
Pagi hari saat akhir pekan, Indhi menghubungi Sam agar menantu dan putrinya datang ke rumah untuk makan malam. Indhi sengaja menghubungi Sam, agar pria itu mau datang ke rumahnya. sudah dua bulan lebih sejak Sam menikahi Zea, namun belum sekalipun mereka menginap di rumah orang tua Zea.
Sam menghela nafas berat setelah membaca pesan dari ibu mertuanya. Padahal sebelumnya Sam sudah ada janji dengan Felisya, mereka berencana untuk makan siang dan nonton bioskop bersama. Namun Sam juga tidak bisa menolak Indhi, karena wanita itu mengirim pesan langsung untuknya.
Sam akhirnya menghubungi Felisya.
"Hallo Sam," sapa Felisya dengan ceria.
"Fel, sepertinya acara kita hari ini harus di batalkan," ucap Sam penuh sesal.
"Kenapa Sam?"
"Mama mertuaku mengajak makan malam di rumahnya Fel. Aku tidak bisa menolaknya karena aku sangat menghormatinya Fel," jelas Sam.
"Oke Sam. Aku mengerti. Kita bisa pergi lain waktu," jawab Felisya terdengar bijak, meski sebenarnya dia kesal setengah mati karena dia sudah berada di salon untuk bersiap-siap sebelum bertemu Sam.
"Kau tidak marak kan Fel?" tanya Sam, dia merasa bersalah terhadap wanitanya.
"Tentu saja tidak Sam. Lagi pula kita bertemu setiap hari di kampus."
"Terima kasih Fel. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Sam."
Sam menutup telfonnya, pria itu lalu berdiri dan berniat pergi ke kamar. Sam begitu terkejut saat melihat Zea berdiri di belakangnya, gadis itu mencoba tersenyum dengan mata berkaca-kaca setelah mendengar suaminya mengucapkan cinta untuk wanita lain.
"Uncle, mama ingin makan malam bersama nanti?" ucap Zea setelah berhasil mengendalikan dirinya.
"Ya," jawab Sam singkat.
"Uncle akan datang kan?" tanya Zea memastikan.
"Hem," Sam hanya bergumam, dia lalu melangkahkan kakinya menuju kamar, meninggalkan Zea yang masih terpaku di tempatnya.
"Sabar Zea, ini pilihanmu. Kau tidak boleh menyesal!" gumam Zea seraya menghapus air mata yang akhrinya berjatuhan di wajahnya Zea harus mulai membiasakan diri saat Sam berbicara mesra dengan Felisya. Zea juga harus belajar menutup matanya saat melihat Sam bersama Felisya dengan begitu bahagia.
.
.
Jam setengah tujuh malam Zean dan Sam tiba di rumah kedua orang tua Zea. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Indhi dan Ega. Karena sudah tiba waktunya makan malam, mereka langsung pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama.
Sam tampak begitu canggung, untung saja Zea mampu menutupi kecanggungan Sam. Gadis itu dengan telaten melayani suaminya, mengambilkan nasi serta lauk ke dalam piring Sam.
"Ini ayah yang masak, pasti enak," ucap Zea seraya menaruh sepotong ayam bakar bagian dada di piring Sam, padahal Zea tau betul Sam tidak menyukai bagian dada.
Sam melirik Zea sekilas, ingin rasanya dia mengganti ayamnya dengan bagian paha, tapi dia malu dan segan untuk meminta tolong kepada Zea.
Mau tidak mau akhirnya Sam memakan apa yang ada di piringnya, keluarga kecil itu lalu menikmati makan malam mereka dengan tenang.
"Bagaimana pekerjaanmu Sam?" tanya Ega setelah mereka selesai makan malam.
"Lancar yah. Justru restoran yang sedang ada masalah. Beberapa cabang tutup karena sepi pengunjung," jawab Sam apa adanya karena memang akhir-akhir ini usahanya lumayan sepi. Semenjak di tinggal sang momy, Sam tidak fokus mengelola restoran sendirian, apalagi Sam masih harus mengajar di kampus.
"Namanya usaha pasti ada pasang surutnya. Coba diskusi dengan Zea. Dia cukup handal dalam management bisnis, siapa tau bisa membantumu," Ega memberi saran karena meski Zea masih sangat muda namun dia memang menguasai ilmu management, Zea juga turun andil dalam mengelola management rumah sakit yang di pimpin oleh Ega.
"Iya yah."
"Sudah malam, lebih baik kalian menginap saja malam ini."
"Menginap?" Sam sedikit terkejut, dia menoleh ke samping di mana istri kecilnya berada dan memberi kode lewat mata agar Zea menolaknya.
"Baik yah. Kita akan menginap," jawaban Zea sontak membuat Sam kesal, jika menginap itu artinya mereka akan tidur di kamar yang sama.
"Sudah malam, lebih baik kalian istirahat," ucap Indhi dan hanya di angguki oleh Sam dan Zea. Keduanya lalu naik ke lantai dua di mana kamar Zea berada.
"Kenapa kau tidak menolaknya Ze?" cecar Sam begitu mereka masuk ke dalam kamar.
"Kenapa uncle juga tidak menolaknya. Zea ingin menginap di sini, kalau uncle keberatan silahkan uncle pulang. Mungkin saja kekasih uncle sudah menunggu di rumah!" jawab Zea menohok hati Sam, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar lalu menatap wajah istrinya.
"Jangan bawa-bawa Felisya karena dia tidak tau apapun!" Bisik Sam namun penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Oh, sorry," Zea terkesan cuek meski sebenarnya hatinya sangat sakit. Gadis itu berjalan menuju lemari baju dan membukanya, dia lalu memberikan piyama tidur untuk Sam. "Silahkan pakai kalau uncle mau menginap di sini, silahkan pergi kalau uncle ingin pulang."
Dengan sangat terpaksa Sam menerima piyama tersebut. Dia pergi ke kamar mandi dan mengganti baju dengan piyama yang Zea berikan. Di dalam kamar mandi, Sam mengirim pesan untuk Felisya.
"Fel, aku menginap di rumah orang tua Zea."
Satu menit, dua menit, lima menit, Felisya tak kunjung membalas pesan Sam, pria itu berpikir mungkin Felisya marah kepadanya karena Sam membatalkan janji mereka.
"Uncle, apa uncle pingsan di kamar mandi?" teriak Zea seraya mengetuk pintu, sudah sepuluh menit Sam masuk ke dalam kamar mandi dan tak kunjung keluar.
Sam membuka pintu kamar mandi,l dengan wajah yangbegitu murung "Kenapa berisik sekali,' ucapnya lalu berjalan melewati Zea menuju tempat tidur. Sam meraih bantal dan selimut lalu membawanya ke sofa, malam ini dia akan tidur si sofa.
"Uncle tidak ingin tidur bersamaku?" tanya Zea setelah mengumpulkan semua keberaniannya untuk menanyakan hal tersebut.
"Tidak!" jawab Sam dengan cepat.
"Oh ya sudah. Good night uncle!"
BERSAMBUNG...