Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Rencana ulang tahun



Aku kasih tiga bab ni, jangan lupa vote yaa.. Hadiah jugaa..


Happy reading😍😍


Zea menyambut Sam pulang dengan wajah penuh senyum, Sam sampai mengerutkan keningnya karena merasa sikap Zea sangat aneh. Zea terus membuntuti Sam sampai di kamarnya, karena sejak malam penyatuan pertama mereka Sam memutuskan untuk tidur di kamar Zea.


"Ze, kau ini kenapa?" tanya Sam, melihat istrinya begitu bahagia membuat Sam juga merasakan kebahagiaan, pria itu ikut tersenyum.


"Uncle, satu minggu lagi Zea ulang tahun. Apa boleh Zea merayakannya di luar, bersama uncle, mama, ayah dan teman-teman?" ucap Zea seraya mengedipkan matanya dengan cepat, gadis itu memasang wajah seimut mungkin, sangat menggemaskan.


Sam mencubit kedua pipi Zea dengan gemas. "Kalau kau seimut ini bagaimana aku bisa menolaknya. Kau ingin merayakannya di mana?"


Zea tersipu saat Sam menyebutnya imut, gadis itu menjadi salah tingkah. "Di restoran uncle saja, bolehkan?"


"Tentu. Sekarang aku mandi dulu, setelah itu makan malam. Aku sudah membelikan makan malam untukmu," Sam mengusap kepala istrinya, saat gadis itu mengangguk patuh, Sam tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Zea memilih untuk turun dan menyiapkan makan malam. Beberapa saat kemudian Sam turun dan menghampirinya di meja makan. Karena akhir-akhir ini Zea nafsu makan Zea sedang meningkat Sam sengaja membeli 3 tiga porsi makanan dengan menu berbeda.


Keduanya lalu menikmati makan malam mereka, namun Zea terus melirik piring Sam karena merasa jika milik Sam lebih enak. Sam menyadari jika sejak tadi Zea menatap piringnya sambil meneguk ludah.


"Zea mau yang ini?" tanya Sam seraya menunjuk piringnya.


"Apa boleh?' Zea menjawab dengan penuh harap.


"Tapi aku sudah memakannya sedikit Ze? Kau tidak jijik?"


Zea menggeleng dengan cepat. "Untuk apa jijik, kita bahkan sudah sering bertukar ludah," jawaban Zea cukup frontal dan berhasil membuat Sam meremang. Sam lalu memberikan makanannya kepada Zea dan dia mengambil salah satu piring Zea.


Zea sangat senang dan menikmati makanannya, Sam tersenyum melihat Zea begitu lahap.


Pukul sembilan malam keduanya sudah berada di kamar, Sam duduk di atas ranjang sambil memangku laptopnya, sepertinya pria itu sedang menyelesaikan pekerjaannya. Zea keluar dari kamar mandi, gadis itu mendekati suaminya yang masih sibuk.


"Apa belum selesai?" tanya Zea.


"Seben...." Sam tak melanjutkan kalimatnya karena saat dia mengangkat kepalanya dia terkejut melihat penampilan Zea yang sangat sexiii dan menggoda. Gadis itu memakai gaun malam super tipis dan menerawang, membuat lekuk tububnya terlihat begitu jelas. Sam meneguk ludahnya berkali-kali, gaun berwarna merah menyala itu membangunkan hasratnya.


"Ze, kau," lidah Sam mendadak kelu, dia tak bisa berkata-kata selain menatap istrinya tanpa berkedip.


"Uncle masih sibuk?" tanya Zea dengan suara menggoda, gadis itu berjalan ke sisi ranjang lalu duduk di sebelah Sam.


"Su-sudah selesai," Sam menutup laptopnya dengan jantung yang berdebar-debar.


Zea mendekatkan wajahnya ke telinga Sam, membuat darah Sam berdesir, sekujur tubuhnya terasa panas. "Aku menginginkannya uncle!"


Sam menelan ludahnya dengan susah payah. Mereka sudah beberapa kali melakukannya, namun saat ini rasanya begitu gugup karena Zea yang memintanya lebih dulu. Sam menoleh dan menatap Zea lembut.


"Kau tak lelah?" tanya Sam dan Zea menggelang.


Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Sam menarik tubuh Zea dan membawanya ke atas pangkuannya. "Kau yang menggodaku terlebih dulu, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah malam ini," ucap Sam dengan mata berkabut gairah, sebelum Zea menjawabnya pria itu lebih dulu mencium bibir istrinya. Zea tak tinggal diam, dia mengalungkan tangannya di leher Sam lalu membalas ciuaman suaminya yang mulai menuntut.


Hanya dalam sekali tarikan gaun malam yang Zea kenakan terlepas dan memamerkan tubuh indahnya. Sam terpaku menatap benda kenyal yang tepat berada di depan matanyaa, otak mesyumnya menyuruhnya untuk segera melahap benda kenyal itu.


"Ah," Zea melenguh panjang saat Sam bermain-main dengan pucuk dadaa nya yang sudah mengeras, apalagi saat tangan suaminya mulai bergerak melepaskan kain segitiga yang menutup daerah intinya.


Sam melepaskan Zea dan membaringkan istrinya, dekan cepat pria itu melepas semua kain yang menempel di tubuhnya. Sam kembali duduk dan dia kembali memangku istrinya. Meski dengan mata terpejam Sam berhasil memasuki istrinya.


"Bergeraklah sayang, ekpresikan dirimu," ucap Sam seraya menjilat cuping telinga istrinya.


Di panggil sayang membuat Zea menggila, hasratnya semakin berkobar, gadis itu menggerakkan pinggulnya dengan liar, bibir mungilnya tak henti-hentinya mendesaaaahh dan memanggil nama suaminya.


"Sam aku sampai," pekik Zea seraya memejamkan matanya.


Sam tersenyum saat berhasil membuat Zea melayang, pria itu lalu membalik tubuh istrinya sehingga Zea berada di dalam kungkungannya. Pria itu lalu bergerak liar di atas tubuh sang istri. Hingga malam semakin larut, kedua insan itu masih saling bergelut mengejar sebuah kenikmatan. Erangan dan desaaaahaan menggema di dalam kamar, entah sudah berapa lama mereka melakukan malam panas penuh gairah.


Sementara di tempat lain, Felisya tak henti-hentinya menggerang menahan amarah saat dia mendengar rekaman suara Zea dan Sam tengah bercinta. Ya, sejak Sam memutuskan hubungan mereka, Felisya memasang alat penyadap di tas kerja Sam, tujuannya tentu saja agar dia tau apa yang Zea lakukan sehingga Sam meninggalkannya.


Felisya memutar otaknya, wanita itu lalu tersenyum licik saat rencana jahat terlintas di kepalanya.


"Tunggu saja Zea, aku akan menyingkirkanmu. Sam luluh karena kau memberikan tubuh mu itu!" ucapnya dengan senyum menyeringai.


Felisya menoleh saat dia mendengar langkah kaki mendekat. tak berselang lama tangan seorang pria memeluknya dari belakang.


"Fel, apa kau tidak ingin melakukannya setelah mendengar suara erotis dari mantan kekasihmu?" tanya Victor seraya menciumi leher Felisya.


"Hentikan Victor, aku sedang menyusun rencana untuk menyingkirkan Zea," Felisya melepaskan tangan Victor secara paksa. Melihat mood Felisya yang sedang butuh Victor lalu melepas pelukannya dan duduk di sebelah Felisya.


"Kenapa kau sangat terobsesi dengan Sam? Menurutku dia tak terlalu kaya, kau bisa mencari pria lain yang lebih kaya Fel," tanya Victor penasaran, bertahun-tahun mengenal Felisya, pria itu hafal betul peringai Felisya yang kerap bergonta-ganti pria kaya hanya untuk menguras hartanya. Felisya bahkan rela kawin cerai demi mendapatkan harta dari mantan suaminya. Tapi sekarang, Victor merasa Felisya begitu terobsesi pada Sam.


"Aku tidak suka kekalahan, kau tau betul itu. Apalagi aku kalah dari gadis kecil seperti Zea. Aku tidak menyerah, Sam harus menjadi milikku!" tegas Felisya penuh amarah. Kedua tangannya mengepal saat mengingat Zea menggoda Sam dengan tubuhnya, di tambah suara erangan Sam membuat Felisya semakin murka.


"Kau tidak benar-benar mencintainya kan Fel?"


Felisya menoleh dan menatap tajam Victor. "Tentu saja tidak! Aku hanya menginginkan hartanya," jawab Felisya dengan cepat dan malah semakin membuat Victor curiga. "Jangan membahasnya lagi, ayo puaskan aku!"


BERSAMBUNG...