Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Kecelakaan



"Samuel," Teriak Indhi dengan keras, wanita paruh baya itu berjalan cepat menghampiri menantunya yang sedang di peluk wanita lain.


Sam menoleh saat mendengar teriakan Indhi, pria itu terkejut melihat Indhi dan Zea berada tak jauh darinya..Sam segera mendorong tubuh Felisya dan saat yang bersamaan, Zea dan Indhi sudah berada di hadapannya.


"Ze, aku bisa jelaskan," ujar Sam panik, baru saja dia menyadari perasaannya, dia tak ingin Zea salah paham.


"Keterlaluan kau Sam," ucap Indhi seraya menatap nyalang menantunya.


"Sam bisa jelaskan ma, kalian salah paham," kilah Sam membela diri.


Zea menahan tangan Indhi agar wanita itu berhenti bicara. Zea lalu menatap jijik ke arah Felisya. "Apa kau tidak memiliki harga diri, beraninya kau memeluk pria yang sudah beristri?"


"Kau yang tidak tau diri, sejak awal Sam adalah milikku tapi kau merebutnya dariku!" jawab Felisya dengan kilat amarah di matanya. Kali ini dia tak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengamuk di depan Zea, gadis itu sudah menghancurkan semua rencananya.


"Aku tidak merebut siapapun! Tolong berhenti mengganggu suamiku atau..


"Atau apa?" potong Felisya dengan cepat.


"Atau aku akan membongkar identitasmu yang sebenarnya. Kau pikir selama ini aku bodoh kan? Kau salah ibu Felisya. Selama ini aku diam karena ingin melihat sejauh mana kelicikanmu. Kau pikir aku tidak tau siapa dirimu. Wanita yang kerap kawin cerai hanya demi harta. Dan yang terkahir, bukankah suamimu meninggal dan semua harta warisannya jatuh ke tanganmu?"


Sam menatap istrinya penuh tanya. "Apa maksudmu Ze?" tanyanya dengan wajah menegang.


"Selama ini dia hanya menginginkan harta uncle. Wanita itu menjerat korbannya dengan cinta palsu, lalu menikahinya dan bercerai setelah menguras habis harta milik suaminya," jelas Zea panjang lebar.


Ya, selama ini Zea memang menyelidiki latar belakang Felisya. Niat awalnya, Zea hanya ingin memastikan jika Felisya adalah wanita yang tepat untuk Sam setelah dia pergi, namun Zea justru menemukan fakta mengejutkan tentang Felisya. Sejak saat itu Zea memutuskan untuk tidak menyerah, dia tidak rela memberikan Sam pada wanita licik seperti Felisya.


"Bohong Sam, jangan percaya dengan dia, dia berbohong!" kilah Felisya, dia tak menyangka jika Zea menyelidikinya selama ini.


"Terserah uncle percaya atau tidak, tapi Zea mengatakan ini karena Zea memiliki bukti. Uncle tidak lupa kan, dia bahkan mencemarkan nama baiknya sendiri demi memfitnahku."


Sam menatap Felisya dengan tatapan yang sulit di jelaskan, antara marah, kecewa, menolak percaya, semua itu tergambar jelas di mata Sam.


"Kau harus mempercayaiku Sam, aku melakukannya karena aku mencintaimu. Percayalah padaku aku mohon!" Felisya meraih tangan Sam namun segera di tepis oleh pria itu.


"Pergi dan jangan pernah mengganggu keluargaku lagi!" usir Sam dengan suara meninggi.


"Tidak Sam, jangan lakukan itu. Aku mohon," Felisya mengiba, dia bahkan berlutut di kaki Sam untuk memohon.


"Pergi!" teriak Sam dengan rahang mengatup.


Felisya lalu berdiri, wanita itu menatap Zea penuh kebencian. "Semua ini gara-gara kau gadis sialan," maki Felisya dengan amarah.


Felisya semakin murka saat Sam mengajak Zea pergi dari tempat itu, tanpa berpikir panjang Felisya menarik tangan Zea dengan kasar, saat menyadari jika Zea kini berada di ujung tangga, Felisya segera mendorong tubuh Zea hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tangga.


"Zea," Sam dan Indhi berteriak histeris melihat Zea terguling di tangga yang cukup curam, mereka segera berlari menghampiri Zea yang kini sudah tergeletak di tanah dan tak sadarkan diri.


"Ma, am-ambulans. Tolong hubungi ambulans!"pinta Sam dengan bibir bergetar..


Indhi mencoba bersikap tenang, sebagai seorang dokter dia harus bisa memberikan pertolongan pertama pada putrinya. Meski sekujur tubuhnya terasa lemas, namun Indhi berusaha memeriksa kondisi putrinya, dia mulai memeriksa tanda vital Zea.


"Ah bagaimana ini, Zea bertahanlah nak," ucap Indhi dengan air mata berlinang.


Indhi merasa seperti dejavu, dia kembali mengingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu saat Zean tergeletak tak berdaya dengan tubuh berlumur darah. Indhi tak ingin kejadian itu kembali terjadi, Indhi tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya.


Sementara itu semua orang yang berada di dalam restoran berlari keluar setelah mendengar teriakan Sam dan Indhi. Semua orang terbelalak melihat Zea tergelatak di jalan, karena tangga memang tangga yang berada di samping restoran adalah akses menuju parkiran restoran.


"Zea," Ega berlari menuruni tangga, dia lalu mencoba mengambil alih Indhi yang sedang memerikaa putrinya.


"Clara, panggil ambulas," titah Ega dan Clara segera mengangguk. Dalam kondisi seperti ini mereka tidak boleh mengangkat tubuh Zea sembarangan karena khawatir terjadi cedera yang lebih parah. Mau tidak mau mereka harus menunggu ambulan.


Sam melepaskan jasnya dan menutup tubuh Zea, pria itu tak bisa berkata-kata lagi. Sam menatap di ujung tangga, Felisya masih berdiri di sana dengan wajah panik.


"Dave, tanggap wanita itu dan bawa ke kantor polisi," ucap Sam memerintah, pria itu tak akan mengampuni Felisya jika sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.


Tanpa bertanya apapun, Dave segera berlari menaiki tangga dan mengejar Felisya yang akan melarikan diri. Untung saja di depan restoran ada supir dan kedua pengawal Zea. Dave berteriak meminta tolong kedua pengawal Zea dengan sigap menangkap Felisya.


"Ada apa tuan Dave?" tanya pak supir yang belum tau keadaannya.


"Zea jatuh dari tangga!" jawab Dave.


"Apa?" Pak supir sangat terkejut, pria tua itu barlari ke samping restoran, dia lalu menuruni tangga saat melihat kerumuman di bawah sana.


Pak supir terkejut melihat nona mudanya tergeletak tak sadarkan diri. Pria tua itu sangat khawatir saat melihat darah kaki Zea. Dia lalu teringat jika Zea sedang mengandung.


"Tu-tuan, nona Zea sedang hamil, sepertinya nona pendarahan," ucap pak supir dengan wajah panik.


"Hamil?" ulang Sam seraya menatap supir pribadi istrinya.


"Iya tuan, seminggu yang lalu saya menemani nona periksa. Nona meminta saya merahasiakannya karena nona ingin membuat kejutan!"


Semua orang semakin panik, untung saja ambulan segera datang, mereka segera membawa Zea ke rumah sakit terdekat. Mereka hanya bisa berdoa semoga Zea tak kehilangan banyak darah karena akan sangat bahaya jika hal itu terjadi.


Ega lalu menghubungi Rama yang berada di Amerika.


"Adikmu kecelakaan, segera cari pendonor secepatnya Ram!"


BERSAMBUNG...