
Pada akhirnya Sam tidak bisa menolak Felisya, dengan sadar pria itu membawa wanita lain ke dalam rumahnya saat sang istri tengah sakit dan berada di rumah orang tuanya. Sam mengajak Felisya ke kamar tamu yang akan wanita itu tempati dalam beberapa hari ke depan.
"Kau bisa tidur di sini. Maaf tempatnya berantakan," ucap Sam saat keduanya sudah berada di dalam kamar tamu.
"Kamarnya nyaman kok Sam. Terima kasih banyak karena sudah memperbolehkan aku tinggal di sini Sam," balas Felisya dengan senyum yang selalu membingkai wajahnya.
"Hanya dua hari Fel, aku hanya mengizinkannya selama dua hari, aku takut tetangga akan salah paham."
"Baik Sam, aku akan segera mencari tempat tinggal!"
"Hem. Sekarang istirahatlah. Aku masih ada keperluan di luar!"
Sam lalu keluar dari kamar tamu dan kembali ke kamarnya. Saat melewati kamar sang istri, Sam berhenti sejenak dan menatap pintu yang tertutup. "Zea pasti akan mengerti kan?" ucapnya dalam hati.
.
.
Zea dan kedua orang tuanya sedang makan malam bersama, namun Zea tak berselera dan hanya mengaduk makanannya. Gadis itu menunggu kabar dari Sam, namun sampai malampun Sam tak kunjung menghubunginya.
"Ze, apa masakan ayah tidak enak?" tanya Ega seraya menatap putrinya.
"Enak kok yah, perut Zea sedikit tidak nyaman jadi Zea kurang berselera," jawab Zea.
"Makan beberapa suap lagi, lalu Zea minum obat dan istirahat," sahut Indhi, wanita paruh baya itu semakin yakin jika hubungan Zea dan Sam sedang tidak baik.
"Iya mah."
Setelah makan malam, Zea kembali ke kamarnya. Gadis itu dengan setia menunggu meski dia tau jika Sam tidak akan mengabarinya.
Sementara yang di tunggu-tunggu rupanya tengah asyik menikmati dinner romantis bersama wanita yang jelas-jelas tak memiliki hubungan apapun dengannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Felisya, tanpa meminta izin dari Sam, wanita itu memasak makan malam untuk mereka berdua, Felisya juga menyalakan lilin di meja makan sehingga suasana terasa romantis.
"Bagaimana masakanku Sam?" tanya Felisya, wanita itu berdandan secantik mungkin demi mendapat perhatian dari Sam.
"Sangat enak Fell. Maaf ya, aku jadi merepotkanmu."
"Tidak repot kok, hanya masak saja. Aku bahkan bersedia masak untukmu selamanya," jawab Felisya masih dengan senyum di wajahnya. Melihat wajah Sam yang menengang, wanita itu lalu terkekeh. "Aku hanya bercanda Sam."
Sam hanya tersenyum hambar, jauh di lubuk hatinya dia sangat berharap bisa bersama Felisya dan menikmati masakannya selama sisa hidup, namun ikatan tanpa cinta yang membelenggunya bersama Zea membuat Sam tidak bisa berbuat banyak.
Setelah makan malam, Felisya membersihkan semua piring kotor, wanita itu benar-benar sangat lihai mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
"Fell, biarkan saja. Besok pagi asisten rumah tanggaku datang," Sam mencoba mencegah agar Felisya tidak mencuci piring. "Kau kan tamu di rumah ini."
"Anggap saja ini bayaran karena kau mengizinkanku tinggal di rumahmu Sam. Aku terbiasa kok mencuci piring seperti ini."
"Baiklah kalau kau memaksa. Setelah selesai istirahatlah, aku ada pekerjaan," Sam lalu naik ke kamarnya, di dalam sana pria itu ragu apakah dia harus menghubungi Zea atau tidak. Sam khawatir jika Zea tiba-tiba pulang dan rahasia pernikahannya akan terbongkar. Jika Felisya tau dia sudah menikah, wanita itu pasti akan menjaga jarak dengannya dan Sam belum sanggup untuk itu.
Setelah mencuci piring, Felisya tidak langsung ke kamarnya. Wanita itu berkeliling, memeriksa setiap sudut rumah yang ukurannya tidak kecil itu. Felisya menyunggingkan senyum, setelah puas menjelajahi rumah orang tanpa izin, dia kembali ke kamarnya. Sebelum sampai di kamarnya, dia melewati kamar Sam dan kamar Zea, wanita itu berhenti tepat di hadapan kamar Zea.
"Kenapa dia tidak menyuruhku tidur di kamar ini?" tanyanya dalam hati, namun dia mencoba mengabaikan rasa penasarannya dan kembali ke kamarnya.
.
.
"Sam, sarapannya sudah siap," panggilnya dengan begitu lebut.
Sam lalu turun dan menghampiri wanita itu. "Aku semakin menginginkanmu Fel," ucap Sam dalam hati.
"Sam, aku masak nasi goreng kesukaanmu. Kau selalu minta bekalku saat kita masih kuliah dulu."
Ya, di sanalah awal Sam dan Felisya bertemu. Di sebuah universitas tempat mereka menimba ilmu. Sam dan Felisya sama-sama mahasiswa baru pada waktu itu, sejak pertemuan pertama mereka, Sam langsung jatuh cinta dengan wanita yang kini sedang duduk di hadapannya. Namun Sam begitu pengecut, pria itu tak bisa mengutarakan perasaannya sendiri karena takut Felisya akan menolaknya dan hubungan mereka akan jauh. Dengan bertopeng persahabatan, Sam memilih mencintai Felisya dalam diam. Jika saja dia sedikit memiliki keberanian, mungkin saja mereka sudah menikah dan hidup bahagai. Setiap pagi Felisya akan menyiapkan sarapan seperti yang di lakukan wanita itu setiap hari.
"Kau masih ingat itu," gumam Sam seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana aku bisa lupa, segala sesuatu tentangmu tersusun rapi di memoriku Sam."
Sam menaruh sendoknya, pria itu lalu memberanikan diri menatap wajah cantik yang selalu mengisi hati dan pikirannya. "Kenapa begitu?"
"Karena aku men...."
Felisya belum menyelesaikan kalimatnya saat ponsel Sam berbunyi, pria itu segera beranjak pergi saat mendapat telefon dari mama mertuanya.
"Hallo ma," sapa Sam setelah dia berada cukup jauh dari Felisya.
"Sam, kau tau Zea di rumah mama kan?" jawab Indhi langsung pada intinya.
"Iya mah, Zea sudah meminta izin!"
"Apa kau tidak mengkhawatirkannya. Kenapa kau tidak datang ke rumah?"
Sam diam sesaat, perkataan Indhi mencubit hatinya. Gara-gara mengurusi masalah Felisya, dia melupakan Zea yang jelas-jelas menjadi tanggung jawabnya. "Setelah pulang dari kampus, Sam akan pulang ke rumah mama!"
"Hem. Tolong sedikit perhatikan Zea. Kalau kau tidak bisa memberinya cinta, setidaknya beri dia perhatian!"
Sam kembali ke meja makan dengan perasaan gundah. Ucapan mama mertuanya benar-benar mengganggu pikirannya.
"Sam, boleh aku berangkat ke kampus bersamamu?" tanya Felisya.
Sam melirik Felisya sesaat, pria itu lalu mengangguk mengiyakan permintaan Felisya karena dia tak memiliki kemampuan untuk menolak keinginan wanita yang sangat dia cintai.
Setelah sarapan,mereka berdua berangkat ke kampus bersama. Kedatangan mereka menarik perhatian pada mahasiswa yang melihat kebersamaan mereka.
Dari kejauhan seorang gadis muda mengamati Sam dan Felisya, gadis itu mengambil foto mereka dan mengirimkannya kepada seseorang.
"Sepertinya mereka semakin dekat!"
BERSAMBUNG...