
"Aku menyukaimu!!" ungkap Daniel tanpa ragu. Dia sendiri bingung mengapa tertarik dengan Clara sejak insiden kecelakaan yang mempertemukan mereka untuk kali pertama. Daniel memang pernah tertarik pada Zea, namun Clara bagai penawar baginya, gadia itu berhasil mengusik hatinya dan mengganggu tidurnya selama beberapa malam ini, apalagi setelah Clara menciumnya waktu itu, Daniel terus saja memikirkan gadis itu. Karena tak ingin terlambat dan menyesalinya, Daniel memutuskan mengungkapkan perasaannya.
Sementara itu Clara masih terpaku di tempatnya dengan jantung yang berdebar-debar karena untuk yang pertama kalinya seorang pria mengungkapkan cinta kepadanya. Clara sama sekali tak berani menoleh, namun Daniel justru menghampirinya dan kini berdiri di hadapannya.
"Kenapa kau hanya diam?" tanya Daniel seraya menatap Clara, tatapan teduh pria itu selalu bisa membuat Clara merasa tenang.
"Aku," Clara bingung harus menjawab apa, selama mengenal pria itu Clara memang tertarik pada Daniel namun dia yakin perasaan tertariknya belum sampai pada titik menyukai atau menaruh perasaan pada pria itu, karena kalau boleh jujur hati Clara masih di miliki oleh Dave. Bertahun-tahun mencintai Dave membuat Clara tak bisa membuang perasaannya begitu saja.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang Ra, aku akan menunggumu. Pikirkan baik-baik, aku serius dengan ucapanku!" ucap Daniel dengan lembut.
"Kau tau kan kalau aku mencintai Dave?"
"Ya, i know. Tapi dia tidak mencintaimu Ra. Aku akan membantumu melupakan perasaan cinta itu, aku akan menemanimu sampai kau muak mencintai Dave dan berpaling padaku," tegas Daniel dengan penuh percaya diri.
"Aku akan memikirkannya Dan!" jawab Clara meski masih sedikit ragu, bagaimana bisa pria hebat seperti Daniel menyukai gadis tomboy dan tidak bisa berhias seperti dirinya. "Aku permisi dulu, aku harus pulang," pamit Clara.
"Hm, hati-hati di jalan!"
Di dalam restoran Zea sedang duduk bersama suaminya sambil menikmati cemilan. Wanita hamil itu tak henti-hentinya bicara meski mulutnya penuh dengan makanan.
"Sejak kapan mereka dekat?" pertanyaan itu entah sudah yang ke berapa kali, Zea masih sangat penasaran karena Clara tak pernah mengatakan apapun sebelumnya.
"Sayang kenapa kau tertarik sekali dengan hubungan orang lain?" ucap Sam sambil mengupaskan jeruk untuk Zea, pria itu lalu menyuapi istrinya dengan mesra.
"Aku hanya penasaran saja. Daniel sangat romantis, secara terang-terangan mengakui Clara sebagai kekasihnya. Uuuuw, pria idaman," Zea mengepalkan tangannya dengan gemas, tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri karena merasa senang.
"Aku juga bisa romantis," sahut Sam tak mau kalah.
"Oh ya. Coba buktikan!"
Sam melihat ke kiri dan ke kanan, dia sangat mirip dengan pencuri yang akan melakukan aksinya.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di bibir Zea, wanita hamil itu membulatkan mulutnya karena mendapat serangan mendadak dari suaminya.
"Uncle, malu di lihat banyak orang," protes Zea dengan wajah bersemu malu.
"Biarkan saja, biar semua orang tahu kalau wanita cantik ini adalah istriku!" jawab Sam dengan sombongnya.
Zea mencubit pinggang suaminya karena gemas. "Sejak kapan uncle bermulut manis seperti ini?"
"Sejak aku menyadari kebodohanku sayang," tiba-tiba wajah Sam murung, dia hanya kembali teringat dengan masa-masa dia selalu menolak Zea.
"Aku tidak suka melihat wajahmu di tekuk begini. Aku sudah bilang sebelumnya kan, kita harus melupakan masa lalu dan melangkah menuju masa depan."
"Maaf sayang, aku hanya teringat betapa buruknya perlakuanku padamu. Sekarang aku ingin menebusnya, aku akan selalu membahagiakanmu!" ucap Sam tulus, pria itu lalu mengusap perut istrinya dengan lembut. "Dady janji akan selalu membahagiakan kalian," janjinya pada sang jabang bayi.
"Terima kasih uncle," Zea bersandar di pundak Sam, dia sangat bahagia karena berhasil mendapatkan cinta Sam.
Di tengah kemesraan mereka seorang karyawan datang memberi tahu Sam jika ada tamu yang ingin bertemu dengan pemilik restoran. Sam menyuruh Zea menunggu, kemudian Sam menemui tamu tersebut.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sam dengan ramah.
"Anda pemilik restoran ini?" pria bersetelan jas itu bertanya sambil menatap Sam.
"Ya. Perkenalkan nama saya Sam," Sam mengulurkan tangannya dan pria itu segera menyambutnya.
"Saya Victor," jawabnya sambil tersenyum.
"Begini tuan Sam, saya bekerja di salah satu perusahaan jasa, kebetulan atasan saya menyuruh saya untuk mencari jasa katering untuk makan siang. saya dan teman-teman yang lain sudah beberapa kali makan di restoran anda dan menunya cocok dengan kami. Apa tuan Sam bersedia mengirim katering makan siang untuk kami, tidak banyak hanya sekitar 200 bok setiap hari," jelas pria bernama Victor itu sambil menyerahkan kartu nama nya.
Sam meraih kartu nama itu, dia meeriksa dengan teliti karena dia tak boleh sembarangan menerima kerja sama dari orang yang belum di kenalnya. "Saya harus merundingkannya bersama chef dan manager restoran karena mereka yang mengurus restoran dan saya hanya memantaunya saja," jawab Sam dengan lugas.
"Baiklah tuan Sam saya akan menunggu kabar baik dari anda!"
"Terima kasih banyak tuan Victor atas kesempatan yang anda berikan, saya akan segera merundingkannya dan mengabari anda!"
"Kalau begitu saya permisi dulu!"
Setelah Victor pergi, Sam kembali menghampiri Zea yang masih sibuk dengan cemilannya. Sam duduk di sebelah Zea lalu mengusap bibir Zea yang kotor.
"Sayang sudah piring ke berapa ini?" tanya Sam tercengang.
"Empat," jawab Zea dengan santai.
"Sayang makan berlebihan juga tidak baik untuk kesehatanmu. Makannya nanti lagi ya, aku perlu merundingkan sesuatu.
Zea mengangguk, dia lalu menjilati jari-jari tangannya yang terkena saus Taco. "Ada apa uncle?"
"Ada perusahaan yang mengajak kerja sama, mereka ingin kita mengirim makan siang setiap hari, jumlahnya 200 bok," Jelas Sam.
"Lalu?"
"Aku sedikit ragu, entah mengapa aku merinding dengan caranya menatapku. Kita baru saja bertemu, tapi tatapannya seolah aku adalah musuhnya," ucap Sam menyampaikan kekhawatirannya.
"Kalau begitu tolak saja uncle!"
"Tapi ini kesempatan bagus untuk restoran sayang!"
"Coba uncle hubungi aunty Arum, minta tolong aunty arum untuk menyelidiki perusahaan tersebut!"
"Ya, kau benar. Terima kasih sayang!"
"Sama-sama. Apa boleh aku makan lagi?" tanya Zea dengan wajah yang di buat seimut mungkin.
Sam tersenyum sambil membelai pipi istrinya, namun detik berikutnya belaian itu berubah menjadi cubitan. "Tidak boleh, kau sudah makan terlalu banyak. Aku tidak mau kau sakit!" larang Sam dengan tegas, meski dia tak tega namun dia melakukannya demi Zea dan calon bayi mereka. apalagi Indhi sudah mewanti-wanti Sam agar mengontrol makanan Zea karena takut bayi mereka terlalu besar.
"Tapi aku lapar!" rengak Zea.
"Kau sudah makan semangkuk bubur ayam, semangkuk ketupat sayur, empat Taco dan lima buah jeruk sayang!"
"Tapi aku masih lapar!"
"Kita pulang sekarang. Aku akan membuatmu kenyang di rumah!"
"Benarkah? Uncle akan masak untukku?" Zea sangat semangat.
"Tidak!"
"Lalu bagaimana cara membuatku kenyang?"
"Boy yang akan membuatmu kenyang!"
"Uncleeeeeeeee!!!!!!
BERSAMBUNG...