pasti sangat senang ya!"


Zea terkekeh sambil mengusap rambut suaminya yang masih sedikit basah. "Di minum dulu tehnya uncle," ucap Zea.


Sam lalu menarik wajahnya dari perut Zea, dia meraih secangkir teh hangat yang sudah Zea siapkan dan meminumnya perlahan.


"Kau sudah makan?" Sam kembali menaruh cangkirnya dan kini sedang menatap sang istri.


"Sudah!"


"Hm. Oh ya, bagaimana kondisi Clara?" tanya Sam saat dia ingat pagi tadi Zea menghubunginya dan meminta izin ke rumah sakit untuk menjenguk Clara.


"Sudah lebih baik, Daniel selalu menemaninya," jawab Zea sambil tersenyum karena mengingat sikap manis Daniel pada Clara.


"Apa mereka sudah pacaran?" Zea mengangguk, meski Clara belum mengatakan apapun namun dia yakin mereka sudah menjalin hubungan.


"Baguslah, aku tidak perlu khawatir lagi," Sam Tersenyum lega.


"Kenapa uncle harus khawatir?" tanya Zea penasaran.


"Itu artinya dia sudah tidak menyukaimu lagi sayang!"


"Daniel menyukaiku? Hahah, tidak mungkin!" Zea menyangkalnya.


"Tidak percaya ya sudah. Sebagai sesama pria aku tau betul dia tertarik padamu!"


"Benarkah. Oh astaga, seharusnya dulu aku menyadarinya jika Daniel menyukaiku," ujar Zea dengan maksud menggoda suaminya.


"Aku hanya bercanda uncle. Cinta Zea hanya milik uncle, Zea sama sekali tidak tertarik dengan siapapun. Dan Zea bahagia bersama uncle," Zea meraih tangan Sam dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca, dia hanya ingin lucu-lucuan namum Sam malah menanggapinya dengan serius.


"Aku juga hanya bercanda," Sam merengkuh tubuh Zea ke dalam pelukannya.


"Menyebalkan," gerutu Zea sambil memukul pelan dada sang suami..


Sam terkekeh, dia lalu menciumi kepala istrinya penuh kasih sayang. "Sayang," panggilnya Sam dengan mesra.


"Hem."


"Kau lelah tidak?" Zea menggeleng.


"Mau bermain tidak, aku rindu?"


Zea mengangkat kepalanya sehingga dia bisa melihat wajah Sam. "Tapi aku malu?"


Sam menunduk hingga netra mereka saling bertemu. "Malu kenapa? Aku sudah melihat semuanya sayang!"


"Sekarang tubuhku tidak sexiiii lagi, perutku gendut dan semua bagian tubuhku juga mekar," ucap Zea sedih, bukan dia tidak menikamati masa hamilnya namun dia takut Sam akan jijik melihat tubuhnya yang mirip ikan buntal.


Sam melepaskan pelukannya, dia mendorong pundak Zea perlahan dan menatap istrinya dengan lembut. "Dengar Ze, kau begini karena kau sedang mengandung anakku, aku sama sekali tidak keberatan meski tubuhmu sedikit berisi, asal kau selalu sehat maka itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku mencintaimu dalam segala bentuk tubuhmu sayang!"


"Uncle tidak risih melihat ku gemuk?"


"Tentu saja tidak. Kau malah terlihat menggemaskan sekarang!"


Zea kembali menghambur ke dalam pelukannya. "Terima kasih uncle," ucap Zea senang.


"Hem, jadi aku boleh menjenguk anak kita kan?" Zea mengangguk dengan wajah tersipu malu, sebenarnya semenjak hamil Zea lebih sering menginginkannya, namun Sam serinng menolaknya dengan alasan bercinta setiap hari tidak bagus untuk bayi mereka. Dan malam ini Zea tidak akan menyiakan kesempatan, dia akan menikmati malam panas yang selalu dia rindukan.


Sementara di rumah sakit, Daniel sedang menyuapi Clara makan malam karena gadis itu baru saja bangun setelah tidur cukup lama. Kedua orang tua Clara juga sudah pulang karena mereka memiliki pekerjaan yang tidak bisa di tunda. Dengan telaten Daniel menyuapi Clara hingga habis tak tersisa.


"Good girl, sekarang minun obatnya ya!"


Clara mengangguk, dia lalu menerima obat dari Daniel dan segera meminumnya. Meski kondisi Clara sudah stabil namun dokter melarangnya pulang karena tekanan darah Clara yang masih di bawah angka normal.


"Terima kasih Danie," ucap Clara tulus.


"Lekas sembuh ya, aku sedih melihatmu seperti ini," Daniel menggenggam tangan Clara dan menciumnya, dia ingin menunjukan perhatiannya pada sang kekasih.


"Aku sudah sembuh kok!"


"Aku sangat takut saat kau tiba-tiba pingsan, jangan pernah seperti itu lagi ya, aku bisa gila melihatmu tak sadarkan diri!"


Clara mengusap tangan Daniel yang sedang menggenggan tangannya. "Maaf membutmu khawatir Daniel, aku tidak akan pingsan lagi. Aku janji!"


Daniel lalu duduk di tepi tempat tidur Clara, dia lalu memeluk tubuh Clara dan mengusap kepala gadis itu. "Kau harus menepati janjimu ya!" ucapnya lembut namun terdengar penuh penekanan.


"Hem, aku janji!"


Daniel melepaskan pelukannya, di tersenyum sambil menatap wajah Clara yang mulai terlihat memerah setelaj sebelumnya begitu pucat. Entah dorongan dari mana, tatapan teduh Daniel membuat Clara hanyut, tanpa aba-aba gadis itu mencium bibir Daniel dengan lembut membuat Daniel sedikit terkejut. Clara hendak melepaskan ciumannya, namun Daniel lebih dulu menahan tengkuknya dan membalas ciuman Clara dengan mesra. Keduanya lalu saling bertukar saliva, lidah mereka saling membelit, menyisakan suara decapan yang menggema di ruangan tersebut.


Mereka terlena dengan permainan lidah mereka, sampai-sampai mereka tidak menyadari jika seseorang membuka pintu kamar.


"Clara kau baik-baik saja kan, aku....


Daniel dan Clara segera melepaskan ciuman mereka, keduanya menoleh ke arah pintu dan melihat seseorang berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut.


"Dave."


BERSAMBUNG...