
Dua minggu sejak kepulangan Zea ke Indonesia, kondisi nya kini semakin membaik, dia bahkan sudah di perbolehkan turun dari ranjang setelah sebulan total melakukan bed rest. Hampir setiap hari Dave datang menjenguk Zea sebelum dia berangkat ke kampus, Dave seolah memiliki secercah harapan mengingat hubungan Sam dan Zea yang merenggang.
Seperti pagi ini, Dave datang bersama Clara, mereka membawa bubur ayam dan sarapan bersama, semenjak hamil nafsu makan Zea memang meningkat, namun dia selalu malas sarapan jika tak di temani oleh siapapun.
Dave menahan Zea saat wanita hamil itu hendak menuang sambal ke buburnya, sementara Clara hanya memperhatikan nya, meski dia merasa cemburu, namun tak sepantasnya dia menunjukan rasa cemburunya itu.
"Ibu hamil tidak boleh makan pedas, nanti kalau kamu diare bagaimana?" ucap Dave seraya membuang sambal yang di pegang oleh Zea.
"Hanya sedikit Dave," rengek Zea karena rasanya begitu hambar jika makan bubur tanpa sambal.
"Ze, dengerin apa kata pak Dokter Dave, makan pedasnya nanti lagi kalau dedek bayi sudah lahir," sahut Clara menengahi, gadis itu terkekeh saat melihat Zea mencebikkan bibirnya karena di larang makan sambal.
"Ya, ya, aku kalah!"
Ketiganya lalu kembali menikmati sarapan mereka. Seperti biasa, sebelum berangkat ke kampus Dave akan menyiapkan obat mana saja yang harus Zea konsumsi, Dave sudah seperti dokter pribadi Zea, padahal kedua orang tua Zea juga merupakan dokter, namun mereka membiarkan Dave merawat putri mereka.
Dave dan Clara keluar dari rumah Zea, mereka hendak berangkat ke kampus. Keduanya menghela nafas panjang saat melihat Sam masih duduk di halaman rumah Zea. Dave selalu mengacuhkan Sam dan langsung masuk ke dalam mobilnya, namun tidak dengan Clara, setiap pagi dia selalu menghampiri Sam untuk sekedar menyapa.
"Uncle tidak ingin masuk?" pertanyaan itu selalu Clara ucapkan semenjak Zea pulang ke rumah, karena sejak itu pula Sam akan datang sebelum berangkat ke kampus dan setelah pulang mengajar.
Sam menggeleng lemah. "Bagimana kondisi Zea dan bayinya Ra?" dan pertanyaan itu pula yang selalu Sam tanyakan pada Clara.
"Zea sudah lebih baik uncle, nafsu makannya juga bagus. Badannya sedikit berisi sekarang, dia sudah naik tiga kilo gram," jawab Clara dengan ramah. Dia tau Sam memang bersalah, namun Clara melihat ketulusan Sam dan penyesalannya, Clara juga yakin jika kini Sam mencintai sahabatnya.
"Syukurlah, dia pasti semakin cantik," ucap Sam dengan mata berkaca-kaca, dia sangat merindukan istrinya.
"Hem. Lebih baik uncle ke kampus sekarang, nanti telat!"
Clara lalu meninggalkan Sam karena harus bergegas ke kampus. Sebelum pergi, Sam menatap jendela kamar istrinya, dia tau jika setiap pagi Zea selalu mengamatinya di balik jendela itu.
"Aku berangkat dulu Ze, jaga kesehatanmu. Aku mencintaimu!" Satiap pagi Sam selalu berteriak dan mengungkapkan perasaannya, dia ingin Zea tau jika kini dia mencintai Zea dan ingin segera berkumpul bersama Zea dan bayi mereka.
Di balik jendela, Zea menghapus air matanya. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk menyiksa Sam, dia tak tega melihat pria nya semakin hari semakin kurus dan terlihat tak terurus. Namun Zea masih harus menyakinkan kedua orang tuanya, dia ingin pernikahannya kembali di restui oleh kedua orang tuanya.
"Sabar uncle, tunggu kami sebentar lagi!"
Sementara itu, Indhi dan Ega yang berada di balik pintu hanya bisa menitikan air matanya. Bukan maksud mereka untuk memisahkan Zea dengan pria yang di cintainya. Indhi dan Ega hanya khawatir, dia takut jika Felisya bisa saja menyuruh orang untuk mencelakai Zea meski kini dia mendekam di penjara.
.
.
Malam ini langit seolah tau kesedihan Sam, sejak petang tak henti-hetinya hujan turun membasahi bumi. Namun hal tersebut tak menyurutkan niat Sam untuk menemui Zea, pria itu tetap menunggu di halaman rumah Zea dan berharap Zea akan menemuinya.
Semakin malam, hujan semakin lebat, bahkan kini di sertai angin dan juga petir. Zea merasa khawatir, dia mengintip dari balik jendela dan melihat mobil Sam masih terparkir di halaman rumahnya.
Namun Zea tak bisa melakukan apapun selain menunggu, namun hingga fajar menyingsing, dia masih melihat mobil Sam terparkir di sana. Karena merasa khawatir, diam-diam Zea keluar dari rumah, Zea membawa senter karena langit masih gelap.
Zea menghampiri mobil Sam, dia lalu mengetuk kaca mobil suaminya. Beberapa kali mengetuk namun tak ada respon apapun membuat Zea semakin khawatir.
"Uncle, buka pintunya," ucap Zea sekali lagi, kali ini dia mengetuk kaca mobil dengan lebih keras.
Mendengar suara istrinya perlahan Sam membuka matanya, pria itu tersenyum melihat Zea ada di luar mobilnya, Sam bergegas membuka pintu mobil, dia ingin segera memeluk istrinya.
"Ze, aku sangat merindukanmu sayang," ucapnya pelan, namun detik berikutnya pandangannya berkabut, sebelum Sam sempat meneluk Zea pria itu lebih dulu jatuh terjerembab di atas tanah.
"Uncle," Zea berteriak karena tiba-tiba Sam tak sadarkan diri. Gadia itu berusaha membalik tubuh Sam dan menepuk pipinya, namun dia justru menyadari jika suhu tubuh Sam sangat tinggi.
"Ayah, tolong Zea," teriak Zea sekencang mungkin, tak berselang lama Ega dan Indhi berlari keluar dengan panik, apalagi saat melihat Zea berada di luar.
"Ada apa Ze? Apa kau terluka?" cecar Indhi dengan panik.
"Tidam ma, tapi uncle. Dia tiba-tiba pingsan!" jawab Zea seraya menunjuk Sam yang tergeletak di atas tanah.
"Astaga Sam," pekik Ega, pria itu lalu memeriksa kondisi menantunya. "Nadinya sangat lemah. Sayang tolong hubungi ambulan, cepat!" ucap Ega memerintah istrinya, namun Indhi seperti orang linglung saat melihat Sam tak sadarkan diri. "Cepat Indhi!" ulang Ega dengan suara yang lebih keras.
"I-iya sebentat!"
Sepuluh menit kemudian ambulan datang, petugas paramedis segera membawa Sam ke rumah sakit. Zea memaksa untuk ikut, namun Ega melarangnya karena khawatir dengan kesehatan Zea, sebagi gantinya Ega yang mengantar Sam ke rumah sakit.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Ega pada dokter yang memeriksa Sam.
"Pasien mengalami dehidrasi, kekurangan gizi, gula darahnya juga sangat rendah. Sepertinya pasien kurang istirahat dan terlalu banyak pikiran yang mengakibatkan stres parah," jelas dokter tersebut.
Ega menghela nafasnya dengan berat, dia merasa kasihan pada Sam, pria itu pasti sangat tertekan dengan keadaan. Namun Ega tak bisa berbuat banyak karena Indhi sangat keras kepala dan masih sangat marah pada Sam.
BERSAMBUNG...