Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Kesempatan kedua



Satu jam yang lalu...


Sam sedang menatap foto Zea di ponselnya, dia juga memegang foto USG calon anak mereka. Seketika Sam menyesali keputusannya, tak seharusnya dia menyeraah begitu saja. Seharusnya dia berjuang lebih keras lagi untuk meluluhkan hati Zea dan kedua mertuanya.


"Dasar pengecut!" maki Sam pada dirinya sendiri. Dia lalu memeluk foto istri dan calon bayinya. "Dady tidak akan menyerah nak, dady akan memohon agar bisa berkumpul bersama kalian lagi!"


Setelah yakin akan keputusannya, Sam memaksa keluar dari rumah sakit meski dokter belum mengizinkannya pulang. Sam terus mendesak sang dokter dan akhirnya dokter tersebut tak memiliki pilihan lain selain mengeluarkan Sam dari rumah sakit, namun dengan persyaratan Sam harus menandatangani dokumen yang menyatakan jika Sam menolak melakukan perawatan lanjutan.


Setelah berhasil keluar, Sam mencari taxi untuk membawanya ke rumah orang tua Zea. Sam sudah tidak sabar ingin bertemu istrinya. Kali ini dia tidak akan pergi sebelum Indhi dan Ega memaafkannya dan memberi kesempatan sekali lagi padanya.


Setengah jam kemudian, Sam sudah sampai di rumah orang tua Zea. Sam keluar dari taxi dan berlari ke rumah mertuanya. Sam menekan bel beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka.


"Sam," pekik Ega terkejut melihat Sam berada di depan rumahnya karena seharusnya pria itu masih ada di rumah sakit.


"Ayah, dimana Zea?" tanya Sam tanpa basa-basi.


"Zea dan mama menyusulmu ke rumah sakit Sam!"


"Mereka ke rumah sakit?"


"Ya, seharusnya mereka sudah sampai di sana!"


"Terima kasih yah, Sam pergi dulu!"


"Tunggu saja di sini Sam, mereka pasti akan pulang sebentar lagi!"


"Tidak yah, Sam harus menemui Zea sekarang!"


Sam berlari meski langkahnya masih terseak seok, dia segera mencari taxi, namun karena tak ada satupun taxi yang lewat, Sam memutuskan untuk naik ojek. Dengan begitu dia akan lebih cepat sampai. Namun di tengah jalan, Sam tidak sengaja berpapasan dengan mobil istrinya, Sam langsung saja menyuruh tukang ojek untuk putar balik.


Namun apesnya, ban motor yang di tumpanginya tiba-tiba pecah, mau tidak mau Sam harus turun dan mencari kendaraan lain. Karena tak menemukan taxi maupun ojek, Sam terpaksa berlari dengan sisa tenaga yang dia miliki.


Sementara itu Zea baru saja tiba di rumahnya karena tak menemukan Sam di rumah sakit. Zea nekat berlari setelah turun dari mobil. Namun saat tiba di rumah dia tak menemukam siapapun selain ayahnya.


"Ayah, dimana uncle?" tanya Zea dengan nafas memburu.


"Dia baru saja pergi Ze," jawab Ega dengan wajah bingung, dia belum mengerti situasi apa yang sedang terjadi mengapa mereka saling mencari satu sama lain. "Ayah bilang kau ke rumah sakit, mungkin dia kembali ke rumah sakit!"


"Ma ayo kita ke rumah sakit lagi!"


"Tidak Ze, mama takut kau kelelahan. Pikirkan bayimu. Kita tunggu saja di rumah, Sam pasti akan datang menemuimu!"


"Tapi ma."


"Tidak tapi-tapian Ze."


Zea menunduk lesu, dia lalu mengusap perutnya yang masih rata. "Semoga dady segera kembali ya nak!"


Zea terduduk lesu sambil memeluk perutnya sendiri, wanita hamil itu langsung berdiri saat mendengar ketukan pintu dan bel secara bergantian. Zea terseyum penuh harap, dia segera membuka pintu.


Zea begitu terkejut melihat Sam berdiri dengan nafas tersenggal-senggal dan keringat yang mengucur deras di kepalanya, pria itu juga terlihat pucat.


"Ze!" tiba-tiba Sam berlutut di kaki Zea dan membuat Zea terkejut. "Ze, aku mohon beri satu kesempatan lagi untukku, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakanmu lagi," ucap Sam sungguh-sungguh, dia bertekad untuk kembali membawa Zea ke dalam pelukannya.


Ega dan Indhi sudah berdiri di belakang Zea membuat Sam semakin memohon. "Mama, ayah, tolong percaya pada Sam sekali lagi. Sam sudah mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan Sam di masa lalu. Sam sadar jika Sam tidak bisa hidup tanpa Zea. Sam mencintai Zea, tolong izinkan kami hidup bersama!"


Ega tersenyum sekilas, dia lalu duduk dan membantu Sam untuk berdiri. "Ayo bangun, kita bicarakan semuanya sambil duduk!"


"Tidak yah. Sam tidak akan bangun sampai kalian memaafkan ku dan memberikan kesempatan sekali lagi. Tolong pikirkan bayi yang ada di perut Zea, dia tak bersalah, dia membutuhkan kedua orang tuanya!'


Zea menoleh ke samping di mana kedua orang tuanya berada, wanita hamil itu menatap Indhi dengan mata berkaca-kaca. "Ma, tolong maafkan uncle, biarkan kami bersama lagi!" ucap Zea memohon.


"Ayolah ma, biarkan anak-anak bersama lagi. Kau dengar sendiri, Sam sudah menyesali perbuatannya dan bersujud di kaki mu untuk memohon pengampunanmu," Ega ikut membujuk istrinya karena tak tega melihat anak-anaknya harus berpisah.


Indhi menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia lalu menunduk dan menatap Sam dengan tajam. "Hanya sekali ini Sam, jika kau berani menyakiti Zea lagi, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


Sam terpaku di tempatnya, saking senangnya dia kausampai tak bisa berkata-kata lagi.


"Jadi mama mengizinkan kami bersama lagi?" tanya Zea penuh harap dan Indhi hanya mengangguk.


"Terima kasih banyak ma," ucap Zea seraya memeluk ibunya.


Sam begitu terharu, bukannya mengucapkan terima kasih pria itu justru menangis dengan air mata yang begitu deras. Zea, Indhi dan Ega menatap Sam dengan wajah bingung, bukankah seharusnya Sam bahagia karena Indhi sudah memaafkannya.


"Kenapa kau menangis Sam?" tanya Ega.


Sam menghapus air matanya dengan cepat. "Sam sangat bahagia yah. Terima kasih banyak karena kalian sudah sudi memberikan kesempatan kedua untuk Sam," ujarnya dengan suara tersenggal-senggal.


"Tapi selama Zea hamil kalian harus tinggal di rumah ini, kau setuju kan Sam?" lanjut Indhi memberikan syarat pada menantunya.


"Sam setuju ma, kami akan tinggal di sini. Dengan begitu Sam tidak terlalu khawatir saat Sam sedang ke kampus karena ada mama dan ayah yang menjaga Zea," Sam menyetujui persyaratan ibu mertuanya, apapun akan Sam lakukan asal bisa bersama dengan Zea lagi.


"Sekarang bangunlah!"


Sam lalu bangun, dia ingin segera memeluk istrinya. Dia sangat merindukan Zea. Namun belum sempat dia berdiri dengan sempurna, tiba-tiba kepalanya terasa berputar, penglihatannya juga samar, detik selanjutnya dia ambruk dan terkulai di lantai, Sam kembali tak sadarkan diri.


"Uncle."


"Sam!"


Zea dan kedua orang tua nya panik, Ega segera memeriksa kondisi Sam. Karena kondisi Sam tidak terlalu parah, Ega meminta bantuan kedua pengawal Zea untuk membawa Sam ke kamar Zea.


Ega merawat menantunya dengan hati-hati, dia memasang infus dan menyuntikan vitamin ke dalam tubuh Sam.


"Biarkan dia istirahat!" ucap Ega lalu dia mengajak istrinya untuk keluar.


Zea duduk di tepi ranjang seraya menatap wajah suaminya yang memucat. "Cepat bangun uncle, Zea sangat ingin memeluk uncle."


BERSAMBUNG...