Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Pulang dan bersenang-senang



Clara tak langsung membawa Zea pulang ke rumah, kedua gadis itu singgah di salah satu restoran yang tengah viral karena menawarkan pengalaman bersantap sambil di marah-marahi atau di olok-olok. Keduanya memesan beberapa menu, dan benar saja para pelayan di tempat tersebut sangat tidak ramah bintang 1.


"Ra, kenapa mereka tidak ada yang ramah?" tanya Zea penasaran, sebab dia belum tau konsep restoran tersebut.


"Emang begini konsepnya Zea. Mumpung kamu lagi kesel, kamu bisa melampiaskan kepada mereka," Clara memberi saran seraya menaik turunkan kedua alisnya.


Zea membuang nafasnya dengan kasar, ingin rasanya dia meneriaki Clara karena membawanya ke tempat yang menyebalkan, namun Zea tak tega karena dia yakin maksud Clara pasti untuk menghiburnya.


"Ini pesananan loe semua," seorang pelayan mengantarkan pesanan Zea dan Clara, awalnya Zea masih biasa saja. Namun dia mulai geram saat pelayan tersebut menaruh piringnya dengan kasar. Kekesalan Zea semakin memuncak saat pelayan tersebut mengaduk minumannya dengan jari tengah. Zea yang sejak awal memang sudah kesal menjadi semakin kesal, gadis yang terlihat begitu anggun dan lembut itu beranjaka dari duduknya. Tangannya yang mungil nan mulus meraih gelas berisi orange jus. Dan tanpa di sangka Zea menyiramkan minumannya di atas kepala pelayan tersebut membuat semua orang tercengang termasuk Clara.


"Anda pikir saya sapi yang sudi meminum air bekas kobokan tangan anda," ucap Zea dengan wajah memerah menahan amarah.


"Norak loe, emang gini konsep restoran ini!' jawab sang pelayan tak kalah sebal.


"Saya tau restoran ini mengusung konsep pelayan yang menyebalkan, namun yang anda lakukan sudah sangat keterlaluan. Memasukan tangan anda ke dalam minuman pelanggan sama artinya anda tidak memiliki adab dan sopan santun!"


"Udah Ze, lebih baik kita pulang," ajak Clara karena dia tidak ingin terjadi keributan.


"Nggak bisa Ra, dia udah keterlaluan. Aku harus ketemu sama manager restoran, aku mau komplain!" tegas Zea masih dengan kekesalan di wajahnya.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria berpakaian rapi.


"Anda siapa?" tanya Zea seraya menatap pria tersebut.


"Perkenalkan saya Daniel, manager restoran ini. Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap pria bernama Daniel memperkenalkan diri.


"Kebetulan anda di sini. Saya tidak terima minuman saya di aduk dengan tangan karyawan anda!"


Daniel melirik pelayannya sekilas. "Benar begitu?" tanyanya dan hanya di angguki oleh sang pelayan.


"Maafkan atas ketidaknyamanan anda. Kami akan mengganti minuman anda dengan yang baru," ujar Daniel seraya menundukan kepalanya.


"Tidak perlu. Saya tidak berselera lagi. Tolong perbaiki adab pelayan anda. Saya tau restoran ini mengusung konsep yang menyebalkan, tapi saya tidak terima jika seseorang mempermainkan makanan!" setelah melayangkan protesnya, Zea segera keluar dari restoran yang menurutnya tidak cocok buka di Indonesia, negara yang menjunjung tinggi nilai kesopanan dan tata krama.


"Ze tunggu," Clara berlari mengejar Zea yang sudah berada di dekat mobilnya. "Maaf ya Ze, aku malah membuatmu semakin kesal," ujar Clara penuh sesal.


Zea membuang nafasnya dengan kasar lalu menatap wajah sahabatnya yang terlihat sangat menyesal. "It's okay, aku malah merasa lega karena melampiaskan kemarahanku kepada pelayan itu!' jawabnya sambil tersenyum.


"Kamu yakin?"


"Iya Ra, rasanya lega banget."


"Harusnya yang kamu siram itu ibu Felisya Ze," Clara terkekeh setelah mengusulkan ide jahatnya.


"Apa aku perlu menjambak rambutnya juga Ra?" Zea menimpali seraya tersenyum.


"Boleh juga!"


Kedua gadis itu lalu tertawa bersama-sama. Clara sedikit merasa lega, setidaknya Zea masih bisa tertawa malam ini.


Sementara itu setelah makan malam, Sam pergi ke rumah orang tua Zea, entah apa yang akan dia lakukan hanya saja dia ingin menjelaskan mengapa Felisya berada di rumahnya. Kedatangan Sam di sambut baik oleh kedua mertuanya


"Bagaimana kabar mama dan ayah?'' tanya Sam basa-basi.


"Sam juga baik ma."


"Syukurlah. Oh ya dimana Zea, apa dia tidak ikut?" tanya Indhi karena tak melihat putrinya.


"Bukannya Zea ada di rumah, Sam datang untuk menjemput Zea," Sam terpaksa berbohong karena perasaannya mulai tidak enak, bukankah seharusnya Zea sudah sampai di rumah?


"Zea pulang ke rumahmu sore tadi," Indhi mulai panik.


"Tidak ma, Sam baru pulang dan langsung kemari," Lagi-lagi Sam berbohong, Sam menyadari dia hanyalah pria pengecut yang bahkan tak mengakui kesalahannya.


"Lalu kemana Zea?" Indhi lalu meraih ponselnya dan menghubungi Zea.


"Zea di sini," ucap Zea, gadis itu masuk ke dalam rumah namun langsung pergi ke kamarnya.


"Sam permisi sebentar," Sam menyusul Zea ke kamarnya. Pria itu masuk tanpa permisi sehingga tanpa sengaja melihat Zea melepas pakaiannya dan menggantinya dengan baju tidur. Entah sengaja atau tidak, Zea terkesan cuek meski dia tau Sam tengah menatapnya tanpa berkedip.


"Ada apa uncle kemari?'' tanya Zea setelah selesai mengganti baju.


Sam masih berdiri di tempatnya, pria itu menelan salivanya dengan kasar, meski posisi Zea membelakanginya, namun Sam melihat dengan jelas lekuk tubuh istrinya dan membuat dadanya bergemuruh.


"Uncle tidak sibuk?" tanya Zea lagi karena Sam belum menjawab pertanyaannya.


"Ze, masalah Felisya, aku..." Sam menggantung kalimatnya, dia tak tau harus dari mana menjelaskan kepada istrinya.


"Ze tidak peduli Uncle mau menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi tolong sedikit hargai pernikahan kita dengan tidak membawa wanita lain ke rumah!" ujar Zea seraya menatap tajam suaminya, setelah hampir sebulan menikah baru kali ini Zea berani menatap wajah suaminya dengan kilat kemarahan di matanya.


"Felisya kerampokan dan..."


"Di luar banyak sekali hotel dan penginapan!" potong Zea dengan cepar.


"Aku tau aku salah Ze, tapi..."


"No, Uncle tidak tau kalau uncle salah. Seandainya Ze tidak datang, apakah uncle akan memberi tahu Ze bahwa bu Felisya menginap di rumah kita?" lagi dan lagi Zea memotong ucapan Sam, sepertinya gadis itu benar-benar marah.


"Maaf," hanya satu kata yang bisa Sam ucapkan.


"Sudah malam. Sebaiknya uncle pulang, bu Felisya pasti menunggu uncle di rumah!" dengan halus Zea menyindir suaminya, sungguh jika dia bisa dia ingin berteriak di depan suaminya.


"Kau tidak ingin pulang bersamaku?" tanya Sam dengan ragu.


"Tidak. Untuk apa aku pulang ke tempat yang tidak menginginkanku. Bukankah di sana sudah ada yang menggantikanku! Seharusnya sejak awal uncle menolak pernikahan ini sehingga uncle bisa menikah dengan bu Felisya!"


"Kami hanya teman Ze, aku hanya membantunya!"


"Teman?" Zea tersenyum getir. "Dari cara uncle manatapnya saja semua orang tau kalau uncle mencintainya! Silakan uncle pulang dan bersenang-senang, aku lelah dan ingin tidur!"


"Oke, aku akan pulang. Tapi besok aku akan datang dan menjemputmu!"


Sam lalu keluar dari kamar Zea, sementara Zea hanya diam dan tak menanggapi ucapan Sam. Zea hanya tidak ingin berharap lebih pada Sam. Entah apa yang akan terjadi besok, hanya saja untuk saat ini dia enggan melihat suaminya.


BERSAMBUNG...