
Pagi kembali menyapa, kondisi Zea semakin memburuk, demamnya kembali naik dan bahkan dia tak sanggup untuk bergerak. Ingin rasanya Zea bangun dan menghubungi sang mama, namun untuk membuka kelopak matanya saja dia kesulitan.
"Uncle," Zea mencoba memanggil Sam, berharap pria itu mendengar suaranya yang begitu pelan, malah lebih terdengar seperti rintihan. "Uncle, tolong Zea," ulangnya lagi penuh harap.
Sepertinya Tuhan mendengar doa Zea, tak berselang lama Sam masuk ke dalam kamarnya setelah beberapa kali mengetuk pintu. Sam menghampiri Zea yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Ze," panggil Sam dengan lembut. Entah sudah berapa lama Sam tak memanggilnya selembut ini.
"Hem," Zea hanya bergumam pelan, perlahan kelopak matanya sedikit terbuka.
"Sudah siang, tidak kuliah?" tanya Sam dan Zea hanya menjawabnya dengan kedipan mata. "Apa masih sakit?" Sam kembali memeriksa tubuh Zea, pria itu kembali panik karena suhu tubuh Zea begitu tinggi. "Kita ke rumah sakit sekarang!"
Tanpa menunggu persetujuan Zea, pria itu menggendong tubuh Zea dan segera membawanya ke rumah sakit. Sam mengemudi dengan kecepatan tinggi, sudah bukan rahasia lagi jika Zea memiliki darah langka dan hal tersebut tentu saja membuat Sam panik. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan gadis itu, Indhi pasti akan menyalahkannya karena tak bisa menjaga Zea.
Sam membawa Zea ke rumah sakit milik keluarga ayah mertuanya. Setelah sampai di depan UGD, Sam keluar dari mobil dan berlari masuk meminta bantuan, tak berselang lama dia kembali keluar dengan di ikuti dua perawat yang mendorong brankar. Sam kembali menggendong tubuh Zea dan membaringkannya di atas brankar tersebut.
"Nona Zea," ucap sang perawat dengan wajah panik, dia mengenali Zea karena dia adalah putri dari pemimpin rumah sakit. "Tolong hubungi Dokter Kevin!" titahnya pada teman kerjanya. Perawat itu lalu membawa Zea ke ruang tindakan, mereka harus memeriksa Zea dengan teliti mengingat Zea memiliki golongan darah yang langka.
(Dokter Kevin itu bapaknya Zea ya, namanya Kevin Ega Irvantara, kalau di RS di panggil Kevin, kalau di rumah di panggil Ega, biar nggak bingung bisa baca novel Marry me, Brother)
Sam menunggu dengan gelisah, dia di hantui rasa bersalah. Sam yakin Zea sakit karenanya, karena gadis itu melihatnya sedang bersama Felisya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ega begitu dia sampai di UGD, pria yang tak lagi muda itu terlihat begitu panik.
"Zea demam yah," jawab Sam dengan kepala menunduk.
"Bagaimana bisa?"
"Sam juga tidak tau, saat Sam pulang kerja Zea sudah demam," jawab Sam setengah bohong, dia tak mungkin mengatakan jika dia menemukan Zea tidur di lantai dengan wajah sembab karena terlalu lama menangis.
"Sam, ini mungkin sedikit keterlaluan, tapi ayah mohon, perhatikan kesehatan Zea sebaik mungkin. Kau tau sendiri kan kondisinya seperti apa!"
"Iya yah. Sam minta maaf karena Sam terlalu sibuk bekerja!"
Setengah jam kemudian, dokter yang memeriksa Zea keluar dari ruang tindakan dan segera di hampiri oleh Ega dan juga Sam.
"Bagaimana kondisi Zea dok?" tanya Ega, kekhawatiran tak bisa di sembunyikan dari wajahnya yang mulai menua.
"Syukurlah hanya demam biasa. Nona Zea hanya kelelahan. Setelah demamnya turun dan infusnya habis, nona sudah boleh pulang. Kami juga sudah melakukan tes darah, dan hasilnya semua normal dok," jawab dokter itu dengan ramah.
"Terima kasih banyak dok," ucap Sam dengan nafas penuh kelegaan.
Ega dan Sam lalu menemui Zea yang masih terbaring lemah di atas hospital bed, hati Sam mencelos melihat wajah Zea yang begitu pucat.
Ega mengecup kening putrinya, ketakutannya akan kehilangan Zea selalu ada di depan matanya, andai saja dia bisa memilih, dia bersedia menggantikan Zea dan menanggung semua penderitaan gadis kecilnya. "Sam, ayah ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal. Ayah titip Zea ya, sebentar lagi mama ke sini!"
Setelah kepergian ayah mertuanya, Sam duduk di sebelah tempat tidur Zea, pria itu menatap wajah istrinya dengan perasaan iba. "Kau begini karena aku kan Ze? Haruskan kita akhiri semuanya. Aku tidak ingin terlalu jauh menyakitimu," ucap Sam dengan pelan, namun rupanya Zea bisa mendengarnya karena gadis itu sudah sadar. Zea tak memiliki keberanian untuk membuka matanya, dia takut Sam akan kembali mengucapkan kalimat yang tidak pernah ingin dia dengar.
Di saat yang bersamaan, ponsel Sam bergetar, sebuah panggilan masuk dan itu dari Felisya. Sam ragu untuk mengangkatnya, namun ponselnya kembali bergetar.
"Ya Fel," ucapnya dengan pelan.
"Hiks," hanya suara isak tangis yang terdengar di ujung telefon.
"Ada apa Fel? Kenapa kau menangis?"tanya Sam dengan suara panik.
"Tolong aku Sam, apartemenku kerampokan!"
"Apa? Baiklah aku kesana sekarang!"
Seolah melupakan kondisi istrinya, Sam bergegas keluar dari ruang perawatan Zea, namun saat dia berada luar ruangan dia menghentikan langkah kakinya dan baru mengingat jika dia harus menjaga Zea. "Apa yang harus aku lakukan? Feli pasti membutuhkanku, tapi bagaimana dengan Zea?"
Sam berlari menghampiri perawat yang bertugas, karena terlalu mengkhawatirkan Felisya, dia berencana menitipkan Zea kepada perawat. "Permisi sus, tolong bantu saya menjaga Zea karena saya ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan," pesannya kepada perawat yang sedang bertugas.
"Baik," perawat tersebut tak bisa menolak karena dia tau siapa pasien yang di titipkan kepadanya.
"Terima kasih banyak sus!" Sam lalu berlari keluar dari rumah sakit dan menuju apartemen Felisya.
Sementara di ruang perawatan, Zea membuka matanya beriringan dengan air mata yang meluncur bebas tanpa persetujuannya. Gadis itu begitu hancur melihat Sam yang begitu memperdulikan Felisya yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya. Zea segera menghapus air matanya saat samar-samar dia mendengar suara sang mama, dan benar saja tak lama kemudian Indhi masuk ke dalam ruang perawatannya.
"Zea, sayang. Kamu kenapa nak?" Indhi tampak begitu panik, di lihat dari matanya yang memerah sudah dapat di pastikan jika wanita itu baru saja menangis.
"Zea cuma kecapean mah," jawab Zea dengan senyum yang dia paksakan.
"Oh syukurlah, mama takut setengah mati Ze. Jangan bikin mama takut lagi ya," Indhi mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Di mana Sam, kenapa kamu sendirian?" Indhi baru menyadari jika menantunya tidak ada di samping Zea.
"Uncle baru saja pergi mah, pihak kampus menghubunginya karena ada pekerjaan yang mendesak," semenjak menikah, berbohong mulai menjadi kebiasaan Zea demi menjaga nama baik suaminya.
"Memang di kampus tidak ada dosen lain apa?"
"Banyak mah, tapi yang mereka butuhkan adalah uncle Sam."
"Ya sudah. Lebih baik Zea istirahat sekarang!"
Zea kembali menutup matanya, sebisa mungkin dia menahan air mata yang terus menerobos keluar dari pelupuk matanya. Sementara Indhi hanya diam dan mengamati sudut mata Zea yang terus meneteskan air matanya. Sejak kecil Zea memang cenderung tertutup, hanya kepada Rama dia akan menceritakan semua keluh kesahnya.
"Kesedihan seperti apa yang kamu rasakan nak?"
BERSAMBUNG...