
Kebahagiaan tengah menyelimuti Zea dan Sam, setelah melewati masa yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya mereka kembali ke Indonesia bersama bayi kembar mereka. Kedatangan mereka di sambut oleh pesta kecil-kecilan yang di adakan di rumah orang tua Zea dan hanya di hadiri oleh rekan terdekat saja.
Indhi, Arum dan Dita berebut untuk menggendong bayi laki-laki itu. Indhi akhirnya mengalah dan membiarkan kedua sahabatnya menggendong cucu-cucunya.
"Aku tidak percaya sekarang sudah menjadi nenek," gumam Indhi sambil menatap kedua cucunya yang berada di pelukan Arum dan Dita.
"Hem, rasanya baru kemarin kita menikah dan melahirkan anak-anak," sahut Ega dengan raut bahagia.
Kedua bayi yabg di beri nama Nicky Devin Wijaya dan Nicho Davian Wijaya terlelap di ayunan mereka, sementara semua orang dewasa sedang menikmati makan malam mereka dengan suasana yang membahagiakan.
Dave turut hadir meski dia hanya diam dan sesekali mengajak bayi Nick dan Nicho bermain, sisanya dia hanya memperhatikan hubungan Clara dan Daniel yang semakin dekat. Meski hubungabnya dengan Clara belum membaik, namun Dave merasa cukup senang karena akhirnya Clara menemukan orang yang tepat, meski jauh di dalam hatinya dia sidikit tak rela melihat Clara bersama orang lain.
"Kapan kau kembali ke Amerika Ram?" tanya Aditya.
"Lusa," jawab Rama singkat padat dan jelas, sejak kecil Rama memang sedikit cuek dan irit dalam hal berbicara.
"Secepat itu? Apa kau yakin tidak ingin magang di rumah sakit kita?"
"Tidak uncle, rasanya tidak nyaman!"
"Lihatlah uncle dan ayahmu, kami sudah tua. Bukankah sudah waktunya kalian mengambil alih rumah sakit?" Aditya menatap Rama dan Dave secara bergantian.
"Aku tidak berminat dad, aku hanya akan menjadi dokter!" jawab Dave tegas.
"Aku juga!" sahut Rama.
"Lalu siapa yang akan meneruskan rumah sakit kalau bukan kalian?" kini Ega ikut bicara, dia dan Aditya sudah cukup tua untuk memimpin rumah sakit, namun tak ada satupun dari anak-anak mereka yang berminat mengambil alih kepemimpinan mereka.
"Zea yang akan memimpin rumah sakit yah, uncle," sahut Zea tanpa ragu, sejak awal cita-citanya memang ingin mengembangkan rumah sakit.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak Ze?" Sam sepertinya sedikit keberatan.
"Sam tidak setuju ma! Sam tidak mau anak-anak kekurangan kasih sayang Zea!" tegas Sam penuh penekanan.
"Kalau begitu uncle saja yang menggantikan ayah. Uncle kan dosen management bisnis, pasti uncle bisa mengambil alih rumah sakit," ujar Zea memberi opsi lain.
"Hem, benar apa yang di katakan Zea, bagaimana Sam apa kau akan memikirkannya?" ucap Aditya menimpali.
"Aku tidak mau kak, aku tidak memiliki pengalaman apapun tentang rumah sakit!" tolak Sam secara langsung.
"Ayah akan mengajarimu!"
Sam diam sejenak, dia menatap Zea dan kedua bayinya. Anggap saja dia egois karena melarang Zea untuk mengambil alih rumah sakit, namun Sam hanya ingin anak-anaknya tidak kekurangan perhatian dari ibunya.
"Sam akan memikirkannya!"
.
.
Sementara di tempat lain, Victor sudah berada di penjara setelah dia menyerahkan diri. Kini dia sedang menunggu keputusan pengadilan, namun karena dia sempat kabur, dia sudah menyiapkan dirii jika mendapatkan hukuman yang berat.
Felisya yang mendengar kabar itu pun meradang, dia merasa Victor tak berguna karena dengan bodohnya menyerahkan diri. Sekarang dia tidak memiliki kaki tangan untuk mencelakai Zea dan Sam. Rupanya Felisya belum kapok, dia masih tidak rela Zea dan Sam hidup bahagia.
"Aku akan membalas kalian, ini sumpahku!"
BERSAMBUNG...
Slow up ya, aku lagi nggak enak badan lagi..
Buat kalian jangan lupa jaga kesehatan ya❤️❤️